
Beberapa hari berlalu, sepulangnya Humaira dari Aceh menemui bibinya, kembali Humaira pergi lagi membawa bibinya ke Singapura untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik.
Kepergiannya keluar negeri tidak di dampingi Tomy dan anaknya. Tomy memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta karena ada urusan pekerjaan yang sangat penting yang tidak dapat ia serahkan kepada Romi sang asisten. Tomy juga tidak mengijinkan Gibran di bawa bolak balik ke Rumah Sakit. Dan akhirnya, Humaira pun pergi bersama, bibinya dan asistennya Dewi.
Siang itu, Umi sedang asik mengasuh Gibran. Beberapa hari tidak bertemu dengan balita itu, rasa rindunya kian menggebu.
"Duh, makin lucu aja ini ponakan Umi, umm... gemes banget?!"
"Waktu umur sigitu, saya juga lucu loh mbak"
Ujar Asep yang datang entah dari mana berkata sambil menyadarkan tubuhnya di dinding.
Umi hanya melirik Asep dan terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Laah, nggak percaya? Saya ini imut loh mbak. Buktinya mbak aja dulu manggil saya leonardo kan?"
Sebenarnya apa yang dikatakan Asep tidak sepenuhnya salah. Meski warna kulit Asep kuning Asia tapi dia memiliki mata berwarna coklat dan wajahnya sedikit mirip Leonardo sang aktor Hollywood.
"Ayo mbak nikah?"
Ujar Asep yang secara tiba-tiba.
"Apaan sih Sep?!"
Ujar Umi kesal yang menoleh pada lelaki itu.
"Dih, semenjak saya mengutarakan perasaan saya yang sebenar-benarnya dan sedalam-dalamnya, mbak mulai berubah sama saya. Nggak pernah lagi manggil kayak dulu sekarang manggilnya Asep"
Ujar Asep melow dan merasa disisihkan.
"Curhat?!"
"Saya serius loh mbak?"
"Aku yakin kamu itu cuma kagum sesaat aja Sep, dari buruk rupa tiba-tiba jadi cinderella pasti kamu takjubkan? Lagian kamu lebih muda dari aku dan juga ada juga beberapa karyawan di sini yang masih sendiri dan jauh lebih muda dari aku. Siapa tahu salah satu dari mereka itu jodoh mu Sep"
"Saya maunya mbak bukan yang lain. Banyak kok pernikahan beda usia. Dan saya yakin mampu melindungi mbak Umi"
__ADS_1
"Udah mbak Umi terima saja? Kayaknya Asep serius banget itu"
Kiki, pengasuh tambahan Gibran yang baru saja selesai makan siang ikut menyambung obrolan mereka.
"Lah kamu ini dateng-dateng malah nambah dia besar kepala
aja Ki..."
"Loh, bener loh mbak Umi, saya sering lihat Asep selalu memperhatikan mbak Umi dari jauh. Mana pake senyum-senyum sendiri lagi"
Umi langsung melihat ke arah Asep setelah mendengar penuturan dari Kiki. Ia ingin melihat ekspresi lelaki itu untuk mengetahui benar tidaknya yang di katakan Kiki.
Asep tertunduk tersipu malu di tatap Umi. Umi menghela napasnya karena ternyata apa yang dikatakan Kiki benar adanya.
"Waktu istrahat mu sudah kan Ki? Nah tolong jaga Gibran, aku ingin istirahat sebentar. Dan kamu ikut aku?!"
Ujar Umi minta pada Kiki untuk menggantikannya menjaga Gibran, lalu mengajak Asep untuk mengikuti dirinya.
Asep terkejut melihat Umi yang mengajaknya untuk keluar dari ruangan itu. Wajahnya mendadak pucat seputih biji nasi karena perubahan sikap Umi yang tiba-tiba menjadi dingin.
Tiba di sudut rumah yang sedang tidak di lalui oleh seorang pun, Umi menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Asep.
"Aku nggak suka bercandamu ini Sep?! Jangan main-main seperti ini?!"
Asep dengan cepat menggelengkan kepalanya menampik tuduhan Umi padanya.
"Sumpah mbak Umi, saya nggak main-main?! Serius saya suka mbak Umi, dari dulu malah, sebelum mbak Umi operasi. Lah saya bingung, jujur aja saya nggak di percaya apalagi saya bohong?!"
"Aku cuma menganggap mu teman biasa Sep, nggak lebih"
"Apa mbak Umi udah punya orang yang di sukai?"
"Nggak ada. Lagi pula mana berani aku menyukai seseorang, aku tahu posisi dan keadaanku. Nggak akan ada yang mau dengan orang seperti ku"
"Emang mbak Umi orang yang seperti apa? Menurut saya mbak Umi itu baik dan sopan. Mbak Umi juga penyayang. Saya cuma butuh wanita seperti mbak Umi untuk merawat dan membesarkan anak-anak saya kelak"
Asep yang berkata sambil menatap Umi serius terlihat begitu sungguh-sungguh.
__ADS_1
Ada gejolak di hati Umi yang membuat pendiriannya sedikit goyah. Umi tertunduk lalu mengalihkan pandangannya ke lain. Ia berusaha menghindar tatapan mata lelaki itu pada dirinya.
"Mungkin mbak Umi merasa belum kenal saya lebih jauh. Nggak apa-apa mbak, kita nikah baru pacaran. Katanya lebih indah loh mbak"
Asep berkata dengan percaya diri.
"Lalu bagaimana jika kita merasa nggak cocok, apa begitu mudah melakukan perceraian? Perceraian itu hal yang di benci oleh Allah"
"Kenapa harus langsung mengambil pemikiran bercerai sih mbak? Yang namanya pernikahan itu menjadikan sah terhadap dua insan yang berbeda, tentu pasti ada perbedaan-perbedaan lainnya. Misalnya kebiasaan hidupnya atau gaya berpikirnya dan lain-lain. Tapi setelah berumah tangga, diri kita bukan milik kita sendiri. Diri kita juga milik pasangan begitu pula sebaliknya. Untuk itu kita berusaha saling memahami, menghargai dan menyesuaikan apapun yang akan kita lakukan. Dan mengambil keputusan juga di rundingkan bersama, karena hasil dari keputusan itu pasti melibatkan kedua pasangan itu yang merasakannya"
Ujar Asep panjang lebar. Ia berusaha memberikan jawaban yang dapat meyakinkan Umi sesuai dengan apa yang ia pahami.
"Ternyata kamu sudah berpikir sampai kesana?!"
"Saya belajar dari orang-orang sekitar saya mbak. Pentingnya kita bersikap terbuka pada pasangan dan selalu mengutamakan mengambil keputusan bersama. Terkadang hal-hal kecil yang di putuskan secara sepihak mengundang keributan. Dan akhirnya keributan-keributan kecil itu terus di ungkit kembali tiap mereka bertengkar. Yang lama-lama mengakibatkan rasa lelah hati, hingga akhirnya menumpuk dalam diri dan pecah menjadi keributan besar ketika hati sudah nggak mampu menahan. Dan saya nggak mau itu terjadi pada pernikahan kita nanti mbak"
Umi melengos mendengar ucapan Asep di akhir kalimat, seakan-akan ia telah menyepakati untuk menerima Asep sebagai suaminya.
"Kapan aku setuju untuk menikah dengan mu?"
"Mbak, jika mbak mau pacaran sama saya setelah menikah nanti, saya janji, saya akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab lahir dan batin. Saya juga berjanji akan berusaha menjalankan pernikahan seperti yang baru saja saya jelaskan tadi. Dan saya berharap, kita jangan sampai meniadakan komunikasi saat kita berbeda pendapat, atau saat kita sedang bertengkar. Diam boleh, tapi saat emosi sedang tinggi. Tapi saya harap, emosi itu nggak di pelihara terlalu lama agar nggak menimbulkan kebencian dan agar kepala segera menjadi dingin untuk segera menyelesaikan perbedaan pendapat"
"Apa ini kamu sedang melamar?"
"Iya mbak, saya memang mau melamar mbak Umi dengan mendatangkan orang tua saya. Tapi itu kalau mbak Umi sudan setuju. Gimana mbak?"
"Kamu melamarku seperti mengajakku berunding melakukan suatu permainan"
"Astagfirullah, saya nggak main-main loh mbak. Saya serius...."
Umi menatap Asep yang terlihat penuh harap.
"Akan aku pikirkan dulu"
Jawab Umi beralih menatap ke samping. Ia terlihat malu menjawab pertanyaan Asep.
Asep langsung senyum sumringah, walau pun Umi tidak langsung menjawab, namun baginya kesempatan itu masih ada dari pada langsung di tolak saat itu juga.
__ADS_1
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗