
Setelah menjalani kehidupan rumah tangga barulah terlihat jelas perbedaan pendapat serta kebiasaan antara Yasmin dan Dika hingga menimbulkan perdebatan-perdebatan.
Terkadang menghindari agar tidak berdebat lebih jauh, Dika pergi menemui abangnya. Begitu pula dengan Yasmin juga sama, wanita itu menemui Humaira untuk menceritakan segala keluh kesahnya.
Di dua tempat yang berbeda dengan waktu yang sama.
"Kadang itu masalah sepele doang bang, tapi ngamuknya udah ngalahin singa bang, ngeri banget?!"
Ujar Dika menceritakan kemarahan Yasmin yang menyeramkan pada Tomy.
"Gimana nggak kesel kak?! Kadang nih ya, aku udah capek beres-beres rumah, eh Dika dengan santainya ngeletakin baju kotor atau kaos kaki ke sembarang tempat. Padahal aku udah nyiapin keranjang baju kotor loh. Tinggal masukin apa susahnya sih?!"
Yasmin mencurahkan kekesalannya bercerita pada Humaira.
Disaat mendengarkan kisah itu, Humaira dan Tomy saling bertukar pesan yang mengabarkan kalau pasutri itu sedang curhat.
Humaira : Yasmin ngedumel Dika jorok mas
Tomy : Hehehe, Dika juga datang menemuiku
Humaira : Cerita apa mas?
Tomy : Dimarahi isterinya
Humaira : Coba saranin pake ART aja mas
"Kenapa nggak coba pake ART aja?"
Saran Humaira pada Yasmin.
"Ya Allah bang, abang lupa kalau adik abang ini gantengnya nggak ketulungan? Apalagi Yasmin itu pencemburu"
Ujar Dika setelah mendengar saran dari Tomy untuk menggunakan Asisten Rumah Tangga (ART).
"Ntar kalau pembantu naksir Dika gimana kak? Masalah Rima waktu itu aja bikin aku trauma"
"Jangan yang muda, kan bisa cari wanita paruh baya"
Ujar Tomy dan Humaira secara serempak di tempat yang berbeda.
Solusi yang diberikan Tomy dan Humaira memberikan dampak positif bagi Yasmin dan Dika. Keduanya saling mengutarakan pendapat untuk mengambil ART meski itu bukan ide mereka sendiri sepenuhnya.
Baik Dika maupun Yasmin tidak mengetahui kalau mereka masing-masing saling curhat pada pada Tomy dan Humaira. Demikian juga Tomy dan Humaira menjaga keamanan privasi mereka.
Kehidupan mereka jauh lebih baik setelah ada bantuan dari ART. Pekerjaan Yasmin menjadi lebih ringan setelah adanya bu Tuti ART mereka.
Usia bu Tuti yang sudah genap 45 tahun sangat sulit untuk melamar pekerjaan. Tadinya ia mencoba melamar di butik Yasmin. Namun karena usianya yang tak lagi muda, Yasmin pun akhirnya menawarkan untuk menjadi ART nya dengan gaji yang lebih besar sedikit dari karyawan butik nya. Bu Tuti mau dan akhirnya bekerja di rumah Dika dan Yasmin.
__ADS_1
Bu Tuti datang di pagi hari dan pulang sore hari. Ia tidak menginap karena di rumahnya ada 3 orang anaknya yang sedang menunggunya. Suami bu Tuti pekerja serabutan. Karena itu lah bu Tuti bekerja untuk membantu meringankan beban suaminya.
Bu Tuti sering di beri Yasmin bahan makanan yang nyaris layu karena ia tidak sempat memasak atau sering makan di luar bersama Dika. Bu Tuti dengan senang hati menerima bahan itu karena baginya itu sudah membantunya mengurangi biaya belanja dapurnya hari-hari.
Lalu suatu hari, salah seorang anak bu Tuti menyusulnya kerumah majikannya. Bu Tuti yang tidak bisa di hubungi membuat anak gadisnya terpaksa menyusul untuk meminta uang membayar iuran SPPnya. Tahun ini tahun terakhir anak gadis bu Tuti menjadi seorang pelajar. Setelah tamat sekolah ia berencana langsung mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya sendiri.
"Ini, sekalian punya Yesy juga. Udah sana ibu ndak enak kalau nanti tuan rumahnya datang terus lihat kamu disini"
Ujar bu Tuti memberikan uang SPP untuk kedua putrinya.
"Ibu kok kayak ngusir gitu sih, tuan rumah ini galak ya?"
"Udah sana, jangan banyak nanya kamunya..?!"
Ketika hendak keluar, Yesa dan bu Tuti bertemu Dika yang pulang sebentar kerumahnya karena ada berkas yang tertinggal.
Yesa terkejut, ia terus menatap Dika tanpa pangling. Bu Tuti mencubit lengan anak gadisnya itu hingga Yesa tersadar dari lamunannya dan meringis kesakitan.
"Aww, sakit ini bu?!"
Gerutu Yesa berbisik pada ibunya.
"Owh tuan sudah pulang?"
Sapa bu Tuti ramah.
Ujar Dika sambil berlalu dan langsung menuju ruang kerjanya.
Bu Tuti langsung mendorong Yesa untuk segera pergi dari rumah itu. Ia merasa tidak nyaman apalagi baru saja Dika pulang kerumahnya di saat Yesa masih disana. Padahal sebenarnya, Dika sendiri tidak terlalu memperhatikan. Bahkan ia sendiri tidak tahu dengan hadirnya Yesa karena ketika masuk kerumahnya, Dika melihat ke arah arlojinya sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
"Wah, anak majikan ibu ganteng banget, kayak artis?! Duh jantung ku tadi aja hampir copot dan sampai sekarang masih berdebar-debar"
"Udah kamu jangan kesana lagi lain kali. Ntar kalau ibu di pecat gimana? Kan susah cari kerja senyaman itu dengan tuan yang baik juga"
"Ih Yesy...,kamu nggak bisa banget ngebiarin aku senang ya?"
"Bukan gitu Yesa, aku kepikiran ibu aja kalau sampai di marahi majikannya kan kasihan"
"Udah ah, nggak asik cerita sama kamu bawel banget?!"
"Kluk"
Yesa menutup telponnya setelah Yesy berusaha untuk menasehatinya. Ia pun segera memesan ojol untuk pulang kerumahnya.
Sore hari ketika bu Tuti sudah pulang kerumahnya, Yasmin pulang bersama Dika. Rumah yang dalam keadaan bersih dan nyaman membuat Yasmin merasa tenang. Keharmonisan pun kembali tercipta.
Saat santai Yasmin mengecek CCTV rumahnya sambil menemani Dika bermain game di smartphonenya. Keningnya sedikit mengerut saat melihat seorang gadis bertamu dan menempel pada bu Tuti.
__ADS_1
Siapa ya? Kenapa bu Tuti tadi nggak ada ngomong apa-apa ya?
Yasmin semakin penasaran ketika bu Tuti memberikan sejumlah uang kepada gadis muda itu.
Apa itu uang gaji yang di minta bu Tuti padaku lebih dulu untuk bulan ini ya? Apa dia anaknya?
Yasmin sementara ini hanya bisa menerka-nerka, mengaitkan apa yang di alami nya hari itu. Ya, bu Tuti memang meminta gaji bulan depan diberikan di pertengahan bulan ini dengan alasan untuk membayar uang sekolah anaknya. Melihat gadis muda yang menempel pada Bu Tuti, Yasmin tak mengira ternyata anak bu Tuti sudah beranjak dewasa.
Dan hal yang lebih membuat Yasmin merasa tidak nyaman adalah pertemuan Dika dengan gadis itu tanpa sangaja di ambang pintu. Dika tampak biasa saja sesuai gayanya yang cool, namun berbeda dengan tatapan gadis itu yang terlihat bengong ketika melihat Dika.
"Kenapa yank?"
Tanya Dika yang ternyata memperhatikan wajah isterinya yang tampak cemas.
"Oh..., nggak ada apa-apa yank. Emm...yank? Kamu tadi siang balik kerumah?"
Tanya Yasmin hati-hati.
"Iya, aku pulang ngambil berkas laporan ku buat bang Tomy. Kenapa?"
Jawab Dika santai tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan gamenya.
"Kamu tahu siapa gadis di samping bu Tuti ini?"
"Gadis? Gadis yang mana? Perasaan waktu itu nggak ada?"
"Ini ada"
Dika melihat laptop yang di tunjukan Yasmin padanya.
"Oh, ada ya? Siapa dia?"
Tanya Dika bingung melihat isterinya, karena waktu itu Dika benar-benar tidak memperhatikan keadaan sekitar.
"Entahlah, besok aku coba tanya bu Tuti saja"
Mendengar jawaban isterinya Dika baru teringat jika Yasmin sangatlah pencemburu. Ia langsung melepaskan smartphonenya dan melihat ke arah istrinya. Perlahan Dika meraih jari jemari Yasmin dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi disana.
"Mungkin itu keluarga, sebaiknya jangan tanya karena bu Tuti takutnya merasa tidak nyaman. Toh rumah masih dalam keadaan baik-baik aja kan? Nggak ada yang hilang kan?"
"Nggak ada sih..."
"Aku tahu apa yang kamu cemasin. Ya udah, lain kali kalau ada barang yang tinggal aku minta Wandi aja yang ngambilin"
Setelah mendengar ucapan suaminya Yasmin kembali terlihat tenang dan mulai tersenyum. Ia pun menganggukan kepala menjawab ucapan Dika.
Yasmin dulunya bukanlah wanita pencemburu. Sifat itu mulai ada sejak kejadian Cindy dan terutama Rima. Namun walau sifatnya berubah, Dika tidak pernah menyalahkan Yasmin atau merasa kesal dengan rasa cemburu yang isterinya miliki. Bila di posisi Yasmin pun, mungkin ia lebih memiliki dari sekadar rasa cemburu. Begitulah pemikiran Dika.
__ADS_1
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊