
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
*****
Setelah menyetujui saran Tomy, Umi menuju Korea bersama Dewi asisten Humaira dan seorang lagi bawahan Dewi.
Sementara Umi dan Dewi pergi ke Korea , Humaira hanya diam di rumah menjaga Gibran. Swalayannya sementara di urus Romi dan bawahnya selama Humaira beristirahat.
Gibran jarang sekali di bawa ke luar rumah kecuali bersama Tomy. Sosok mungil Gibran sengaja tidak ingin terlalu di publikasikan mengingat pentingnya keamanan anak seorang crazy rich itu.
Humaira sudah selesai masak dan sudah mandi menunggu kedatangan suaminya malam itu. Tomy yang menelpon sudah dalam perjalanan pulang membuat Humaira merasa senang karena mereka akan menikmati makan malam bersama.
Humaira menunggu Tomy sambil bermain dengan Gibran. Gibran yang masih kecil merengek karena tidak tahan menahan lapar karena sudah hampir lewat jam makannya. Mau tidak mau Humaira menyuapi anaknya terlebih dahulu. Rencananya gagal untuk makan bertiga dengan anak dan suaminya.
Sudah satu jam lebih berlalu namun Tomy tak kunjung datang. Humaira segera mengambil smartphonenya untuk menelpon Tomy menanyakan keberadaannya.
"Assalamualaikum... Mas dimana? Kok belum nyampe?"
"Waalaikumsalam, maaf sayang aku lagi di Rumah sakit sekarang"
"Haa?! Rumah Sakit? Mas kenapa? Ada apa mas?"
Humaira melontarkan sederet pertanyaan tanda kecemasan dirinya.
"Kamu tenang ya, aku tidak apa-apa. Tadi menuju arah pulang ada kecelakaan di depanku. Karena tidak ada siapa-siapa jadi aku menolong korbannya"
"Alhamdulillah, sukurlah mas nggak kenapa-kenapa"
Ucap Humaira sambil mengelus dadanya.
"Iya... Aku baik-baik saja sayang, jangan khawatir ya?"
"Terus, korbannya gimana mas?"
"Sudah ditangani dokter dia..."
Belum selesai bicara pada Humaira, terdengar seorang dokter memanggil orang yang bertanggung jawab untuk pasiennya.
"Keluarga bu Sela?!"
"Ya saya?! Sebentar ya sayang, sepertinya ada sesuatu hingga dokter memanggil"
"Iya mas"
Humaira pun menunggu Tomy berbicara dengan dokter.
"Sepertinya bapak harus membuat pilihan, mempertahankan sang bayi atau ibunya?"
Deg, Humaira mendadak tegang. Suara di telpon yang tidak di akhiri Tomy memperdengarkankan dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Tapi saya bukan...."
"Harus segera pak, karena ini masa kritis"
"Bagaimana dengan pasien? Apa dia sadar?"
"Pasien nyaris lemah, jika tidak segera di ambil tindakan bisa-bisa keduanya tidak akan selamat"
__ADS_1
Ya Allah.... Apa yang baru saja aku dengar ini?
Humaira yang masih mendengarkan pembicaraan itu semakin tegang dan mulai memucat. Suaminya sedang di hadapi dua pilihan berat yang sebenarnya bukanlah tanggung jawabnya. Wanita itu seakan-akan tak berani mendengar pilihan suaminya. Tanpa sepengetahuan Tomy, Humaira mematikan sendiri panggilan telpon itu.
"Selamatkan ibunya"
Ujar Tomy dengan tegas.
"Baik, silahkan tanda tangan pak"
Tomy lalu membubuhkan tanda tangannya di lembaran kertas persetujuan.
Tomy terduduk lemah sambil memegang dahinya. Ia baru teringat isterinya dan melihat manggilan telpon itu telah berakhir. Kemudian lelaki melihat ke arah Romi sang asisten yang sedari tadi bersamanya dengan wajah cemas.
"Rom, hubungi bi Kartika. Katakan Sela berada di Rumah Sakit XX"
"Baik pak"
Tak berapa lama, bibi Kartika datang dengan seorang wanita yang kurang lebih seusia dengannya, serta seorang laki-laki yang kurang lebih sebaya dengannya.
"Apa yang terjadi dengan anakku?!"
Tanya wanita itu sambil mencengkeram lengan Tomy.
Tomy paham situasi itu pasti membuat orang bersedih dan panik. Ia tak merasa kesal wanita paruh baya itu menangis sambil mencengkeram lengannya dengan kuat. Tomy mengira wanita itu adalah ibunya Sela.
"Setelah operasi, ibu bisa menanyakan bagaimana situasinya nanti pada dokter. Mereka yang lebih paham dan lebih baik untuk memberikan penjelasan"
"Sela... Hiks, apa yang terjadi dengan anakku?!"
"Bohong, pasti kau yang sudah menyakiti adikku?!"
Pria yang bersama wanita paruh baya itu maju sambil menarik kerah baju Tomy. Seketika Romi juga maju dan mencengkeram kuat tangan lelaki itu untuk memaksanya melepaskan.
"Hati-hati tuan, saya adalah saksinya. Apa yang di katakan pak Tomy itu benar. Dan cepat lepaskan tangan anda"
Sorot mata tajam Romi yang dingin memberikan efek pada lelaki itu. Ia pun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Tomy.
"Silahkan laporkan saja ke pihak yang berwajib untuk mengusut kasus ini lebih jelas. Hanya sebatas ini saya bisa menolong. Saya permisi"
Ujar Tomy tanpa takut dan berpikir kewajiban menolongnya sudah selesai setelah keluarga sebenarnya datang. Ia pun berlalu tanpa ingin berlama-lama di tempat itu karena mengingat isterinya yang menunggu dengan cemas dirumah.
"Rom, cctv mobil ini bekerja kan?"
"Ya pak, kita punya bukti"
"Baguslah, sekarang ayo pulang?!"
"Baik pak"
Mobil Tomy pun melaju untuk segera sampai kerumah besarnya.
Sampai dirumah, Humaira yang belum tidur karena menunggu Tomy dengan cemas langsung menghampiri suaminya.
"Mas, bagaimana korbannya?"
"Semua sudah di atasi, dan keluarganya juga sudah datang"
__ADS_1
Ujar Tomy sambil membelai kepala Humaira untuk menenangkan wanita itu.
"Tapi tanpa sengaja tadi aku dengar mas harus membuat pilihan"
"Oh, kau mendengarnya? Aku memilih menyelamatkan ibunya"
Jawab Tomy sambil menghela napas panjang.
Keputusan yang di ambil suaminya tentu tidak lah mudah hingga ia terlihat menghela napas panjang. Humaira lalu memeluk tubuh tinggi tegap itu dengan hangat dan mencoba memberikan dukungannya pada lelaki yang di cintanya itu.
"Mas udah lakuin yang terbaik, aku percaya keputusan mas smbil pasti penuh pertimbangan. Nggak apa-apa mas, itu sudah yang terbaik"
"Kau sudah makan?"
"Belum mas, aku menunggu mas. Bagaimana aku bisa makan dengan tenang sedang suamiku sedang menghadapi kesulitan?"
Ujar Humaira menatap sendu suaminya.
"Sekarang sudah tidak apa-apa. Kita makan dulu yuk, setelah itu baru mandi"
"Mandi air hangat aja ya mas sudah malam soalnya"
"Iya sayang...."
Mereka pun makan malam bersama tanpa Gibran yang sudah tidur dari tadi.
Setelah selesai makan dan mandi, Tomy merebahkan tubuhnya di samping sang isteri. Terlihat lelaki itu masih menatap langit-langit kamar mereka.
"Mas sedang memikirkan apa?"
Tanya Humaira melihat suaminya yang tampak sedang berpikir.
Lelaki itu kemudian memiringkan tubuhnya menghadap sang isteri lalu memeluknya.
"Kau masih ingat Sela? Wanita yang pernah di jodohkan padaku"
Deg, jantung Humaira ketika berdetak keras. Pantas saja saat mendengar nama Sela di telepon ia merasa tidak asing. Mencoba memberanikan diri, Humaira pun bertanya.
"Apa dia korbannya?"
Humaira menatap Tomy menunggu jawaban dari lelaki itu. Tomy lalu mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kebetulan sekali?"
Humaira tampak bingung.
"Sudah lah, yang penting kau tahu siapa orangnya"
"Jadi ini yang membuat mas kepikiran?"
"Hmm, aku merasa kedepannya akan tidak mudah"
Ujar Tomy yang terlihat tampak berpikir.
"Seiring berjalannya waktu semua akan baik-baik aja mas. Aku selalu disini mendukung mas"
Tomy lalu meraih tubuh Humaira untuk lebih masuk dalam pelukannya. Sambil berpelukan perlahan mereka mulai tertidur dan terlelap.
__ADS_1