Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Curhat Momongan


__ADS_3

"Kok sepi kak Umi, pada kemana?"


Yasmin muncul dan mendekati Umi yang sedang mencuci buah di dapur.


"Loh Yasmin, kok baru kelihatan?"


"Iya kak aku sibuk banget. Pada kemana kak? Aku kangen sama Gibran"


"Baru aja pergi tadi pagi Yas, pada ke Aceh. Humaira menemukan keluarganya"


"Haah, yang bener kak?"


"Panjang ceritanya Yas, nanti kalau Humaira pulang kita tunggu ceritanya aja"


"Waah, nggak nyangka kak Hum masih ada sanak saudara. Sukurlah kak, aku turut senang mendengarnya"


"Nggak bareng Dika?"


Tanya Umi yang sedari tadi tidak melihat sosok Dika.


"Dia lebih sibuk dari aku kak"


"Kita makan buah ini yuk, kak Umi lagi pengen ngerujak"


"Ayo kak! Aku juga suka ngerujak"


Mereka pun membawa buah-buahan itu di taman belakang. Di sana ada tempat bersantai yang asik untuk suasana merujak.



Yasmin dan Umi terlihat menikmati acara mereka sambil mengobrol santai.


"Kamu lahap sekali Yas, lagi ngidam ya? Eh... Iya udah lamakan kalian nikah?"


"Belum kak Umi, belum di kasih momongan. Padahal udah enam bulanan kami nikah"


"Sabar Yas..., tapi kalian udah konsul dokter kan?"


"Udah dan semua baik-baik aja"


"Berarti harus terus berusaha aja dan berdoa"


"Tapi aku risih dengan omongan orang kak Umi"


"Loh, kenapa?"


"Selalu di tanya, kenapa belum hamil juga?"


"Hehehe, jangan di dengerin. Orang-orang memang nggak apa puasnya kalau kepoin urusan hidup orang lain. Waktu pacaran pasti di tanya kapan nikah, ntar dah nikah kapan punya anak, ntar udah ada anak di tanya nggak nambah lagi anaknya? Itu-itu terus nggak ada habisnya. Mending sekarang kamu nikmati aja hidupmu. Di kasih anak cepet alhamdulillah, kalau belum ya sabar aja. Berarti kamu masih bisa melakukan kegiatan yang udah nggak bisa ibu-ibu lakukan"


"Iya juga ya..."


"Udah, nih makan lagi?"


Mereka kembali menikmati rujak yang hampir habis oleh mereka.


"Kenyang aku, kak aku mau pamit dulu ya. Pengen healing"


"Dih, baru di kasih cobaan begini udah butuh healing aja kamu Yas?"


"Hehehe, bercanda kak. Aku mau jalan-jalan, sekalian ada barang yang pengen aku beli"


"Ya udah kalau gitu, sering-sering mampir kesini Yas. Kemarin Humaira juga nanyain kabarmu"


"Iya kak..., hehehehe.... Aku pergi ya kak, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Yasmin pun pamit meninggalkan Umi. Ia lalu menuju mobilnya dan mengendarainya menuju Mall tempat ia biasa berbelanja.


Pertengkaran kecil dengan Dika tadi malam membuat Yasmin kepikiran. Sikap Yasmin yang overthinking membuat mereka berdebat hal yang seharusnya masih bisa di bicarakan dengan kepala dingin.

__ADS_1


Dika tidak pernah menuntut Yasmin untuk segera hamil. Namun wanita itu selalu memikirkan omongan para kenalannya yang selalu menanyakan kenapa dirinya belum hamil juga.


Beberapa pakaian susah memenuhi laper bag nya. Lalu kakinya terhenti saat melihat pakaian bayi yang begitu mengemaskan.


"Yasmin kan?"


Yasmin langsung melihat ke arah pemilik suara yang memanggil namanya.


"Galih ya?"


Terka Yasmin karena dirinya antara lupa dan ingat.


"Nah masih ingat. Padahal selama ini gue nungguin kabar dari kamu. Tapi chat gue nggak pernah kamu respon"


Mendadak Yasmin merasa tidak enak, karena sebenarnya chat nya sudah terbaca oleh Dika dan meminta dia untuk mengabaikan lelaki manapun yang mencoba menghubunginya.


"Maaf, aku sibuk"


"Sendiri aja? Dika mana? Gue sempat kaget loh ternyata yang di nikahin Dika itu kamu"


Kali ini Yasmin mendadak canggung karena ia tahu kalau Galih ini pernah menyukai dirinya.


"Dika lagi kerja di kantornya"


"Mau nyantai dulu yuk, kayak nya kamu haus deh, bibir mu sampai kering begitu"


"Oh, hari ini aku nggak pake lipgloss jadinya ya gini"


Ujar Yasmin yang ingin menolak secara halus namun tidak bisa.


"Ayolah temani gue ngobrol doang kok?"


"Maaf Galih, aku udah selesai berbelanja dan ingin pulang"


Tolak Yasmin yang hendak melangkah pergi meninggalkan Galih.


"Yasmin?! Kamu Yasmin kan? Ya Allah ketemu disini. Kamu apa kabar?"


"Tya kan?"


"Loh, Galih ya Allah... kok bisa kebetulan gini sih? Yuk... Yuk kita cari tempat enak buat reunian"


Ajak Tya yang sangat senang bertemu Yasmin dan Galih teman satu sekolahnya dulu.


Mau tidak mau Yasmin terpaksa mengikuti mereka ke sebuah kafe dan duduk bersama.


*****


Di tempat yang berbeda, Dika sedang menemui Umar sahabatnya. Umar yang menelponnya hendak memberikan undangan pernikahannya, langsung di datangi Dika di kontrakkannya.


"Gaya banget yang mau nikah?!"


Ujar Dika menyapa Umar yang kebetulan sedang duduk santai di teras rumahnya.


"Datang-datang bukannya ngucapin salam ini orang"


Ujar Umar kesal melihat Dika yang masih nggak berubah.


"Hehehehe, Assalamualaikum kalau gitu..."


"Waalaikumsalam, tumben kemari"


"Kan lu mau ngasi undang? Gue pulang nih?!"


"Eh jangan, iya gue bercanda?!"


Umar mencoba menahan tangan Dika yang hendak pergi. Walau pun ia tahu sebenarnya Dika hanya bercanda.


"Dih, laku juga lu akhirnya"


"Sembarangan?! Dari dulu gue udah di ajak nikah, cuma gue belum siap"

__ADS_1


"Kek cewek aja lu nunggu siap segala"


"Nggak ada modalnya bro, gue mesti nabung bukan kek elu. Kawin tinggal kawin"


"Sialan, nikah woi bukan kawin"


Dika mengumpat dengan kesal.


"Elah, dulu kan lu demen ngawinin anak orang"


"Itu dulu pe'ak, sekarang udah lama nggak lagi. Cuma bini gue yang ada disini nih?!"


Dika menunjuk dadanya dengan percaya diri.


"Dih, gaya lu?! Sekarang aja lu insaf"


"Udah mana sini undangannya?"


"Dua singgit?!"


Pinta Umar sambil melipat tangan di dada.


"Sialan nih anak, dikira Mail apa?!"


"Hehehe..."


Setelah melihat Dika kembali sewot dengan kesal, Umar terkekeh dan akhirnya memberikan kertas undangan pernikahannya pada Dika.


"Ngomong-ngomong belum punya anak lu?"


Umar duduk di samping Dika. Kali ini wajahnya terkesan serius menanyakan momongan kepada Dika.


"Belum, di kasih cepet sukur kalau belum gue masih sabar aja"


"Bagus, gue suka sifat lu yang begini. Intinya serahin aja sama yang di atas"


Ujar Umar sambil menaikan telunjuknya.


Dika mengikuti acungan jari telunjuk Umar. Ia melihat ada titik terang di sana yang menarik perhatiannya.


"Seng lu bocor?"


Umar pun melihat apa yang Dika lihat.


"Eh iya bocor, hehehe... "


"Tapi bini gue kayaknya dia kepikiran"


"Yasmin?"


"Emang bini gue siapa lagi?!"


"Kali aja ada yang sirih"


"Ck, baiknya gimana coba, seandainya sekian tahun gue belum dapet momongan juga?"


"Kayak bang Tomy aja, kawin lagi"


"Etdah, Yasmin bisa berubah jadi begal tahu nggak?!"


"Hehehe, bercanda... Emm, atau nggak angkat anak aja. Kata orang tua dulu-dulu mancing anak itu"


"Masa?"


"Ya katanya...,bener apa nggak ya gue juga nggak tahu"


Sesaat mereka diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Dika membuka kertas undangan itu dan membacanya dalam hati. Sedangkan Umar asik memandangi kegiatan warga sekitar.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2