
Sore itu, Humaira kembali menangis tersedu-sedu begitu ia sadar dari pingsannya. Ia melihat seisi ruangan yang ternyata sedang berada di dalam kamarnya. Wanita itu segera bangun, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana jenazah Danu di letakkan.
Sepi, orang-orang yang melayat sebagian besar telah kembali kerumah masing-masing. Danu sudah tidak ada lagi di ruangan itu. Humaira terduduk lemah dan kembali menangis.
Umi dan Yasmin yang baru saja datang langsung menghampiri Humaira.
"Hum... hiks... maaf kan aku..."
Kata Umi sambil memeluk Humaira.
Humaira membalas pelukan itu dan menangis sejadi-jadinya.
"Danu sudah di makamkan, ketika kamu pingsan Hum. Jasadnya sudah menunggu lama untuk tidur di peristirahatan terakhirnya"
Tutur Umi sambil mengusah wajah Humaira menepis air mata di pipi wanita itu.
"Dimana mas Tomy?"
Tanya Humaira di sela sesugukkannya.
"Bu Nia.... tadi di bawa ke RS"
Ucap Umi ragu-ragu mengabarkan berita itu pada Humaira yang masih terlihat syok.
"Apa?! Kak Nia kenapa kak? Hiks... kak Nia kenapa...? Aaaa....hiks....hiks..."
Benar saja, Humaira kembali syok mendengar kabar itu. Ia seperti linglung dan terus menangis walau matanya sudah bengkak bahkan air mata tak lagi mengalir deras karena nyaris kering.
Wanita itu juga tahu bagaimana keadaan Nia apa lagi diterpa duka yang baru saja mereka semua alami.
Dering telepon milik Yasmin mengheningkan suasana di ruangan itu. Apalagi mereka sedang menanti kabar dari rumah sakit mengenai kondisi Nia.
"Assalamualaikum... yank?"
"Kak Nia udah nggak ada... haaah, hiks..."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun... hiks... hiks..."
Mendengar ucapan Yasmin kontak Umi dan beberapa kerabat yang mendengarnya kembali menangis.
__ADS_1
"Tabah ya yank, sabar... Allah sudah meringankan derita kak Nia dengan membawanya kembali. Allah menyayangi kak Nia..."
Ucap Yasmin dengan nada bergetar memberi semangat pada kekasihnya meski ucapan itu tak mampu menahan air mata lelaki itu.
Humaira menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menarik rambutnya dengan keras dan menangis sejatinya-jadinya.
"Aaaa....."
Duka mendalam dirasakan dalam waktu singkat dan hampir bersamaan. Hatinya sedih tanpa bisa terlukiskan.
Tak ada luka yang lebih menyakitkan selain kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Namun dari situlah ujian diberikan untuk tahu seberapa kuat kita mampu bersabar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan. Rasa sukur yang tidak boleh kita lupakan bahwa Allah telah memilih jalan terbaik untuk kita jalani.
Seketika Humaira terdiam, tidak menangis, tidak pula histeris seperti sebelumnya. Wanita itu segera menyiapkan perlengkapan untuk menyambut jenazah Nia yang akan segera di bawa pulang.
Umi dan Yasmin yang sesekali masih meneteskan air mata terlihat bingung dengan sikap Humaira itu. Mereka hanya mengamati Humaira dan melakukan apa yang wanita itu perintahkan.
Malam itu ambulans datang membawa jasad Nia. Berita duka kembali di kabarkan pada kerabat dan tetangga mereka. Orang-orang yang tadinya datang untuk tahlilan kembali datang untuk melayat.
Tubuh Nia di letakkan ditengah ruangan dengan kain menutupi seluruh tubuhnya.
Humaira perlahan mendekati tubuh yang sudah mulai dingin itu. Ia memeluk tubuh itu sambil menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
Walau mereka tahu bahwa hidup Nia tidak akan lama, namun rasa kehilangan itu tetap saja meluluh lantakan tembok ketabahan yang harus mereka bangun kembali.
*****
Flash Back On
Nia tersenyum dibalik konsentrator oksigen berbentuk masker yang terpasang di wajahnya. Pandangannya teduh menatap Dika dan Tomy.
"Sa... yang..."
Suara serak Nia yang sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar itu mencoba memanggil Tomy untuk lebih dekat dengan dirinya.
Tomy yang selalu berada di dekat Nia paham walau tidak terdengar suara Nia memanggilnya. Ia mendekati isterinya yang sepertinya semakin melemah. Tangan Nia ia genggam dan ia cium tanpa mau ia lepaskan. Tomy merasa situasi itu seakan-akan waktunya Nia bersiap untuk pergi.
"Maaf...kan aku yang be.. lum bisa bahagiakan kamu. Aku berdoa kamu a.. kan sela.. lu baha.. gia dengan Humairaa. Jadi... lah.. pe.. mimpin keluarga yang a...dil dan bijak.. sana. Jangan per...nah sakiti mereka... dan aku titip Dik.. ka"
Ucap Nia terbata-bata karena tenggorokannya yang sakit serta napasnya yang sangat lemah. Air matanya mengalir di setiap sudut kelopak matanya.
__ADS_1
Dika yang melihat kondisi kakaknya tidak mampu menahan air mata. Ia tertunduk menangis di bawah kaki sang kakak. Kakak yang hanya ia miliki satu-satunya dan bersiap pergi untuk berkumpul dengan ayah dan ibunya disana.
Tomy mengangguk menjawab pesan terakhir dari Nia. Melihat arah pandang Nia yang terlihat mulai kosong dan menatap lurus ke depan, Tomy merasa waktunya telah tiba. Ia pun meminta Dika untuk berada di sisi kiri Nia. Tomy yang berada di samping kanan segera mengantarkan Nia dengan dua kalimat Syahadat.
Bergetar, mendayu, dan berlinang air mata Tomy membimbing Nia untuk kembali pada sang Maha Kuasa. Hingga mata itu perlahan menutup, meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Selamat jalan Nia...
Flash Back Off
*****
3 minggu setelah kepergian Danu dan Nia, Humaira tidak banyak bicara. Ia melakukan kewajibannya sebagai isteri seperlunya. Ia menjadi pendiam dan enggan bicara kepada siapapun, bahkan ia sering mengurung dirinya di dalam kamar.
Tidak menangis, tidak pula histeris. Humaira hanya berbaring, melamun dengan pandangan kosong.
Tomy dan Umi khawatir dengan keadaan Humaira, bahkan makan pun ia harus di paksa dan di tunggu agar masuk ke dalam mulutnya dan di telan.
Tomy lalu memanggil dokter pribadinya untuk mengecek kesehatan isterinya itu.
"Ibu sepertinya mengalami depresi ringan. Dia membutuhkan dukungan motivasi serta perhatian lebih untuk menghilangkan rasa sedih serta putus asanya. Kalau bisa dampingi selalu, jangan biarkan sendiri. Sering-sering ajak bicara dan bila perlu kasih kesibukan yang berhubungan dengan banyak orang"
"Apa tidak apa-apa?"
Tanya Tomy sangat khawatir.
"Seperti yang saya katakan, jangan biarkan ibu sendiri. Saya akan memberikan vitamin untuk suplemen tubuh"
Ujar dokter kembali menyarankan.
"Baiklah..."
Humaira pun di beri suntik vitamin. Lalu kemudian dokter pamit kembali ke tempat prakteknya karena pasien lain telah menunggunya disana. Tak berapa lama Humaira pun tertidur dengan lelap.
Tomy lalu memikirkan jalan keluar untuk masalah baru yang ia hadapi. Ia tidak ingin wanita yang ia cintai mengalami kondisi lebih parah lagi.
"Rom, atur posisi untuk isteri ku dikantor. Tambahkan meja kerja untuknya. Aku ingin isteri ku berada 24 jam bersama ku"
"Baik pak"
Romi segera menelpon bawahannya, mempersiapkan segala sesuatunya untuk nyonya besar mereka yang baru.
__ADS_1
# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘