
Zulfah terkagum-kagum melihat kehidupan Humaira yang sangat mewah. Mulutnya sampai ternganga melihat isi rumah yang di hiasi dengan barang-barang mewah. Matanya tak henti mamandang kesana dan kemari karena dirinya baru kali ini menginjakkan kaki ke rumah konglomerat.
Lalu di ruang tengah tempat biasa mereka bersantai, ada Gibran yang baru berjalan selangkah dua langkah sambil memegang mainan dan terkekeh sendiri. Pantatnya gembul oleh pempers yang membuatnya terlihat mengemaskan.
"OMG, lucu banget ini bayi... ya Allah?! Anak kak Hum?"
Zulfah histeris melihat sosok Gibran dan langsung menghampirinya dan mencoba menggendongnya.
"Iya, itu Gibran anakku"
Ujar Humaira tersenyum sambil melambaikan tangannya pada anaknya.
"Ya Allah... kok lucu banget sih?!"
"Ta... ta.....ta..." (Gibran berceloteh)
"Uluh tayaaang, kamu gemesin banget sih?!"
Zulfah mengambil tubuh Gibran dan menggendongnya. Ciuman di pipi Gibran yang cubby pun ia daratkan bertubi-tubi.
"Zulfah, bi Imah akan menunjukkan kamarmu selama disini. Pergilah bersihkan dirimu. Ada baju tidur baru di dalam lemari, kau bisa menggunakannya. Setelah itu kita akan makan malam bersama"
Ujar Humaira setelah melihat waktu yang hampir menjelang magrib.
Sholat berjamaah pun di lakukan di ruang tengah bersama-sama. Selesai sholat mereka duduk bersantai sambil mengobrol kembali bersama Zulfah.
"Kak, suasana dalam keluarga kakak tenang sekali, damai rasanya"
Ujar Zulfah setelah selesai melipat mukenanya.
"Nanti bila kau mau berumah tangga, carilah sosok laki-laki yang bisa membimbingmu dan ikhlas bertanggung jawab atas dirimu. Tapi Reynaldi itu siapa mu?"
"Oh, dia sepupuku kak, anak dari adik ayahku"
"Lalu ayahmu dimana?"
"Ayah sudah meninggal kak. Waktu ada kerusuhan di Aceh, ayah terkena peluru nyasar"
"Maaf, aku turut berduka cita ya Zul?"
Ujar Humaira sedih sambil menyentuh tangan Zulfah.
"Nggak apa kak, susah lama juga kejadiannya"
Jawab Zulfah santai yang memang terlihat tidak bersedih lagi.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." (serempak)
Ucapan salam dari Reynaldi menghentikan pembicaraan mereka sesaat.
__ADS_1
"Sudah datang rupanya, ajak Rey sekalian makan malam bersama kita Zulfah"
"Iya kak, tapi aku mau letakin barang-barang ku dulu"
"Ya baiklah..."
Zulfah lalu membawa kopernya di ikuti oleh Reynaldi menuju kamarnya. Saat berpaspasan dengan Umi, Zulfah tersenyum ramah pada wanita itu.
"Siapa dia Hum?"
"Dia adik sepupu ku kak?"
"Apa?! Adik sepupu? Kamu masih punya keluarga Hum?"
"Ceritanya panjang kak, untuk saat ini aku percaya dia sepupuku"
Humaira dan Umi pun membantu bi Imah menyiapkan makan malam mereka sambil menceritakan apa yang baru saja ia ketahui mengenai keluarganya kepada Umi.
"Sukurlah Hum, ternyata kamu tidak sendirian di dunia ini"
Ujar Umi yang tersenyum meski terlihat sedikit sedih.
Humaira yang mengamati ekspresi Umi mengerti kalau Umi sedih memikirkan dirinya yang telah di buang oleh keluarganya. Meski kedua orang tua dan saudara kandung Umi meninggal dalam musibah kebakaran, namun Umi masih memiliki sanak saudara dari sebelah bapak dan ibunya. Namun sayangnya, mereka tidak mau mengakui Umi yang berwajah cacat, dan sebagian lagi tidak mau menanggung biaya hidup Umi yang saat itu membutuhkan banyak biaya perawatan untuk luka bakar.
"Kak, apa kakak nggak mencoba untuk mencari dan menemui mereka? Apa lagi sekarang wajah kakak sudah sangat cantik"
Ujar Humaira yang tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk mempertemukan Umi dengan keluarganya.
"Hehehe, jauh sekali ternyata pemikiran kakak udah sampai kesana"
"Ngomong-ngomong Hum, semenjak pulang dari liburan waktu itu, Dika dan Yasmin kayaknya sudah jarang kemari ya?"
"Sibuk kayaknya kak"
"Sibuk buat anak maksudmu..."
Ucap Umi dengan santainya.
"Hehehe, bisa aja kakak. Namanya juga semangat muda kak"
"Yasmin kuat juga ya ngimbangi si Dika"
Humaira hanya terkekeh mendengar ucapan Umi.
Saat sedang asik mengobrol, Tomy ternyata sudah duduk di kursinya dan sambil mendengarkan percakapan Humaira dan Umi. Lelaki itu itu hanya menghela napas sambil tersenyum-senyum sendiri mendengar pembicaraan panas dua wanita itu.
"Loh, mas sudah duduk disini rupanya. Bi Imah tolong panggil tamunya kesini ya. Dan Minta Kiki menjaga Gibran sebentar"
"Baik bu"
Bi Imah segera menjalankan perintah majikannya untuk memanggil Zulfah dan Reynaldi untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Makan malam pun berlangsung sambil mengobrol santai.
"Sudah berapa lama kalian mencari isteriku?"
Tanya Tomy santai.
Namun sikap Tomy yang dingin itu membuat pertanyaan ringan menjadi terasa seperti introgasi. Akibatnya, Zulfah dan Reynaldi sedikit tegang karenanya.
"Itu sudah sekitar 6 tahun emm..om.. Eh..pak, bang....?"
Ujar Zulfah gugup.
"Sebelumnya ibu yang mencari, ibu pernah menyusul ke rumah kak Hum yang lama. Tapi yang tinggal di situ bilang kak Hum sudah lama pindah dan rumah itu sudah di beli olehnya"
"Itu pasti alasan keluarga Juan"
Ujar Humaira menyela.
"Lalu 2 tahun terakhir penyakit ibu makin parah, jadi aku yang menggantikan ibu mencari kak Hum. Kebetulan Om mengirimkan foto kak Hum waktu menikah dengan lelaki itu. Berbekal itu aku mencari kak Hum kemana-mana. Pas Reynaldi nggak sengaja lihat kak Hum, dia bilang kenal kak Hum. Dan waktu itu aku sempat marah padanya karena dia bilang.... em... kak Hum bekerja yang nggak bener"
Zulfah menundukan wajahnya takut jika Humaira atau Tomy akan marah padanya.
"Itu benar, dan itu masa lalu ku yang kelam"
Ujar Humaira tertunduk sambil mencoba untuk tersenyum.
"Sudah lah sayang, itu hanya masa lalu, dari sana aku mengenalmu. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa dengan cara-Nya"
Ujar Tomy menyemangati isterinya dengan menggenggam lembut tangan Humaira yang sedang memegang sendoknya.
"Humaira kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada suaminya.
"Terima kasih om, karena sudah memberikan kebahagian untuk kak Hum"
Ujar Zulfah yang merasa senang melihat kemesraan kedua orang itu.
"Em... kak, mungkin lusa aku akan pulang. Aku nggak bisa ninggalin ibu lama-lama"
"Baiklah kakak akan ikut dengan mu bersama mas Tomy sekalian mengenal keluarga kita"
Tanpa berunding dengan suaminya, Humaira langsung memutuskan keinginannya karena ia tahu, suaminya tidak akan menolaknya.
Tetapi, ada seseorang yang tersenyum namun dalam hatinya menangis. Romi yang kebetulan belum pulang kerumahnya tanpa sengaja mendengar percakapan mereka yang terdengar jelas dari dapur.
"Hahaha... Siap-siap lembur lagi kang Romi, kikikikik"
Asep yang merendahkan suaranya terkekeh melihat raut wajah Romi yang mulia tak bersemangat. Pasalnya, setiap tuannya pergi dadakan maka dirinya lah orang paling sibuk mengatur ulang jadwal dan membatalkan janji dengan klien mereka.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
__ADS_1