Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Wanita Pilihan


__ADS_3

# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘


*****


Dua hari kemudian, setelah pertemuan keluarga yang di buatnya berantakan, lagi-lagi bibi Tomy datang ke kantornya bersama seorang wanita yang berusia 38 tahunan. Berbeda dengan usianya, wanita itu tampak masih muda berkat perawatan rutin yang ia jalani.


Mereka menaiki lift khusus eksekutif dan langsung menuju lantai 29 ruangan Tomy. Begitu lift terbuka dengan pasti wanita paruh baya itu melangkahkan kaki menuju ruang Tomy tanpa melapor lagi pada Sela, sekertaris Tomy.


Yuni yang melihat ke datangan wanita itu menundukan kepala.


"Pagi bu Kartika...?"


Namun Yuni heran melihat wanita paruh baya itu langsung saja mendekati pintu ruangan Tomy tanpa menanyakan keberadaannya lebih dulu.


"Bu maaf, bapak sedang tidak ada di tempat, beliau sedang rapat, jadi ibu bisa menunggu di ruang tamu di sebelah sana"


Yuni langsung menahan bibi Tomy ketika tangannya hendak meraih gagang pintu. Wanita itu mencoba mengarahkan untuk menunggu khusus di ruang tamu.


"Lancang kamu! Kamu nggak tahu siapa aku?!"


"Saya tahu bu....tapi maaf untuk menunggu silahkan di ruangan sebelah sana..."


"Ck... minggir!"


Tubuh Yuni di dorong ke samping hingga wanita itu nyaris jatuh.


Bibi Tomy dan seorang wanita itu pun lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.


Yuni merasa serba salah. Dengan statusnya yang hanya bawahan ia tidak bisa bertindak tegas terhadap bibi Tomy. Mau tidak mau Yuni harus mempertanggung jawabkan kelalaiannya dalam bekerja.


35 menit kemudian Tomy di dampingi Romy datang dan hendak masuk ke ruangannya.


Yuni segera melaporkan bahwa dua orang tadi sedang menunggunya di dalam.


"Maaf pak, di dalam ada bu Kartika beserta tamunya. Beliau sedang menunggu di dalam. Saya sudah mengarahkan untuk menunggu di ruang tamu, tapi beliau tidak mau"


"Baiklah, kembali ke mejamu"


Ucap Tomy datar.


"Maaf pak?"


Yuni menunduk hormat lalu kembali ke meja kerjanya.


"Mau apa lagi dia?"


Gumam Tomy pelan.


Romi lalu membukakan pintu untuk Tomy, setelah Tomy masuk, ia kembali menutup pintu itu dan menunggu di luar ruangan.


"Tomy... rapat mu lancar?"


Tanya bibi Kartika tersenyum berbasa-basi.


"Ada perlu apa bibi kemari?"


Ucap Tomy datar sambil melirik sekilas wanita yang datang bersama bibinya.


"Kau memang nggak pernah berbasa-basi. Aku kesini ingin mengenalkan mu pada Sela"


Wanita yang di maksud sang bibi pun berdiri mengulurkan tangan pada Tomy.

__ADS_1


"Kamu nggak ingat aku? Aku Sela juniormu waktu di Australia"


Tomy menjabat uluran tangan itu.


"Maaf aku tidak ingat. Dan sebaiknya bibi langsung ke intinya karena aku harus bertemu klien 17 menit lagi"


Ucap Tomy setelah melepaskan jabatan tangannya sambil melirik arlojinya.


"Ck...!"


Raut wajah bibi Kartika terlihat tidak senang dengan ucapan dan sikap Tomy.


"Lihatlah Sela baik-baik?! Dia dari keluarga terpandang, memiliki pendidikan yang bagus dan dia sangat cantik. Aku rasa dia lebih pantas menjadi calon isterimu dari pada wanita itu?!"


Tomy memijit keningnya mendengar ucapan bibinya itu. Lelaki itu berusaha untuk tetap sabar menghadapi kakak kandung dari ayahnya itu.


"Bukankah aku sudah mengenalkan bibi siapa calon isteriku?!"


Tegas Tomy tanpa peduli perasaan Sela yang mendengar percakapan mereka.


"Tinggalkan dia?! Dan menikahlah dengan Sela?!"


"Bibi, berapa kali aku harus katakan? Jangan campuri kehidupanku! Apa bibi masih tidak mengerti juga?!"


"Aku tidak suka wanita mura*han itu! Sela 1000 kali lebih baik darinya!"


Jawab sang bibi dengan tatapan sinis membayangkan Humaira.


"Apa kau bisa mengaji?"


Tanya Tomy langsung menatap Sela dengan tatapan tajam.


"Hah, apa? Untuk apa aku harus bisa mengaji?!"


Tomy meringkas pembicaraan itu, ia lalu berdiri dan mengambil tas kerjanya untuk bersiap pergi menemui kliennya.


"Hah, Tomy... jangan kurang ajar kamu padaku?!"


"Maaf bi, aku Sibuk. Romi?! Antar mereka ke pintu keluar?!"


Ucap Tomy setengah berteriak memanggil Romi yang berada di luar pintu.


Romi segera membuka pintu mendengar namanya dipanggil.


"Silahkan bu?!"


Ucap Romi dengan wajah tegas karena peka akan emosi atasannya yang mulai tidak suka keadaan itu.


"Ck... aku nggak akan pernah menyetujui pernikahanmu dengan wanita itu. Ingat itu Tom?! Ayo Sela?!"


Dengan wajah marah dan kesal mereka terpaksa meninggalkan ruangan itu. Tetapi, ada sesuatu yang di lakukan Sela tanpa sepengetahuan Tomy dan bibinya. Wanita itu terlihat santai dan tetap tersenyum pada Tomy meski Tomy tidak mau melihatnya.


"Pak, kita pergi sekarang?"


Tanya Romi setelah mengantarkan bibi Kartika dan Sela menuju lift.


"Baiklah"


Tomy kembali bersikap tenang seperti biasanya.


"Jangan biarkan bibiku memasuki ruanganku tanpa ijin lagi. Tambah dua orang penjaga untuk di depan ruanganku"

__ADS_1


"Baik pak. Tapi wanita tadi sepertinya wanita yang mau menerobos masuk satu lift dengan bapak waktu itu?"


Ujar Romi yang ingat wajah wanita tadi.


"Benarkah? Aku tidak ingat karena dia tidak penting"


"Ting!"


Pintu lift pun terbuka mereka pun segera masuk untuk turun ke lantai bawah dan pergi bertemu klien di tempat janji temu mereka.


*****


Humaira masih tampak sedih sepulang dari acara perkenalan keluarga Tomy dua hari yang lalu. Wajah sendunya itu menarik perhatian Umi yang cemas melihat wanita itu dengan raut wajah begitu.


"Kenapa Hum? Harusnya menjelang hari pernikahanmu kamu harus terlihat bahagia. Aku suka melihatmu yang selalu tersenyum seperti waktu itu. Apa ada masalah?"


Tanya Umi yang mencoba untuk berbagi apa yang di rasakan oleh Humaira.


"Kak... apa sebaiknya aku batalkan saja pernikahanku?"


"Loh?! Kenapa?"


Umi bingung dan sedikit terkejut mendengar ucapan Humaira.


"Bibinya mas Tomy nggak menyukaiku kak"


Jawab Humaira bersedih.


"Dalam sebuah keluarga tentu ada yang menyukai kita dan ada juga yang nggak. Yang nggak itu adalah tantangan bagi kita, bagaimana cara kita mengambil hatinya agar ia tahu bahwa kita memang pantas menjadi bagian dari keluarga itu. Menikahi pasangan kita berarti kita harus siap menerima apa pun dan bagaimanapun keluarga dari pasangan kita. Bersabarlah...,berdoa dan berusaha agar kita mampu dan bisa hidup rukun bersama keluarga"


Tutur Umi sambil menggenggam tangan Humaira lembut. Wanita itu berusaha mengembalikan semangat Humaira untuk menikah lagi.


Umi takut jika Humaira menolak pernikahan ini, bisa saja wanita itu tidak akan lagi mau menerima lelaki lain yang mencoba untuk serius padanya. Karena Humaira sulit membuka hati untuk lelaki, dan belum tentu lelaki lain sanggup menghadapi Humaira yang sangat tertutup itu.


Humaira memeluk Umi.


"Apa jadinya aku dan Danu tanpa kakak. Sepertinya aku hanya menjadi beban hidup saja"


"Jangan begitu Hum, adanya kamu dan Danu adalah berkah bagiku memiliki sebuah keluarga. Kamu lah yang berjuang keras selama ini menaikkan taraf kehidupan kita. Jangan ada pikiran tentang beban, aku ikhlas merawat dan menjaga kalian. Dan kamu pun harus memiliki pikiran yang sama. Lakukan segalanya dengan ikhlas, baik aku, kamu, Danu kita semua bukanlah beban. Tapi kita adalah keluarga, keluarga yang selalu bersama saat suka maupun duka"


Umi menepuk-nepuk pelan punggung Humaira yang memeluk erat tubuhnya.


Rasa sayang di antara keduanya begitu kuat walaupun mereka tidak memiliki ikatan darah. Mereka saling menutupi kekurangan satu dan yang lain dan membagi tugas bersama untuk menciptakan keseimbangan dalam keluarga kecil mereka.


Orang lain seperti keluarga dan keluarga seperti orang lain. Mungkin ada beberapa orang yang mengalami hal demikian. Semua itu tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.


✨Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like 👍


* Komen


* favorit ❤️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih 🤗


✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.

__ADS_1


Terima kasih 🙏


__ADS_2