
Setelah beberapa lama mencari tahu informasi yang ia butuhkan, Juan akhirnya mengunjungi Cindy yang sedang mendekam di penjara.
Cindy yang tidak mengenal Juan tentu saja menjadi bingung karena ada seorang lelaki tak dikenal kini sedang duduk di hadapannya.
"Siapa ya?"
"Aku Juan..."
Ujar Juan sambil mengulurkan tangannya.
Cindy meraih tangan itu.
"Sepertinya kamu udah tahu siapa aku sampai mencari aku kesini"
"Iya, Cindy kan?"
Mereka lalu melepas jabatan tangan mereka.
"Ada perlu apa ya?"
"Aku ingin mengajakmu kerja sama"
"Kerja sama? Kerja sama apa?"
Cindy bingung. Baru saja bertemu dan belum mengenal lama, Juan sudah mengajaknya untuk berkerja sama.
"Membalas Dika dan Tomy"
Ujar Juan penuh keyakinan.
"Apa?! Hahahaha..."
Cindy tertawa mendengar ajakan Juan yang tak masuk akan itu.
"Kamu punya modal apa mau membalas mereka"
"Karena itu aku ingin bekerja sama denganmu agar kamu bisa membantuku"
"Apa yang bisa aku bantu? Kekuasaan ayahku? Kamu nggak lihat sekarang aku ada dimana? Jika memungkinkan dengan kekuasaan ayah, aku pasti nggak berada dalam sel busuk ini?
Juan terlihat berpikir. Apa yang dikatakan Cindy memang ada benarnya pikirnya. Lelaki itu pun menghela napas, kemungkinan untuk membalaskan dendamnya tidak akan terwujud karena tidak memiliki dukungan.
"Perusahaan yang ku bangun susah payah di rebut. Ketentraman keluargaku terganggu setelah mereka muncul"
Ujar Juan dengan tatapan sedih melihat ke arah Cindy.
__ADS_1
Wanita itu hanya bisa nyengir. Karena dia mengenal betul sosok siapa itu Dika. Pemuda itu tak akan mengeluarkan taringnya bila tidak terganggu. Apalagi Tomy sang abang, yang ketika murka lebih menakutkan dari Dika, pikir Cindy.
"Pasti ada alasannya mereka melakukan itu padamu"
Juan hanya diam, karena ucapan Cindy tidak lah salah.
"Humaira dulu adalah isteriku, wanita yang kini menjadi isteri Tomy Gunawan"
Kalimat yang di ucapkan Juan mengambil perhatian penuh seorang Cindy. Wanita itu sedikit terkejut mengetahui kebenaran yang baru saja terkuak.
Melihat Cindy yang merespon ucapannya, Juan pun mulai bercerita kisahnya bersama Humaira. Cindy yang tadinya acuh mulai mendengarkan cerita Juan dengan seksama. Karena baginya, apa yang di ceritakan lelaki itu merupakan informasi yang mengejutkan yang tidak semua orang mengetahuinya.
"Mandul? Apa kamu nggak tahu kalau wanita malam itu memiliki anak?"
Tanya Cindy setelah mendengar pengakuan Juan kalau dia menceraikan Humaira karena mandul.
"Wanita malam? Anak? Apa maksudmu?"
Juan balik bertanya atas ucapan Cindy yang mengatakan Humaira sebagai wanita malam dan telah memiliki anak.
Lelaki itu cukup terkejut dan bingung karena ia pun baru mengetahuinya dari Cindy sekarang ini.
"Kamu nggak tahu dia pernah berkerja sebagai wanita malam?"
"Aku nggak pernah tahu dia bekerja seperti itu. Dan soal anak aku tahu dia sudah punya anak dari suaminya sekarang"
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku menyewa informan untuk menyelidikinya. Meski informasi mereka terbatas dan di tutupi, tapi aku tahu dia memiliki anak sebelum menikah dengan Tomy. Dan anak itu cacat, dia sudah cukup besar"
Ucapan Cindy tampak serius hingga membuat Juan berpikir keras. Lelaki itu mencoba mengaitkan segala yang ia ketahui selama ini.
Tiba-tiba terlintas di kepalanya, ia teringat sebuah makam yang di tangisi Humaira kala itu. Dan makam itu adalah makam seorang anak kecil.
Juan mencoba mengingat kembali tanggal lahir dan wafatnya anak itu. Jika di kaitkan dengan masa bercerainya dengan Humaira, maka usia anak itu kurang lebih sama dengan masa ia berpisah dengan mantan isterinya itu.
Juan mengusap wajahnya, matanya melihat kesana kemari pikiranmya masih menerka-nerka walau matanya mulai berkaca-kaca, seakan-akan ia baru menemukan sesuatu yang berharga namun hilang sebelum ia genggam.
Mungkinkah? Tapi ini rasanya tidak masuk akal? Bisa saja itu bukan. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Humaira, ya dia?! Aku harus menanyakannya padanya!
"Apa kamu tahu sejak kapan dia mulai bekerja sebagai wanita malam?"
"Aku nggak tahu. Sudah aku katakan, kalau informasi mengenai dirinya sangat terbatas. Mungkin seseorang telah menutupi jejak masa lalunya"
"Aku rasa itu Tomy, karena dia yang memungkinkan melakukan hal itu"
__ADS_1
Ujar Juan merasa yakin.
"Aku rasa begitu"
....
Sesaat keheningan tercipta di antara mereka.
"Emm, baiklah aku pulang dulu. Minggu depan aku akan mengunjungimu lagi"
Ujar Juan yang merasa Cindy banyak memberinya informasi hingga lelaki itu memutuskan untuk mengunjunginya lagi.
"Oke"
Jawab Cindy singkat. Ia pun tak merasa keberatan dengan kunjungan Juan sebagai penghibur yang memberikannya banyak informasi.
Setelah meninggalkan lapas Juan langsung menuju ke makam yang waktu itu Humaira datangi. Sesampainya disana, ia segera mencari malam itu dan akhirnya menemukannya setelah beberapa kali mengitari dan melihat tanggal lahir serta wafatnya.
"Ini dia, nggak salah lagi. Tanggal lahir dan wafatnya sama. Danu...."
Juan memperhatikan batu nisan itu yang ternyata tidak menyantumkan nama Bin di belakangnya. Ia jadi semakin curiga jika Danu adalah putranya meski ia belum yakin.
Perlahan Juan lalu menggerakkan tangannya untuk menyentuh batu nisan itu. Deg, sesaat jantungnya berdetak keras walau dia tak mengerti perasaan apa itu.
Entah mengapa Juan tiba-tiba merasa sedih seperti kehilangan sesuatu.
"Siapa kamu nak? Apa aku mengenalmu?"
Batu nisan yang tak bergeming itu membuat Juan mulai berkaca-kaca. Air matanya mulai mengenang di pelupuk matanya.
"Kenapa aku bisa sesedih ini? Perasaan apa ini? Ataukah kita memiliki suatu ikatan?"
Juan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Air matanya mulai menetes tanpa mampu lagi ia bendung.
"Apa Danu adalah... a... an.. nak ayyaaaah.... hiks?"
Meski ragu dan terbata-bata akhirnya Juan mengucapkan kata yang sedari tadi membuat gejolak hatinya menjadi tak menentu. Ia pun bertekad untuk mengetahui siapa Danu dari Humaira setelah wanita itu pulang dari luar negeri.
Juan tentu saja mengetahui jika mantan isterinya itu sedang tidak ada di rumahnya. Ia mengetahui dari satpam yang menjaga rumah itu kalau mereka sekeluarga sedang liburan ke luar negeri.
Lelaki itu pulang kerumahnya dengan perasaan sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Apalagi sesampainya di rumah ia melihat sang ibu sedang melamun dengan tatapan kesedihan menerawang jauh kedepan.
Juan belum mampu menceritakan pada ibunya apa yang baru saja ia ketahui meski itu sama-samar. Ia tak ingin berita itu menambah pukulan batin bagi sang ibu yang kini sedang terpukul akan penyakit Rima serta kehidupan yang ia jalani sekarang.
Tabungan mereka mulai menipis, kehidupan mewah mulai memudar. Satu persatu barang berharga melayang. Di tambah lagi cemoohan orang-orang yang mengetahui apa yang terjadi pada keluarga itu. Hal itu menyebabkan Salmah ibu dari Juan dan Rima mulai mengalami depresi.
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Atau Bukan Soulmate yang menyukai kisah komedi. Terima Kasih🙏🤗
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊