
Umi terus memikirkan ucapan Asep. Ia sendiri sebenarnya ingin membicarakan masalah ini kepada seseorang untuk di mintai saran.
Umi ingin sekali bercerita pada Humaira. Sayangnya adiknya itu baru akan kembali 3 hari lagi. Dan jika harus berbicara melalui sambungan jarak jauh, tentu akan memakan biaya telepon yang tidak sedikit.
Umi pun memutuskan untuk menunggu Humaira kembali baru akan menceritakan pada wanita itu masalahnya. Selama menunggu kepulangan Humaira, Umi sering kali menghindari Asep jika melihat lelaki itu.
Gosip simpang siur pun bermunculan jika Umi sedang marah terhadap Asep. Entah siapa yang memulai hingga gosip itu terus berkembang semakin jauh dari kebenaran yang ada.
Hal itu di dengar oleh Tomy, ia pun memanggil Umi dan berbicara di ruang tengah. Beberapa pekerja lain melintas dan ada juga yang tidak jauh berada dari ruang itu. Tentu saja mereka sangat ingin tahu kenapa Tomy memanggil Umi seperti sedang ingin melakukan introgasi.
"Maaf Umi, aku mengajakmu berbicara di ruang terbuka seperti"
Ujar Tomy yang duduk bersandar di sofa berhadapan dengan Umi.
"Saya nggak masalah pak, tapi ada apa?"
Tanya Umi, yang tampak gugup dan selalu tertunduk tidak berani menatap Tomy karena rasa segannya.
"Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan padaku Umi? Akhir-akhir ini aku mendengar sesuatu dan aku ingin tahu darimu"
"Apa yang bapak dengar?"
"Kau menolak Asep yang berniat melamarmu. Dan kau menjauhinya karena membencinya apa itu benar?"
"Loh, nggak bener itu pak?!"
Ujar Umi menengadahkan wajahnya menatap Tomy.
"Apa aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saya sebenarnya memang ingin bercerita pada seseorang, tadinya ingin menunggu Humaira. Tapi sepertinya gosip semakin parah. Asep memang melamar saya, tapi saya meminta waktu untuk menjawabnya. Dan mengenai menghindari Asep, saya bukan membencinya, melainkan saya belum siap jika Asep meminta jawaban ketika kami bertemu"
Umi kembali tertunduk. Ia malu masalahnya ini yang akhirnya di ceritakan kepada Tomy.
"Hmm, begitu rupanya. Apa aku boleh tahu alasanmu?"
"Asep itu muda dari saya, saya takut dia hanya mempermainkan saya"
"Apa Umi memiliki ketertarikan terhadap Asep?"
"Ya? Itu saya.... emm... saya tidak membencinya. Sebagai pemuda yang jujur dan rajin saya juga menyukai Asep yang memiliki sifat seperti itu"
"Baguslah, setidaknya perlahan kalian bisa memupuk perasaan kalian jika selalu di hujani rasa sayang dan perhatian yang tulus. Menurut ku Asep anak yang baik. Pandangannya cukup luas, aku yakin dia mampu menjadi imam yang baik"
__ADS_1
"Benarkah pak?"
Ucapan Tomy seperti memberikan titik terang pada Umi hingga wanita itu berani mengangkat wajahnya melihat ke arah Tomy kembali.
Bagi Umi yang belum lama mengenal Asep tentunya ia tidak dapat menilai bagaimana lelaki itu. Namun kalimat yang di ucapkan Tomy memberikan rasa percaya Umi pada Asep, dan ia pun percaya jika Tomy tidak akan salah menilai orang.
"Aku tunggu kabar baik dari kalian, masalah biaya pernikahan nanti jangan di pikirkan"
"Oh, baiklah pak. Akan saya pikirkan baik-baik. Kalau begitu saya ingin melanjutkan pekerjaan saya"
"Ya silahkan"
Umi pun pamit dan berlalu meninggalkan Tomy yang masih duduk santai di ruangan itu.
Sekalipun Humaira dan Tomy tidak pernah menyuruh Umi berkerja pada mereka, namun wanita itu merasa tidak bisa tinggal begitu saja dirumah itu tanpa melakukan apa-apa. Ia pun mengahbiskan kesehariannya mengasuh Gibran.
Di tangan Umi, Tomy dan Humaira percaya anak mereka di asuh di tangan yang benar. Umi yang penuh kasih sayang, merawat Gibran bagai anaknya sendiri.
"Aku sudah melakukan permintaan mu sayang"
"Sukurlah mas, terima kasih mas mau menjadi teman ngobrol Umi. Aku yakin Umi pasti bingung mau mengambil keputusan apa. Dan heran saja, pekerja di rumah mas itu masih seneng aja gibahin sesamanya dirumah itu"
"Hehehe, namanya juga manusia. Selagi mereka tidak berbuat yang sampai merugikan, semua masih bisa di maklumi"
"Lalu kira-kira apa keputusan Umi mas, aku ingin Umi punya keluarga mas. Biar ada yang menjaganya di hari tua, dan mendoakannya jika telah tiada"
"Alhamdulillah mas, sudah ada kemajuan soal kesembuhannya. Penyakit bibi nggak parah sebenarnya jika mendapatkan pengobatan yang tepat"
"Sukurlah, aku turut senang mendengarnya. Itu karena kehidupan ekonomi keluarga bibi tidak terlalu menunjang sayang. Nanti pelan-pelan kita tingkatkan taraf hidupnya ya"
"Makasih mas, mas memang suami terbaik"
"Keluarga mu keluarga ku juga sayang. Apa lagi kau tidak memiliki banyak keluarga. Aku akan berusaha mensejahterakan orang-orang terdekatku"
"Aku mencintai mu mas"
"Aku juga sayang, cepat lah pulang. Aku selalu merindukan mu"
"Hehehe... Iya mas. Kalau begitu aku tutup teleponmya ya mas. Sepertinya bibi sudah bangun"
"Iya, jaga kesehatan mu ya sayang"
"Iya mas, mas juga. Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
"Kluk"
Panggilan pun berakhir.
*****
Tiga hari kemudian, Umi menemui Asep untuk memberikan jawaban atas lamaran Asep.
Pertemuan mereka di taman belakang itu disaksikan oleh beberapa pasang mata meski mereka menyembunyikan keberadaan mereka.
Umi menatap Asep dalam-dalam hingga membuat lelaki itu merasa canggung meski hatinya berdebar-debar.
"Aku udah mikirin ini baik-baik dan aku mengambil keputusan untuk...."
Kalimat Umi yang menggantung membuat Asep gugup hingga susah menelan salivanya. Lelaki itu tampak mengelap keringatnya dengan sapu tangan karena cemas akan jawaban yang akan di berikan oleh Umi padanya.
"Ya"
"Ya?"
Asep terdiam dengan satu kata "Ya" yang di ucapkan oleh Umi.
Umi menghela napasnya karena Asep terlihat bingung dengan jawabannya. Akhirnya Umi memakai bahasa tubuh dengan menganggukan kepalanya.
Wajah Asep merona, matanya membulat seketika seakan-akan siap meninggalkan kelopak matanya.
"ALHAMDULILLAH, YEAAAA....!!!"
Teriakan Asep membuat Umi terkejut sekaligus malu. Tidak hanya Umi, teman-teman yang bekerja di rumah itu pun ikut bersorak sorai dan tertawa senang melihat kebahagiaan Asep.
"Wahh, selamat ya mbak Umiii... akhirnya diterima juga"
Ujar Kiki orang pertama yang segera menghampiri Umi dan memberikan ucapan selamat pada Umi.
Bi Imah dan beberapa pekerja lainnya pun bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan berbondong-brondong memberikan ucapan selamat kepada Asep dan Umi.
Dan hari itu taman belakang pun menjadi ramai oleh para pekerja di rumah itu yang datang berkumpul untuk ikut merasakan kebahagiaan Asep dan Umi.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya nggak pada kerja?! Gue laporan ntar sama bang Tomy"
Ujar Dika sambil melipat tangan di depan dada mengagetkan mereka yang sedang tersenyum senang hingga memudarkan kegembiraan di wajah mereka.
__ADS_1
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗