
#Selama bulan Ramadhan, ada baiknya membaca novel ini disaat readers tidak sedang menjalankan ibadah puasa. Sebelumnya Author mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila terdapat adegan yang kurang berkenan bagi para pembaca. Harap pembaca bijak dalam menyikapi🙏. Happy reading...
*****
Hanya dalam sehari, kantor sudah di benahi dengan peralatan tambahan untuk Humaira yang akan mulai mengisi meja kerja di samping meja Tomy. Tomy sengaja memberikan kesibukan pada Humaira agar isterinya itu terlepas dari beban batin yang membuatnya depresi. Selain itu, dengan mengajaknya bekerja satu ruangan, Tomy dapat memantau isterinya selama 24 jam penuh.
Lumrah saja, jika ada seseorang yang seperti Humaira mengalami depresi karena ke kehilangan dua orang berharga sekaligus. Terlebih basic dari kehidupan Humaira yang selalu di tinggal oleh orang-orang yang ia sayangi menjadi pukulan berat jika ia selalu memendam perasaannya seakan-akan ia baik-baik saja.
Pagi itu, Tomy bersiap untuk berangkat kerja ke kantornya lebih awal. Ada meeting dadakan dengan klien hingga ia terpaksa harus pergi lebih dulu meninggalkan isterinya.
"Maaf aku pergi lebih dulu, nanti akan ada supir yang menjemputmu. Aku tunggu di kantor ya sayang.."
"Iya mas, hati-hati..."
Jawab Humaira masih mengenakan handuk di kepalanya.
"Setelah selesai bersiap, segera susul aku. Aku akan minta supir untuk menjemputmu 40 menit lagi"
"Iya mas..."
Tomy mencium kening Humaira lalu buru-buru berangkat kerja meninggalkan sang isteri.
Humaira duduk di depan cermin sambil melamun menatap dirinya sendiri.
Sepeninggalan Tomy dari rumah besarnya, sebuah mobil ambulans datang bersamaan dengan sedan hitam memasuki halaman rumah besar itu. Tampak bibi Kartika dan Sela keluar secara bersamaan dari mobil itu. Mereka pun langsung masuk ke dalam di ikuti beberapa perawat yang turun dari mobil ambulans.
"Selamat pagi bu..."
Sapa Umi yang menyambut mereka namun tidak direspon sama sekali oleh wanita paruh baya itu. Kartika dan juga Sela terus melangkah menuju kamar sambil sesekali melihat ruangan yang mereka lewati.
Begitu sampai di depan kamar Humaira, wanita paruh baya itu membuka dengan kasar pintu kamar milik Humaira.
Disana terlihat Humaira yang masih duduk menghadap cermin tampak terkejut, namun ia tetap terdiam di tempatnya.
"Dia yang sakit, tolong bawa dan tangani segera!"
Perintah Kartika sambil menunjuk ke arah Humaira.
Umi yang mengikut bibi Tomy dari belakang itu terkejut mendengar perintah wanita paruh baya itu. Sedangkan Sela penuh senyum bahagia sambil melipat tangan di dada melihat adegan sinetron baginya.
"Mau dibawa kemana Humaira bu?"
Tanya Umi bingung sekaligus panik.
"Kau bukan siapa-siapa dan jangan ikut campur?! Dan kau kemasi barang-barangmu dan segera angkat kaki dari rumah ini!!"
Begitu perintah bibi Kartika dengan nada tinggi kepada Umi.
"Ta.. tapi bu..."
"Tidak ada tapi-tapian! Mulai detik ini tinggalkan rumah ini! Joko....?! Joko...?! Seret wanita menjijikkan ini keluar?!"
Ucapan bibi Kartika menyesakkan dada Umi dan juga Humaira yang mendengarnya. Umi langsung menangis tapi ia tetap berusaha menahan perawat itu untuk membawa Humaira ke dalam ambulans.
__ADS_1
"Umi... hiks... Umiii....!"
"Hum.... Humaira....?!"
Benar saja, apa yang terjadi saat itu sudah mirip adegan di sinetron yang menyesakkan dada. Humaira secara paksa di bawa ambulans untuk di masukan ke dalam RS Jiwa. Sedangkan Umi mendapati kopernya yang di lempar ke luar pintu dengan isi koper yang berhamburan ke lantai.
Sambil menangis Umi memungut barang-barangnya dan memasukannya ke koper. Ia tidak dapat mencegah para perawat itu membawa pergi Humaira. Dengan langkah gontai wanita itu meninggal rumah menuju tempat yang akan menampung dirinya.
Kartika dan Sela menguasai rumah besar itu. Tersenyum puas mereka telah berhasil menyingkirkan Humaira dan Umi dari rumah milik Tomy.
"Kau bersiaplah..., lakukan Tomy sebagai calon suamimu. Layani dia sebaik-baiknya, mengerti?!"
Ujar Kartika pada Sela setelah rencana yang mereka lakukan berhasil bagi mereka.
"Tentu tante..., tante jangan khawatir..."
"Tinggal selangkah lagi. Kali ini kamu harus berhasil taklukkan Tomy. Dan ingat perjanjian kita, perusahaan seutuhnya milikku. Kau cukup mengambil rumah ini beserta beberapa aset milik Tomy"
"Iya dong, tante jangan khawatir. Aku nggak akan ingkar janji..."
Jawab Sela memastikan dengan senyum penuh kemenangan.
*****
"Loh...itu bukannya Umi? Mau kemana dengan koper sebesar itu?"
Gumam supir yang di utus Tomy untuk menjemput isterinya.
"Mbak Umi, mau kemana?"
Tanya lelaki itu mendekati Umi.
"Leonardo?"
Ucap Umi pada lelaki itu yang sebenarnya bernama Asep. Umi telah terbiasa memanggil Asep yang berusia lebih muda darinya. Lelaki yang mirip aktor Hollywood namun berkulit gelap itu sering di panggil Umi dengan nama Leonardo.
"Bisa hubungi pak Tomy ini penting?!"
Umi langsung teringat Tomy. Lelaki itu pasti tidak akan membiarkan Humaira diperlakukan demikian pikir Umi.
"Waduh, saya nggak berani mbak. Bapak kan lagi rapat. Tapi saya coba hubungi pak Romi saja ya?"
Ujar Asep mengusulkan.
"Iya, ayo cepat ini penting!"
Pinta Umi sedikit memerintahkan.
Asep lalu mengeluarkan smartphonenya dan mencoba menghubungi Romi sang asisten.
"Halo kang Rom?"
"Ada apa Sep?"
__ADS_1
"Ini mbak Umi ada yang mau dibicarakan penting katanya"
Asep pun lalu memberikan handphone nya pada Umi agar wanita itu dapat bicara langsung dengan Romi.
"Maaf pak Romi, ini saya Umi. Tolong sampaikan pada pak Tomy kalau Humaira telah di bawa ambulans ke RS Jiwa"
"Whaaat....?!"
Asep terkejut mendengar ucapan Umi.
"Apa?! Baiklah...,tapi bagaimana bisa nyonya di bawa kesana? Atas usulan siapa?"
Tanya Romi memastikan untuk menyampaikan laporan lengkapnya pada tuannya nanti.
"Bu Kartika datang bersama seorang wanita cantik. Dia yang membawa orang-orang itu dan memerintahkan membawa Humaira ke RS Jiwa. Dan saya sudah di usir dari rumah pak Tomy"
Ujar Umi menceritakan inti dari kejadian yang baru saja ia alami.
"Berikan telepon ini pada Asep"
Perintah Romi pun ditiruti oleh Umi. Wanita itu lalu mengembalikan handphone kepada yang punya.
"Halo kang...?"
"Antar Umi ke rumah lama nyonya. Ambil kunci duplikat pada bi Imah"
"Iya kang"
"Kluk"
Panggilan telepon pun di akhiri. Asep meminta Umi untuk menunggu sebentar saat ia kembali kerumah besar untuk menemui bi Imah yang merupakan bibi yang melayani semua kebutuhan Nia dulu.
Bi Imah adalah pelayan yang di tuakan di rumah besar itu. Beberapa kepercayaan di berikan kepada wanita tua itu seperti memegang kunci rumah, kamar serta beberapa kendaraan di rumah itu.
Setelah mengambil kunci, Asep lalu mengantarkan Umi menuju rumah dimana mereka tinggal bertiga sebelum pindah ke rumah besar.
"Mbak... bagaimana ceritanya itu rumah dalam hitungan menit sudah angker gitu?"
"Kamu bertemu mereka?"
"Iya mbak, wajahnya beuh... sinis amat. Untung aja saya nggak di tanyain macam-macam. saya hanya bilang mau ambil kunci"
"Mereka pasti pikir kamu lagi di suruh pak Tomy"
"Iya kali mbak. Mereka nggak nanya lagi soalnya. Tapi itu perempuan siapa ya mbak? Kok dia kayak berasa nyonya besar aja di rumah itu?"
"Entahlah...Ndo, aku juga nggak tahu. Mereka tiba-tiba datang dan kejadian itu terjadi dengan cepat begitu aja"
Kata Umi yang masih bingung dan sedih bagaimana dengan keadaan Humaira yang pastinya melukai psikisnya lagi.
✨Arahin jempol kalian untuk Favorite❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk Like👍 dan Komen yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima kasih 😊
__ADS_1