
# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘
*****
Tomy memakai pakaian lengkap dan ditutupi oleh mantelnya. Ia lalu duduk di dekat Humaira dan langsung memakan makanan yang di siapkan Humaira ke piringnya.
"Sayang kau segera bersiaplah, kita akan segera kembali ke Indonesia"
Ujar Tomy sambil menghabiskan makanan.
"Loh, kenapa mas? Kita baru saja tiba disini?
Tanya Humaira kebingungan.
"Pakailah pakaian mu dulu, aku akan menjelaskannya nanti saat kita dalam perjalanan"
Tomy berkata sambil melihat arlojinya.
Melihat Tomy yang sangat serius dan seperti di buru waktu, Humaira pun menyimpan sesaat rasa ingin tahunya dan segera memakai pakaiannya.
Begitu Humaira selesai, Tomy segera merangkul isterinya menuju lobi untuk cek out dari Hotel tersebut.
Koper-koper kembali masuk ke dalam bagasi mobil, mobil pun segera melaju menuju bandara.
Humaira tidak berani bertanya lagi pada Tomy yang sepertinya dalam mode serius. Lelaki itu terus menelpon dengan menggunakan bahasa inggris yang tidak dimengerti oleh Humaira.
Karena sudah beberapa kali mendengar Tomy berbicara dengan kliennya dengan menggunakan bahasa asing, Humaira berpikir mungkin saja terjadi sesuatu di perusahaan Tomy, hingga lelaki itu sibuk berbicara ke sana kemari dengan menggunakan bahasa asing.
Didalam pesawat, Tomy terus menggenggam tangan Humaira dan beberapa menit sekali lelaki itu mencium tangan isterinya.
Humaira yang tidak berani bertanya hanya bisa memberikan dukungan pada suaminya dengan memeluk lengan lelaki itu dan meletakkan kepalanya di bahu tegap suaminya.
"Sayang... apapun yang terjadi aku selalu berada di sampingmu. Dan aku tahu, kau adalah wanita tegar yang mampu melewati cobaan sekeras apapun"
Ucap Tomy kembali mencium tangan isterinya.
"Kenapa mas, ada apa sebenarnya?"
Humaira pun memberanikan diri menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Perjalanan kita masih jauh, begitu tiba di bandara aku akan mengatakannya padamu. untuk sekarang istirahat dan tidurlah, kepalamu tadi cukup keras terbentur"
Ucap Tomy sambil mencium kening Humaira.
Lagi-lagi Tomy mengulur waktu. Namun Humaira yang patuh pada suaminya, tidak lagi bertanya lebih setelah mendengar ucapan lelaki itu. Ia pun mencoba memejamkan mata, meski hatinya gelisah tak menentu.
Melihat Humaira yang terlelap, Tomy menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan. Rasanya ia tidak sanggup membayangkan betapa sedih dan hancurnya perasaan wanita yang ia cintai di sampingnya itu.
Bagaimana aku mampu melihat kau mengeluarkan air matamu nanti. Apa yang harus ku lakukan agar kau tidak terlalu bersedih...
__ADS_1
*****
Hujan lebat mengguyur ibu kota ketika mereka tiba di bandara. Namun Tomy tidak menunda perjalanan mereka untuk segera sampai ke rumah besar.
Di dalam mobil, Romi memberikan berkas laporan kepada Tomy, lalu lelaki itu segera menjalankan mobil yang mereka tumpangi.
Setelah membaca sesaat, berkas itu lalu di letakkan di sampingnya. Lelaki itu lalu meraih tangan Humaira dan menggenggamnya dengan penuh perasaan.
"Sayang...., ada kabar yang harus aku sampaikan kepadamu..."
Deg, jantung Humaira berdebar tak menentu mendengar ucapan Tomy. Perasaan gelisahnya kembali muncul mana kala raut wajah Tomy mulai sendu dan seperti menahan sesuatu.
"Kenapa mas, ada apa?"
Humaira yang semakin gelisah semakin ingin tahu ada apa gerangan dan kenapa suaminya berwajah sedih seperti itu.
"Tabahlah...,karena apapun yang berasal dari-Nya akan kembali pula pada-Nya. Putra kita meninggal saat kita berada di Swiss. Ia...."
Tomy tak mampu meneruskan kata-kata.
"Danu?!Danu mas?!Danu kenapa mas?!!"
Lengan Tomy di cengkeram kuat Humaira yang terkejut mendengar apa yang di ucapkan Tomy barusan. Wanita itu terus mengulang-ulang pertanyaannya, seakan-akan ia salah mendengar dengan apa yang di katakan suaminya.
Rasa tak percaya dan tidak yakin apa yang baru saja ia dengar membuat Humaira linglung dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak..!! Nggak mungkin?! Itu nggak mungkin!! Mas pasti bohong?! Mas sedang bercanda kan?! Jawab mas... jawab?!! Hiks... hiks... bilang mas?!"
Humaira terus mendesak Tomy untuk menjawab pertanyaannya hingga mereka tiba di halaman rumah dengan sederat parkiran mobil yang berjejer memenuhi halaman rumah besar mereka.
Wanita itu terdiam melihat bendera kuning yang berkibar diterpa oleh angin di tengah hujan lebat yang membasahi bumi saat itu.
Bagai batu karang yang di hantam ombak besar, Humaira merasakan kesedihan yang begitu memilukan yang perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya dan berakhir di hati hingga membuat dadanya begitu sakit tak terdera.
Wajahnya memucat dengan seluruh tubuh yang gemetar menatap keramaian orang-orang yang berpakaian serba hitam melihat ke arahnya. Kakinya tak bisa digerakkan, seakan-akan kaku dan membatu disana.
Tomy yang tanpa kata perlahan merangkul Humaira untuk melangkah masuk ke dalam rumah besar mereka.
Disana, di balik kain kafan putih yang hanya tinggal menampakkan wajah kecil seorang bocah yang terbujur kaku tak bernyawa. Di keliling Umi dan beberapa kerabat serta orang-orang yang mengenal mereka, Danu siap di antarkan ke peristirahatan terakhirnya.
Humaira terduduk lemas, kakinya tidak lagi mampu melangkah mendekati jenazah anaknya yang sebentar lagi akan di makamkan.
"Danuuu...hiks...hiks..., ini ibu naaak... ibu pulaaang. Danu kenapa naaak...? Hiks... hiks... Danu kenapa sayaaang?"
Derai air mata tak terbendung lagi. Humaira menangis sejadi-jadinya memaparkan kesedihan hatinya kehilangan putra semata wayangnya. Putra yang selama ini menjadi kekuatan baginya, harta tak ternilai yang ia miliki kini telah tiada.
Humaira merangkak menguatkan dirinya mendekati putranya.
"Danuuuu.....hiks...hiks... ini ibu naak? Danu sayang ibu kan nak...?"
__ADS_1
Humaira membelai wajah Danu yang tampak tersenyum walau matanya terpejam.
"Sabarlah Hum, ikhlaskan.. Danu sudah menjadi penghuni surga yang akan mendoakanmu dari sana. Istighfar Hum, jangan disesali ikhlaskan..."
Ujar Umi yang sambil menangis memeluk Humaira yang terus terisak tangis.
"Kenapa kak? Kenapa Danu...?Hiks...hiks..."
"Istighfar Hum, ikhlaskan. Allah... lebih menyayanginya hingga ia di panggil duluan"
Ujar Umi mencoba memberi kekuatan bagi Humaira.
"Hatiku hancur kak, rasanya aku sudah nggak sanggup lagi... hiks... hiks..."
"Astagfirullah hal adzim.. ngucap Hum, nggak baik berkata begitu"
"Danu... kak... Danu... hiks... hiks..."
"Aku tahu kau sangat bersedih Hum, tapi percayalah... Danu lebih tenang sekarang disana"
Humaira tak menjawab ucapan Umi. Ia terdiam dan tubuhnya tiba-tiba terkulai begitu saja.
"Astagfirullah.. Hum... Hum... sadar Hum. Pak Tomy?"
Umi melihat ke arah Tomy. Tomy yang melihat isterinya pingsan lalu mengangkat tubuh Humaira menuju kamarnya. Disana seorang pelayan di tugaskan untuk menjaga Humaira selama proses pemakaman berlangsung.
Tomy lalu menghampiri Nia yang dalam kondisi drop di kamar mereka.
Wajah Nia semakin pucat ditambah mata yang bengkak menangis sedih atas meninggalnya Danu. Wanita itu semakin sedih mana kala Tomy menghampirinya dan memeluk erat tubuh yang ringkih itu.
"Aku gagal, aku gagal menjaganya... hiks... hiks..."
"Sudahlah sayang, ini sudah takdir. Ikhlaskan Danu..."
Ujar Tomy yang memeluk Nia sambil menahan air mata di pelupuk matanya.
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.
Terima kasih 🙏