
Kehidupan Tomy dan Humaira kembali seperti biasanya, damai dan tentram. Begitu pula kehidupan Yasmin dan Dika yang tampak selalu mesra meski Yasmin belum ada tanda-tanda kehamilan.
Di momen akhir tahun itu mereka berencana untuk jalan-jalan keluar negeri menikmati malam pergantian tahun disana. Paris menjadi kota tujuan mereka kelak. Lalu setelah itu, mereka berencana ke Korea sekalian menghampiri Umi yang tahap pemulihan pasca operasi plastiknya hampir selesai.
Dua minggu sebelum keberangkatan, Yasmin dan Humaira melakukan persiapan liburan mereka nanti dengan membeli beberapa pelengkapan terutama pakaian.
Ini kali pertama Yasmin ke luar negeri. Wanita itu begitu bersemangat apalagi Paris adalah kota yang sangat ingin ia kunjungi.
Tiba dirumah setumpuk belanjaan memberati tangannya hingga Yasmin kewalahan. Ia pun terduduk kelelahan di ruang keluarga di rumahnya.
"Bu Tuti, nanti hampir 2 minggu saya mau ke luar negeri sama suami saya. Kalau bu Tuti nginap disini selama saya keluar negeri bisa nggak ?"
"Gimana ya bu, di rumah ada anak-anak dan suami yang nungguin saya"
"Mmm, Ya udah kalau gitu 3 hari sekali ibu tetap datang kesini buat bersih-bersih aja ya"
"Iya bu, bisa. Dan maaf ya bu...?"
"Iya nggak apa-apa. Bu bantuin bawakan belanjaan saya ke kamar ya bu"
"Iya bu"
"Ting tong"
Suara bel pintu.
"Sepertinya ada tamu. Bawa aja bu, biar saya yang bukain pintu"
Ujar Yasmin sambil berlalu menuju ke arah pintu.
"Baik bu"
Bu Tuti lalu membawa semua paper bag itu menuju lantai atas kamar utama tuan dan nyonyanya.
"Ceklek"
Pintu di buka.
"Assalamualaikum nyonya..."
"Waalaikumsalam. Cari siapa ya?"
"Saya putrinya bu Tuti. Maaf mendatangi saat jam kerja. Tapi adik saya yang kecil demam tinggi saya bingung mau hubungi ibu bagaimana karena hapenya nggak aktif"
Ujar gadis muda yang mirip di layar CCTV waktu itu terlihat panik sambil memainkan jari jemarinya. Keringat yang bercucuran di jidatnya menandakan gadis itu seperti berlari menuju rumah majikan ibunya.
"Masuklah dulu, saya akan panggilkan bu Tuti"
Ujar Yasmin ramah.
"Maaf ya nyonya saya merepotkan..."
"Nggak apa, sebentar ya..."
Yasmin lalu menyusul bu Tuti di lantai atas. Beberapa saat kemudian bu Tuti turun tergesa-gesa menghampiri anaknya.
"Yesy? Fahrul gimana?"
Tanya bu Tuti setengah panik.
"Arul badannya panas banget bu, Yesy bingung mau gimana. Mana bapak belum pulang, Yesa juga pergi main kerumah temennya"
"Bawa dulu ke Rumah Sakit terdekat atau klinik bu. Nggak apa-apa, ibu pulang awal aja hari ini"
__ADS_1
Ujar Yasmin menyela pembicaraan mereka.
"Makasih banyak bu"
Ujar bu Tuti yang tampak lega namun masih terlihat panik membayangkan keadaan anaknya.
"Kalau begitu kami permisi ya nyonya, Assalamualaikum..."
Pamit Yesy ramah.
"Waalaikumsalam..."
Ternyata dia ramah, berbeda dengan sikap nya saat terlihat di CCTV.
Bu Tuti melangkah cepat di ikuti Yesy. Untungnya jarak rumah mereka dengan Yasmin tidak jauh. Jika berlari selama 15 menit mereka akan sampai di sebuah gang kecil dimana bu Tuti dan keluarganya tinggal.
*****
Perjalanan liburan pun tiba. Rombongannya keluarga Tomy dan Dika tiba di bandara di antar oleh Romi, Wandi, dan beberapa asisten lainnya. Saat berpamitan terlihat Romi dan Wandi berkaca-kaca menatapi keberangkatan atasan mereka. Setelah hilang di pelukpuk mata baru lah Romi melihat ke arah Wandi yang sama seperti dirinya berkaca-kaca.
"Ngapain lu sedih?"
Tanya Romi keder pada Wandi.
"Siapa yang sedih bang, cuma prihatin sama diri sendiri. Di tinggal 2 minggu bakal lembur tiap malem bang, kerjaan pasti numpuk"
"Lah..."
Romi melengos mendengar jawaban Wandi. Ternyata bukan dirinya seorang yang bernasib demikian, tetapi Wandi pun sama.
Beralih-alih sedih, Romi tersenyum dan akhirnya terkekeh.
"Lucu bang?!"
"Alhamdulillah, gue ada temennya"
Wandi yang tadinya kesal ikut tertawa melihat nasib mereka yang sama.
*****
Yasmin tersenyum lebar setelah duduk di pesawat selama 21 jam dengan stransit sebanyak 2 kali ketika tiba di Paris.
"Indahnya?!"
Dika tersenyum bahagia melihat sang isteri yang tampak begitu senang tiba di tempat tujuan mereka.
Berbeda dengan Humaira yang sedikit kerepotan karena Gibran yang rewel karena mabuk. Namun hal itu tak mematahkan rasa bahagianya bisa berlibur dengan semua anggota keluarganya.
Mereka pun tiba di hotel yang telah di pesan Tomy sebelum keberangkatan.
"Mas, bagus banget?!"
"Kau suka?"
"Iya mas, aku suka"
"Ruangan ini ada box bayi yang sengaja aku pesan. Jadi Gibran tidak akan menganggu malam indah kita sayang"
Tomy mencium bibir Humaira dengan gairah.
"Tok... Tok!!"
__ADS_1
Ciuman yang baru saja dimulai pun terpaksa berhenti karena ketukan pintu Dika yang menoleh ke arah alain.
"Nggak bisa apa ni pintu di tutup?"
"Ck, mengganggu saja. Mau apa?"
Tanya Tomy sedikit kesal.
"Nggak laper bang?"
"Turun saja dulu Dik, nanti kami menyusul"
Ujar Humaira yang tampak malu karena terciduk.
Dika langsung meninggalkan mereka tanpa bicara panjang lebar. Ia dan Yasmin menuju restoran hotel tempat mereka menginap.
"Nanti ya, kita lanjut lagi. Aku juga laper nih"
Bujuk Humaira pada Tomy yang langsung memeluknya kembali setelah Dika pergi.
"Ya udah, Gibran biar aku yang gendong"
"Makasih mas"
Mereka lalu menyusul Dika menuju restoran untuk makan siang.
Setelah makan siang mereka beristirahat untuk menyiapkan diri menjelajahi indahnya Kota Paris dimalam hari.
Mereka berlima berjalan bersama menyusuri jalan kota Paris. Tubuh Gibran yang gembal membuat Humaira, Tomy dan Dika bergantian menggendongnya.
Gibran sendiri cukup tenang dan anteng di gendong secara bergilir. Suasana malam sepertinya memukau pandangannya karena melihat banyaknya lampu yang menyala.
"Duduk disana yuk?!"
Ajak Humaira pada semua ketika melihat tanah lapang dengan hamparan rumput hijau di dekat menara Paris.
Tomy asik bermain dengan anaknya di saksikan Humaira yang sambil mengambil foto mereka. Gibran yang mulai berjalan selangkah dua langkah di lepaskan di rerumputan itu membuatnya terlihat begitu mengemaskan.
Sementara itu Yasmin dan Dika sibuk sendiri berselfi yang tidak berada jauh dari Humaira dan keluarga kecilnya.
"Kak, bagus ya tempatnya. Aku seneng banget disini. Tinggal disini pun aku mau"
Ujar Yasmin yang menghampiri Humaira setelah selesai mengambil foto-foto indahnya.
"Nah denger tu Dik, kode itu"
Ujar Humaira mengartikan ucapan Yasmin sambil terkekeh.
"Boleh aja, doain aja bang Tomy buka cabang disini, jadi aku bisa mutasi disini"
"Heheheh, nah mas... kode dari Dika itu?"
Kali ini suaminya sendiri yang di candai oleh Humaira.
"Aamiin..."
Tomy hanya bisa mengaminkan ucapan semua karena baginya ucapan adalah doa.
Kebahagian sederhana, berkumpul bersama tanpa seorangpun yang mengganggu ketenangan mereka. Gelak tawa tanpa beban, serta tatapan mata yang penuh kebahagiaan membuat suasana malam itu semakin indah.
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗