
Yasmin dan Dika langsung mendapatkan penanganan cepat di UGD (unit gawat darurat). Terutama Yasmin yang mendapat penganiayaan yang paling parah.
Humaira menangis dalam pelukan Tomy melihat keadaan Yasmin yang mengenaskan. Wajahnya penuh sayatan serta lehernya yang butuh jahitan. Tubuhnya penuh memar disana sini dan lebih parah lagi, ia mengalami patah di tulang rusuk sebelah kiri akibat tendangan membabi buta yang di lancarkan Rima, serta tusukan di bahunya yang hampir menembus ke belakang.
Dokter yang menangani kedua pasien itu menemui Tomy untuk konsultasi masalah pengambilan tindakan.
"Saudara Dika tidak memiliki banyak luka. Hanya beberapa memar di tubuhnya serta beberapa sayatan di wajahnya. Tetapi saudari Yasmin, sepertinya selain luka fisik yang terlihat, ia juga mengalami keguguran dan trauma psikologis"
Deg, jantung Tomy terenyuh mendengar kata keguguran. Tangannya mengepal geram, namun ia berusaha tetap tenang di hadapan isterinya yang langsung sesugukan menangis mendengar penjelasan dokter.
"Dokter, lakukan penyembuhan terbaik yang dokter bisa. Saya percayakan kepada dokter. Dan mengenai wajah Dika, dia meminta untuk di jahit saja"
"Tidak di operasi?"
"Tidak, dia ingin tetap seperti itu"
"Baiklah...,kami akan berusaha semaksimal mungkin"
"Tolong dok, terima kasih"
Ujar Tomy lalu mereka segera meninggalkan ruangan dokter karena dokter tersebut harus segera menangani kelanjutan pengobatan Yasmin dan Dika.
Humaira duduk di samping Tomy menunggu Yasmin yang sedang di operasi.
"Bagaimana keadaan di sana Rom?"
"Polisi sedang menginterogasinya pak"
"Lanjutkan, dan kalau bisa dapatkan hukuman terberat untuknya"
"Baik pak"
Begitu lah perintah Tomy pada Romi lewat panggilan singkatnya di telepon.
Kemudian lelaki itu mencoba menghubungi keluarga Yasmin untuk mengabari berita duka itu.
Terdengar suara ibu Yasmin bergetar mendengar musibah yang menimpa anak dan menantunya. Ia pun mengatakan akan segera ke Jakarta untuk menemui mereka.
Tomy mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Peristiwa yang menimpa Dika dan isterinya cukup membuat Tomy sedih. Apalagi Tomy tahu mereka berdua sangat mengharapkan kehadiran buah hati mereka.
"Aku terlambat menyadari keganjilan sikap Dika. Aku terlambat datang di saat dia butuh aku sebagai seorang abang"
Gumam Tomy merasa bersalah.
__ADS_1
Hal itu di dengar Humaira dan membuat wanita itu meneteskan air matanya. Ia mengambil wajah Tomy dengan kedua telapak tangannya, dan mengusap lembut wajah sedih itu dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan berkata seperti itu mas, mas nggak terlambat sedikit pun. Jika saja mas nggak datang, mungkin saja Yasmin lebih lama baru bisa di tolong atau bisa saja dia dibunuh oleh gadis jahat itu. Allah sudah mengatur semuanya. Dibalik semua ini Allah sudah menyiapkan sesuatu yang indah tanpa kita ketahui. Seperti kata pepatah, habis gelap terbitlah terang... "
Tomy meraih tangan Humaira yang memegang wajahnya. Ia menciumi kedua tangan itu dengan penuh rasa sayang.
Tak terbayang bagi Tomy jika Humaira yang mengalami hal yang menimpa Yasmin. Lelaki itu mengambil pelajaran agar tidak memberikan kesempatan pada wanita lain untuk terpesona padanya. Dan ia pasti akan langsung melakukan tindakan tegas jika sampai melukai isterinya.
*****
Tiga jam menunggu di depan pintu ruang operasi akhirnya Yasmin di pindahkan ke ruang ICU. Kondisinya sedang dalam masa kritis. Dokter mengatakan Yasmin harus berusaha melewati masa kritisnya malam ini. Jika tidak, maka mereka akan kehilangan Yasmin selamanya.
Tangan Humaira dingin, ia ambruk di pelukan Tomy setelah mendengar apa yang di katakan dokter pada mereka.
Tomy meminta Asep menjemput Humaira untuk di bawa pulang kerumah karena kondisinya yang terpukul mendengar kondisi Yasmin.
Humaira pun pulang dengan Asep, lalu Tomy menjenguk Dika yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Bang, bagaimana kondisi Yasmin?"
"Dia di ICU sedang tidak bisa di jenguk. Ada perawatan yang berjaga di sana. Kau tenanglah..."
"Bang, di depan mataku bang dia... hiks... dia hiks...hiks..."
"Sudahlah, dia sedang mendapat perawatan sekarang"
Ujar Tomy sambil menepuk pelan pundak Dika.
Tomy berpikir untuk menunda memberitahukan kepada Dika perihal keguguran Yasmin. Melihat Dika yang masih sedih akan kondisi isterinya.
"Bagaimana keadaannya bang?"
"Selain luka-luka yang dapat terlihat, isterimu mengalami patah tulang rusuk di sebelah kiri. Dan kemungkinan dia bisa mengidap trauma akibat kejadian itu. Dan dia sedang dalam masa kritis"
Dika menutup wajahnya dengan sebelah tangannya sedih bercampur marah.
"Harusnya dari dulu aku penjarakan saja wanita gila itu! Atau aku bunuh sekalian supaya nggak ada lagi kejadian seperti ini!"
"Tahan emosimu, aku sudah mengurus semua itu. Dia tidak akan keluar dari jeruji besi itu. Percayalah..."
"Aku ingin menemui Yasmin..."
Dika mencoba mencabut selang infusnya dan berusaha bangun untuk pergi menemui Yasmin.
__ADS_1
"Hentikan Dika, kita tidak bisa masuk kesana. Berdoa saja minta kepada Yang Maha Kuasa agar Yasmin dapat melewati masa kritisnya malam ini"
Dika menatap abangnya dengan sedih. Seperti tatapan anak kecil yang minta di peluk oleh ayahnya.
Tomy pun mengakui dalam hatinya bahwa dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Dika apa lagi sampai adiknya itu terbunuh. Ia pun memberikan pelukan kasih sayang kepada Dika.
"Tenang lah dan berdoa saja. Dan aku bersukur kau baik-baik saja"
Malam itu, Tomy memutuskan untuk menunggu Dika dan Yasmin hingga keluarga Yasmin datang.
Mereka menghabiskan malam itu dengan mendengarkan cerita Dika, bermula dari kepulangan Dika dan Yasmin dari liburan.
"... lalu saat aku sedang berbicara dengan Romi, aku melihat dia menyayat leher Yasmin. Entah apa lagi salahku, aku nggak mengerti?! Aku mendekatinya secara perlahan, lalu saat Yasmin semakin melemah, kepa*rat itu nggak kuat menahan tubuh Yasmin sehingga dia sedikit lengah. Melihat ada kesempatan, aku langsung bergegas mencoba menghabisinya. Dia mencoba menghindar dari amukanku. Dia melempari ku dengan kursi besi dan mengenai jendela hingga pecah. Aku bersukur jendela itu pecah, karena dari sana Romi bisa masuk beserta yang lainnya. Tapi sekali lagi aku lengah, dia mendekati tubuh Yasmin dan hendak menancapkan pisau ke tubuh Yasmin. Aku panik dan berusaha melarikan tubuh Yasmin. Tapi dia berhasil melukai bahu Yasmin. Dan kembali mengancamku akan melukai Yasmin kembali. Lalu abang datang dan semua berakhir"
"Besok polisi akan datang memberikan mu beberapa pertanyaan. Cerita semua kepada mereka, juga kasus-kasus sebelumnya. Kali ini jangan biarkan dia dapat menghirup udara segar!"
Tak terasa mereka menghabiskan waktu bercerita hingga mendekati adzan subuh.
"Tok... Tok...! Permisi, maaf pak..., ibu Yasmin baru saja sadar dan sudah bisa di jenguk. Tapi hanya boleh satu-satu ya pak?"
"Alhamdulillah..." (ucap Tomy dan Dika serempak)
"Bang, aku ingin menemuinya?!"
"Baiklah aku antarkan. Kau mampu berjalan kan? Biar aku pegangkan tiang infusmu"
Mereka lalu berjalan perlahan menuju ICU dimana Yasmin di rawat. Sembari berjalan membawa tiang infus, Tomy ragu untuk mengatakan satu lagi kebenaran kepada Dika. Namun ia tidak mau hal itu suatu hari mengganggu hubungan mereka. Tomy pun mencoba untuk menyampaikan berita duka itu.
"Dik, ada satu hal lagi yang belum aku sampaikan padamu. Dan aku harap, kau bisa tabah dan sabar, serta jangan tujukan kesedihan di hadapan isterimu"
Dika bingung dan sedikit takut akan apa yang disampaikan oleh Tomy. Karena tidak biasanya Tomy berkata demikian.
"Apa itu bang?"
"Dokter mengatakan, dalam kejadian itu... isterimu juga mengalami keguguran dalam usia kandungan baru satu minggu"
"Apa?! Yasmin hamil dan keguguran? Innalillahi wainnailaihi roji'un..."
Lagi-lagi mata Dika berkaca-kaca dan merasa sangat terpukul. Buah hati yang sangat mereka tunggu harus pergi sebelum mereka ketahui.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
__ADS_1