
Debaran kuat di jantungnya kian terasa setelah Tomy mencium keningnya.Humaira memegang dadanya dan merasakan napasnya yang tidak normal. Wanita itu terpaku dan duduk tersandar di lantai di balik pintu kamarnya.
Perasaan apa ini? Apa aku juga menyukainya? Nggak!! Sadar Humaira kamu punya pengalaman pahit untuk jadi pelajaranmu. Apa yang kamu capai saat ini udah lebih baik, dan jangan libatkan cinta disini. Cinta itu bulsit...
Mungkin benar hati Humaira mulia mencair dan mulai menyukai Tomy. Namun lintasan kenangan masa lalu nya selalu muncul hingga mengembalikan keteguhan hatinya untuk tidak mencintai siapapun.
*****
Pagi yang di sambut dengan sinar matahari serta suara kicauan burung melengkapi suasana santai waktu itu dengan secangkir kopi dan sandwich. Tak banyak kata yang Humaira ucapkan ketika menemani Tomy menikmati sarapan paginya. Wanita itu masih merasa canggung atas kejadian tadi malam antara Tomy dan dirinya. Lelaki yang sibuk bermain Smartphone itu mengotak-ngatik hapenya sambil tersenyum sendiri tanpa menyadari rona wajah Humaira yang mulai memerah.
Humaira yang hanya bisa memperhatikan tidak ingin mengetahui apa yang membuat tuannya tersenyum seperti itu. Menurut Humaira, ia tidak perlu ikut campur dalam hal apapun urusan tuannya.
"Aku sudah menikah, dan sekarang sedang berbalas pesan dengan isteriku"
Tommy membuka obrolannya pagi itu bersama Humaira sambil meliriknya.
Humaira yang sudah mengira Tomi sudah menikah bahkan mau di jadikan wanita simpanan, entah mengapa ada rasa sedikit kecewa dalam hatinya mendengar penuturan lelaki itu.
"Apa tuan nggak merasa bersalah telah menduakan isteri tuan?"
Humaira mulai memberanikan diri untuk bertanya pada Tomi. Tomy menatap lembut Humaira lalu tersenyum.
"Dia sudah tahu"
Mendengar jawaban dari Tommy, Humaira semakin bingung dibuatnya. Tatapan mata Humaira kepada Tommy menandakan wanita itu ingin mengetahui, mengapa istrinya sudah tahu namun Tomy masih saja terus menemuinya.
"Apa kau ingin tahu bagaimana dia bisa tahu dan aku masih terus saja menemui mu?"
"Oh... bagaimana?"
"Bagaimana aku bisa tahu?"
Wajah Humaira yang kebingungan tampak mengemaskan di mata Tomy.
"Kapan-kapan kita akan menemuinya"
Ujar Tomy santai.
"Apa?"
Humaira terkejut, tak percaya.
Apa dia benar-benar serius padaku sampai seperti ini?
Kata-kata Tomy membuat Humaira bingung dan juga penasaran. Sejauh yang ia tahu, jarang sekali ada wanita yang mau di madu. Bahkan ia sendiri masih merasakan sakitnya pengkhianatan meski itu telah lewat beberapa tahun yang lalu.
"Nanti kau akan tahu"
Ujar Tomy lalu menghabiskan sarapannya dan bersiap menuju ke kantor.
Pekerjaan yang selalu menumpuk telah menunggu Tomy di ruang kerjanya. Romi yang selalu bersamanya telah siap dengan laporan serta scedul tuannya hari ini.
"Jam 10 pagi ini, akan ada rapat bersama klien kita dari Sulawesi. Lalu jam 11, pidato Kunjungan Kerja pada pagawai akan mengawasi kinerja pegawai yang berada di Australia. Lalu jam 12.30 makan siang bersama petinggi. Jam 14.30 Kunjungan ke kantor cabang Di Bogor"
Jelas Romi membacakan scedul ketika mereka berada dalam satu mobil.
__ADS_1
"Tunda kunjungan ke Bogor hari ini ke besok. Lalu wakil kan pidatoku. Jemput Humaira jam 1 siang, dan bawa ke restoran Francis. Aku akan menunggunya disana".
"Baik pak"
Romi yang duduk di kursi depan bersama supir pun sibuk mengatur ulang jadwal tuannya. Dengan cekatan ia menghubungi segala pihak terkait atas perubahan jadwal yang di minta sang tuan.
Begitu tiba di gedung tinggi berantai 30, Tomy segera melangkah dengan cepat menuju lift yang langsung membawanya ke depan ruangnya. Lift khusus itu hanya bisa di pergunakan oleh Tomy dan beberapa pejabat tinggi pemegang saham disana serta kepala masing-masing divisi yang berkerja di kantor itu.
Semua kepala menunduk hormat ketika Tomy melintas depan mereka. Raut tegas dan wibawa yang berkarisma membuat semua pegawai segan dan hormat pada Tomy. Sosok pendiam yang jarang menampakkan senyumnya itu tetap menjadi idola bagi kaum hawa di kantor itu meski Tomy telah memiliki isteri.
Hampir sebagian pegawai mengetahui kalau sang isteri miliki penykit. Namun mereka tidak mengetahui dengan pasti penyakit apa yang di derita oleh isteri direktur mereka. Mereka hanya berasumsi jika Nia sedang mengurangi kegiatan karena kondisi penyakitnya.
Ibu direktur yang ramah dan murah senyum adalah sosok Nia dimata mereka. Nia adalah sekretaris Tomy pada masa mereka belum menikah. Jadi dirinya tidak asing lagi bagi pegawai kantor disana.
"Maaf nona, ini lift khusus. Silahkan menggunakan lift di sebelah sana"
Ujar penjaga yang menahan seorang wanita yang mencoba menerobos masuk lift yang sedang di gunakan Tomy.
"Tomy kau lupa aku?"
Kata wanita itu ketika lift hampir tertutup. Namun lift itu terus menutup, ucapan wanita itu di abaikan oleh Tomy dan asistennya. Lift pun beranjak naik ke lantai 29.
"Siapa?"
"Tidak tahu pak?"
"Buat janji jika ingin bertemu, lalu jika tidak penting abaikan"
"Baik pak"
Pintu lift pun terbuka, Tomy segera memasuki ruangannya dan segera memeriksa laporan-laporan kerja bawahannya sebelum memberikan tanda tangannya.
*****
Humaira berdandan cantik dan menggunakan pakaian casual siang itu. Supir Tomy telah menunggunya di depan pintu untuk membawanya ke restoran yang di perintahkan Tomy.
Setelah menempuh 18 menit perjalanan, Humaira pun tiba di restoran yang menyimpan kenangannya bersama orang tuanya dulu ketika ia masih remaja. Wanita itu berdiri menatap pintu restoran sebelum masuk kesana. Ada perasaan senang dan sedih sekaligus memenuhi isi hatinya.
"Silahkan nona, anda sudah di tunggu tuan"
Kata supir yang mengantarkan Humaira.
Humaira menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dengan tenang ia pun memasuki pintu restoran itu dan menuju dimana Tomy berada di dampingi oleh pelayan restoran.
Tomy menyambutnya dengan hangat lalu menarik kursi untuk wanitanya itu. Tak beberapa lama pelayan datang membawa pesanan yang telah disiapkan Tomy lebih dulu. Mereka lalu menikmati waktu makan siang mereka sambil mengobrol santai.
"Kau suka?"
Tanya Tomy memandang Humaira dengan lembut.
"Iya, terima kasih tuan..."
"Kalau begitu kita akan sering kemari"
Ajak Tomy lembut pada Humaira.
__ADS_1
"Tempat ini punya kenangan untukku"
Kata Humaira sambil tersenyum.
"Benarkah...?"
Tomy menatap serius Humaira sambil memotong beaf nya.
"Dulu... papa beberapa kali membawa kami kesini jika ada acara keluarga. Sebelum semua itu terjadi"
Sorot mata Humaira seakan bersedih walau sudah di tutupi dengan senyumannya. Tomy pun tidak ingin bertanya sampai Humaira mau bercerita sendiri.
"Kalau begitu, kita juga akan membuat kenangan indah disini. Minggu depan aku akan mengenalkan mu pada isteri ku"
"Hah?"
Humaira terkejut mendengar penuturan Tomy.
"Itu permintaan isteriku"
"Apa?!"
Sekali lagi Tomy membuat kejutan yang membuat Humaira semakin bingung.
"Aku ingin kita menjalin hubungan serius, kau tidak mau kan selamanya menyandang status yang tidak jelas?"
"A... a... aku..."
"Percaya padaku, emmm...?"
Tomy mencoba meyakinkan Humaira sambil menggenggam tangan wanita itu. Humaira tidak bisa berkata apa-apa selain mengikuti alur yang ada.
Mereka lalu melanjutkan menikmati makananan mereka. Setelah itu, Tomy membawa Humaira ke sebuah Mall terbesar di ibu kota.
Memasuki store-store yang ada di Mall, Tomy tak pernah melepaskan genggamannya pada jemari Humaira. Sekalipun banyak mata yang menatap mereka dengan kagum dan terpesona, bahkan ada yang mengira jika mereka adalah artis yang sedang berbelanja.
Wajah Humaira merona tiap kali jari tangan Tomy kadang mempererat genggaman mereka. Jantungnya berdebar tak menentu mana kala matanya dan Tomy saling bertemu dengan tatapan mesra. Perlakuan manis Tomy terus membanjiri dirinya. Sikap dewasa Tomy membuat Humaira merasa nyaman dan membuat dalam hatinya.
Ya Allah... apa aku sedang jatuh cinta? Tapi aku takut untuk jatuh cinta lagi.
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.
__ADS_1
Terima kasih 🙏