Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Terancam


__ADS_3

"Seperti itu lah... masa laluku. Dan Juan nggak tahu saat aku meninggalkan rumah itu, aku sedang mengandung anaknya. Ketika itu pun aku nggak tahu kalau aku lagi hamil. Aku kira muntah-muntah itu karena aku nggak mengisi perut ku"


Tomy memeluk Humaira dengan rasa sayang.


"Mulai sekarang, anggap saja masa lalu itu tidak pernah ada jika itu berat untukmu. Tetapi dari masa lalu sebenarnya kau bisa belajar sayang, karena masa lalu itu pengalaman yang berharga"


"Iya mas..."


"Oeek... Oeek..."


Tangis Gibran mengalihkan perhatian mereka. Humaira tampak gelisah mendengar tangisan anaknya.


"Sepertinya Gibran lapar sayang, susui lah.."


"Iya mas. Aku akan ke kamar Gibran"


"Tidak... tidak sayang. Bekas operasi mu belum kering. Biar aku meminta Umi membawakan Gibran padamu"


"Baiklah mas..."


Humaira tersenyum. Tomy memang lelaki yang penuh perhatian. Lelaki itu selalu bisa membuat Humaira tersenyum dan merasa tenang meski tahu dirinya banyak kekurangan.


Tomy lalu meminta Umi membawa Gibran pada Humaira untuk di susui.


Seminggu Tomy tidak masuk kantor selama Humaira di rawat di rumah sakit pasca melahirkan. Lelaki itu hanya memberi arahan pada bawahannya via telepon selama ia menjaga isterinya.


Setelah mendengarkan kisah panjang isterinya, Tomy menghubungi Romi yang berada di kantor menggantikan dirinya memeriksa laporan yang menumpuk.


"Halo Rom, bagaimana dengan tugas yang aku perintahkan?"


"Saya berhasil membuatnya bangkrut. Lalu rumah itu sedang di lelang pak"


"Beli, berapa pun harganya!"


"Baik pak"


"Lalu dimana wanita itu?"


"Saya sekap pak. Begitu menerima perintah bapak, saya langsung mengerahkan mereka untuk mencarinya"


"Jadi sudah seminggu?"


"Benar pak"


"Semakin hari kau mirip gangster"


"Berkat bapak"


"Hahaha..., Aku tidak begitu jika orang yang kusayangi di usik. Rom, kasi makan. Jangan biarkan dia mati. Lalu jadikan pembantu rumah tangga jika dia tidak mau masuk penjara"


"Baik pak"


*****

__ADS_1


"Aarrggghh! Tomy Gunawan?! Rasanya aku tidak pernah mengusik Crazy Rich itu. Tapi mengapa dia mengacaukan usahaku?!"


Juan tampak stres dan tak habis pikir. Usaha yang dia bangun dengan susah payah bangkrut hanya dalam waktu seminggu. Lelaki itu berjalan mondar-mandir di ruang keluarga rumah ibunya.


"Bang bagi duit?! Aku bentar lagi mau healing nih bareng temanku"


"Healing...healing...healing! Yang kau tahu hanya healing. Nggak ada!"


"Ish abang, kenapa marah-marah sih?! Aku kan mintanya baik-baik?!"


"Mulai sekarang kau kerja cari duit sendiri dan healing sepuas mu!"


"Iiih... abang kenapa sih?!"


"Usahaku baru saja bangkrut dan rumahku akan di lelang"


"Apa?!!"


Rima adik Juan dan ibunya terkejut serempak.


"Bagaimana bisa Juan?! Lalu bagaimana dengan berlian yang baru saja ibu pesan? Bagaimana cara ibu membayarnya?"


"Kalian kenapa sih? Selalu aku dan aku?!"


Bentakkan Juan membuat Rima dan ibunya terdiam.


"Hiks... Jadi kita bagaimana bu?"


Rima merengek. Bayangan kemiskinan terlihat jelas di depan matanya. Ia takut segala sesuatu yang ia nikmati dengan nyaman selama ini harus sirna seketika.


Suasana hening sejenak. Baik Juan, Rima maupun ibunya, semua larut dalam pikiran masing-masing.


Juan mengeluarkan smartphone dari saku celananya. Terlihat ia sedang mencoba menghubungi seseorang disana.


"Ini Yunita kemana lagi?! Sudah seminggu dia nggak bisa di hubungi?!"


"Apa jangan-jangan dia ada hubungannya dengan bangkrutnya usahamu?"


"Nggak mungkin bu, barang-barang bermerknya aja semua ada dirumah ku. Tapi dia juga nggak pernah pergi tanpa kabar begini?!"


"Elah kamu mana tahu. Dari dulu ibu nggak suka sama Yunita itu. Kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang mu saja. Berbeda sama Humaira. Dia paling pandai mengatur keuanganmu?!"


"Bu cukup! Bukannya ibu yang minta aku untuk cepat menceraikan dia karena dia nggak bisa berikan cucu buat ibu?!"


"Lalu apa bedanya dengan perempuan yang hanya kau tiduri selama ini. Kalian belum juga punya anak sampai sekarang. Ini bahkan melebihi waktu dari si Humaira. Sudah 4 tahun lamanya"


Juan tidak dapat menjawab. Apa yang ibunya katakan memang benar adanya. Yunita sang kekasih sampai saat ini belum hamil juga. Itu lah sebabnya Juan belum mau menikahinya.


"Aaarrggghh!!"


Juan menarik rambutnya frustrasi. Lelaki itu lalu meninggalkan ibu dan adiknya mencari suasana untuk menenangkan dirinya.


Entah mengapa bayangan Humaira terus terlintas dipikirannya. Jika dibandingkan Humaira dengan Yunita, sebenarnya mantan isterinya itu tidaklah kalah cantik. Buktinya, kurang lebih setahun yang lalu mereka bertemu di mall, perubahan Humaira membuat Juan terkejut dan terpana.

__ADS_1


Humaira yang pandai memasak lebih hemat mengatasi pengeluaran rumah tangga mereka di banding Yunita yang hanya selalu memesan delivery setiap mereka mau makan.


"Haaah..."


Juan menghela napas. Ia baru menyadari betapa Humaira adalah wanita yang sempurna untuk dirinya. Dia yang termakan rayuan Yunita serta dibutakan oleh cinta sesaat, kini menyesali perbuatannya yang telah menyia-nyiakan mantan isterinya Humaira.


"Apa sebaiknya aku cari Humaira lagi dan mengajaknya kembali padaku? Sepertinya kehidupannya sudah sangat nyaman"


Gumam Juan mencari cara untuk keluar dari masalahnya.


Sementara itu, di rumah tempat Humaira tinggal dulu. Beberapa penjaga tampak ketat mengawasi kegiatan Yunita di rumah itu. Ia kini menjadi tawanan yang di pekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Tangannya yang halus kini mulai terasa kasar. Wajahnya yang mulus mulai di tumbuhi jerawat.


"Aarrghh!! Sampai kapan aku harus membersihkan rumah ini?! Sebenarnya ini rumah siapa sih?!"


Yunita tampak kesal sambil melempar sapu yang ada di genggamannya.


"Awas saja?! Akan ku balas semua ini!"


Emosinya langsung hilang seketika ketika Romi datang mengawasi dirinya.


"Sepertinya kau sudah bosan. Tapi sayang, tuan memerintahkan kau untuk memilih penjara atau menjadi pembantu seumur hidupmu?!"


"Kau gila apa?! Aku nggak mau jadi pembantu seumur hidup. Lebih baik aku masuk penjara saja!"


"Baiklah...,aku akan segera memprosesnya. Tindakan percobaan pembunuhan terhadap calon bayi, aku rasa 10 sampai 20 tahun kamu akan berada di dalam sel"


"Tidak aku tidak boleh masuk penjara. Ayah dan ibuku bisa marah padaku. Dan Juan bisa meninggalkan ku"


Gumam Yunita pelan sambil menggigit ujung kukunya.


Romi membiarkan wanita itu berpikir sebelum mengambil keputusannya.


"Baiklah aku aja jadi pembantu"


Ujar Yunita sangat yakin.


Tak beberapa lama Yunita berkata demikian, beberapa anggota polisi datang untuk menangkap Yunita.


"Kau bohong?!!"


Yunita sangat marah karena merasa dipermainkan oleh Romi.


"Aku tidak akan mengambil resiko, nyonya kami harus terluka lagi. Pak bawa saja, semua bukti akan kami serahkan melalui pengacara kami"


"Baiklah. Saudari Yunita mohon kerja samanya dan ikut kami ke kantor polisi?!"


Dengan wajah penuh amarah, mau tidak mau Yunita mengikuti para polisi itu.


"Haah, anggap saja dia sudah memilih. Rasanya akan repot di kemudian hari bila dia menjadi pembantu nyonya"


Ucap Romi pada dirinya sendiri.


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗

__ADS_1


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊


__ADS_2