Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Rahasia Humaira


__ADS_3

Cindy semakin hari tampak semakin cantik dimata Juan. Wanita itu kini memperhatikan penampilannya di depan Juan. Ya, Juan termasuk pria tampan meski wajahnya masih kalah dengan Dika. Namun bagi Cindy, Juan yang pengobrol memiliki sisi yang penuh perhatian menurutnya.


"Jadi sekarang apa kamu masih ingin membalaskan dendammu pada mereka?"


Tanya Cindy ketika bertemu dengan Juan untuk yang kesekian kalinya.


Meski mereka mengobrol hampir di tiap waktu lewat chat, tapi Juan tidak menyia-nyiakan kesempatan bila waktu kunjungan tiba. Lelaki itu lebih senang bertemu Cindy secara langsung. Untuk mengobati rasa rindunya.


Ya, karena mereka sering bertemu dan sering berbagi cerita, akhirnya rasa itu mulai ada. Perlahan Juan mulai merasa ingin selalu bertemu Cindy, dan bila tidak bertemu ada rasa rindu yang mulai menghampiri.


"Entahlah, menurut mu bagaimana?"


"Sudahlah, lupakan saja. Mereka itu orang-orang yang sulit di sentuh jika kamu tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan yang sebanding dengan mereka. Relasi mereka banyak, ya kamu tahu uang selalu mempermudah segalanya"


Juan merenungkan ucapan Cindy yang ada benarnya. Lelaki itu tampak menghela napasnya.


"Tunggulah aku keluar nanti, kita akan merintis usaha sama-sama"


Juan langsung melihat ke arah Cindy yang tersenyum padanya setelah mengucapkan kalimat tadi. Ucapan Cindy itu bagai angin segar yang menerpa tubuh Juan. Lelaki itu tentu tak menolak ajakan yang akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.


"Aku akan menunggumu"


"Ya,kamu harus menunggu ku. Lalu...aku hanya sekedar ingin tahu. Siapa ayah anak dari Humaira itu?"


Ujar Cindy menatap Juan, menunggu jawaban lelaki itu.


"Aku...."


Cindy tercengang mendengar pengakuan Juan.


"Bukannya katamu mandul?"


"Ketika bercerai dengannya kami sama-sama tidak mengetahui kalau dia sedang hamil"


"Lalu dimana anak mu sekarang, kamu berhak mendapatkan hak asuhnya juga kan?"


"Dia susah tiada"


Cindy tertegun tanpa bisa berkata apa-apa. Ada rasa sedih namun ada juga rasa senang di hatinya. Melihat Juan yang terlihat sedih ia pun ikut merasakan kesedihan itu. Tapi mengingat anak itu telah tiada dan itu berati antara Juan dan Humaira tidak ada lagi yang menghubungkan mereka, itu membuat Cindy senang.


*****


Naima : Tomy bisa kita bertemu?


Tomy : Ada apa?


Naima : Ada hal yang ingin aku beritahukan tentang isterimu


Tomy : Maaf tapi aku sedang sibuk


Naima : 20 menit saja, besok aku datang ke kantormu


"Oh mas, sudah selesai mandinya?"


Ujar Humaira yang melihat Tomy keluar dari kamar mandi mereka.

__ADS_1


"Iya, ada yang telpon?"


Tanya Tomy melihat Humaira meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Nggak ada yang penting. Maaf aku membuka hape mas tanpa ijin"


Ujar Humaira merasa bersalah karena tidak seharusnya ia membuka ponsel milik suaminya tanpa ijin.


Tomy berjalan mendekati isterinya lalu mengambil ponselnya dan melihat ada pesan dari Naima yang sepertinya sudah dibalas Humaira. Lelaki itu tersenyum dan meletakkan kembali hapenya.


"Kau yang membalasnya?"


"Iya maaf, habis aku kesal. Besok aku juga akan kesana"


Ujar Humaira yang tidak suka setelah membaca dan membalas pesan itu.


"Bagaimana kalau kau membantu pekerjaan ku saja sayang?"


Tomy mencoba mengajak Humaira untuk membantunya di kantor. Sedari dulu isterinya itu selalu tidak mau dan tidak betah jika bekerja bersama dirinya.


"Maaf mas aku nggak mau. Aku ini wanita yang cemburu. Lalu nanti bagaimana dengan swalayan ku. Aku menyukai pekerjaan ku mas"


"Hehehe benarkah? Tapi selama ini kau tidak terlihat seperti pencemburu"


"Itu karena mas selalu bertindak tegas dan menjaga perasaanku. Tapi aku suka cemburu jika melihat wanita lain menatap mas dengan intens"


"Aku merasa sangat di cintai jika kau cemburu"


"Jadi mas akan membiarkan mereka menggoda mas?"


Humaira tampak kesal dengan ucapan Tomy.


"Nggak mau. Aku capek kalau harus cemburu terus. Pokok besok mas harus membelaku"


Ucap Humaira sambil melipat kedua tangan di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke lain.


Sikap Humaira yang seperti itu membuat Tomy merasa gemas terhadap isterinya.


"Iya sayang, sudah lah jangan di pikirkan lagi...ayo kemari lah.."


Tomy yang telah terbaring di atas tempat tidur merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Humaira kedalam pelukannya.


Humaira yang tidak ingin ribut dengan suaminya pun langsung tersenyum dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Tomy.


*****


Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang telah di ucapkan, Naima datang ke kantor Tomy dan menghampiri lelaki itu di ruangannya. Dengan penuh percaya diri Naima bertekad memberitahu Tomy tentang masa lalu Humaira.


Wanita itu duduk di sofa berhadapan dengan Tomy.


"Lalu apa yang ingin kau bicarakan Naima?"


"Ini bacalah?!"


Naima memberikan selebaran kertas kepada Tomy. Ternyata wanita itu telah merangkum seluruh informasi yang ia ketahui tentang Humaira.

__ADS_1


Tomy mengambil kertas itu lalu membacanya.


"Hanya ini saja?"


"Hanya? Kamu bilang hanya? Apa kamu nggak lihat dengan jelas siapa isterimu itu?!"


"Aku tahu"


"Haaah?!"


Naima melengos mendengar jawaban Tomy yang sikat dan santai itu.


"Dia sudah tahu, dan aku wanita yang sangat beruntung kan Naima?"


Naima melihat Humaira yang tiba-tiba keluar dari sebuah ruangan di sudut ruangan itu. Wajah Naima langsung merah padam antara malu dan juga marah karena rencananya tidak berhasil.


"Apa bagusnya wanita seperti dia?"


"Nggak ada yang berhak menilainya selain aku suaminya yang hidup bersamanya. Terima kasih untuk perhatian mu Naima, tapi aku bahagia bersamanya"


Humaira langsung memeluk Tomy di depan Naima dengan gaya wanita malamnya yang genit dan menggoda. Ia sengaja mempertunjukannya di depan Naima untuk memanasi wanita itu.


Naima berang, ia mengepal tangannya geram.


"Yah, mau gimana lagi. Saat kamu menyesal di kemudian hari aku hanya bisa menertawakanmu Tomy"


Kata Naima dengan sikap tenang yang mencoba menahan emosinya.


"Semoga saja itu tidak terjadi Naima"


Ujar Tomy santai.


"Mas, ketika berlian hanya sebongkah batu yang di tutupi lumut tidak ada satu pun yang mau menyentuhnya. Tapi saat berlian itu sudah bersih dan berkeliau kenapa selalu ada saja orang yang berusaha memiliki, walau berlian itu sudah di jari orang lain"


Sindir Humaira sekilar melirik ke arah Naima.


"Uggh!!. Suami isteri sama saja!"


Tanpa pamit Naima meninggalkan Tomy dan Humaira begitu saja. Ia menutup pintu dengan sedikit membanting hingga Humaira mengelus dadanya karena terkejut.


"Apa kita kelewatan mas?"


Tanya Humaira yang terlihat merasa bersalah.


"Hehehe, tidak. Hmm..., tapi mungkin saja"


"Gimana sih mas?"


"Hehehe..., sudahlah jangan di permasalahankan. Bagaimana kalau kau melakukan gerakan yang tadi. Aku jadi bergairah sayang..."


"Maaas....."


Tomy membawa Humaira ke dalam dekapannya dan mencium bibir isterinya itu penuh gairah. Tubuh Humaira di giring ke ruangan khusus dimana tadi Humaira ke luar dari sana. Ruangan itu adalah tempat Tomy beristirahat yang di lengkapi tempat tidur serta pendingin ruangan.


Pergulatan panas pun terjadi dalam ruangan itu tanpa ada yang berani masuk tanpa ijin dari Tomy.

__ADS_1


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗


__ADS_2