
Yasmin menangis sejadi-jadinya. Belum kelar masalah yang satu, telah muncul masalah yang lainnya. Gadis itu merasa tidak sanggup lagi hingga akhirnya ia memutuskan pulang ke Surabaya ke rumah orang tuanya.
"Mar, makasih ya udah nampung aku selama ini. Dan maaf udah ngerepotin"
"Jadi udah pasti nih balik ke Surabaya? Titip salam sama emak bapak gue ya?"
Yasmin mendelik sambil jengah.
"Dih sampein aja sendiri. Kamu nggak pengen pulang apa?"
"Ya pulang, tapi ntar mau lebaran"
Jawab Umar santai sambil memperhatikan Yasmin mengemasi barangnya.
"Masih lama dong"
"Pokoknya gue sebagai sahabat lu akan selalu dukung apa pun pilihan lu"
"Aku bukan nyaleg Mar"
"Ilih... udah, sana hati-hati di jalan"
"Iya..."
Yasmin pun membawa tasnya sambil melangkah ke luar rumah. Ibu-ibu sekitar yang memperhatikan Yasmin mulai berbisik antar mereka.
"Loh...nggak tinggal di sini lagi neng?"
Tanya salah seorang ibu yang mulai kepo urusan orang lain.
"Aku di usir Umar bu....."
Jawab Yasmin sekenanya dan di dengar oleh pemuda itu.
"Ish, sembarang aja kalau ngomong?! Kagak mpok..., itu dia kangen sama ibu bapaknya di kampung, makanya mau pulang"
Ucap Umar membela diri. Yasmin terkekeh setelah sedikit mengerjai sahabatnya itu.
Terkadang seseorang perlu waktu sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, apa lagi gadis seperti Yasmin yang enggan bercerita masalah pribadinya.
Urusan butik ia serahkan sepenuhnya kepada asistennya. Keputusan sudah bulat untuk meninggalkan bisnisnya disini. Yasmin berencana bertukar posisi dengan adiknya yang sedang mengurusi butiknya di Bandung. Namun sebelum itu, ia akan pulang terlebih dahulu ke Surabaya kota kelahirannya.
Yasmin sudah tak ingin bertemu dengan Dika hingga ia pun tak lagi pamit kepada Tomy dan Humaira.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam rumah.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."
"Kak Yasmin?"
Sapa Yoga adik laki-laki Yasmin.
"Oh.. Yasmin, masuk nak..."
Sang ibu menyambut kedatangan anaknya dengan gembira.
"Apa kabar kamu nak? Kenapa nggak ngabarin dulu kalau pulang?"
Tanya ibu sambil memeluk Yasmin dengan hangat. Gadis itu pun membalas rangkulan sang ibu dengan hangat pula.
"Alhamdulillah baik bu, sama aja bu, yang penting Yasmin udah pulang"
Ucap Yasmin setelah melepaskan pelukannya.
"Tapi seenggaknya ibu bisa masakin makanan kesukaan mu nak"
"Apa pun masakan ibu selalu enak, Yasmin suka. Bapak mana bu?"
"Ada... itu lagi nonton Tv"
__ADS_1
Yasmin mendekati bapaknya.
"Bapak, apa kabar pak?"
Yasmin menyalami bapaknya lalu memeluk tubuh yang lemah itu.
"Alhamdulillah, bapak baik nak. Kamu sehat?"
"Alhamdulillah, sehat pak"
"Sukurlah, sudah makan kamu Yas?"
"Sudah pak. Tadi pas pesawatnya delay, Yas makan dulu di bandara"
Mereka pun mengobrol santai meluapkan rasa rindu karena sudah hampir setahun tak bertemu.
Yasmin tidak salah dalam mengambil keputusan. Berkumpul bersama keluarganya, ia bisa melupakan sesaat kesedihannya. Senyumnya terus terukir, perasaan senang dan bahagia bisa berkumpul cukup mengobati hatinya yang terluka oleh Dika.
"Pak Darmo dan keluarga nggak tinggal di sebelah lagi bu?"
Tanya Yasmin yang mengamati ketika seseorang keluar dari pintu rumah tetangganya.
"Enggak.., sudah 4 bulan mereka pindah dan langsung di isi orang baru yang membeli rumah pak Darmo. Masih muda Yas, dia idola para ciwi kampung ini"
"Laki?"
"Iya, tinggal sama ibunya saja. Dia buka usaha mebel di pasar sini"
"Oh...."
"Oh... aja, nggak tertarik?"
Yasmin langsung menggeleng dengan semangat. Ia yang baru saja patah hati rasanya enggan jatuh cinta lagi untuk sementara ini.
Sang ibu hanya tersenyum.
"Ya sudah, sana kamu mandi terus istirahat. Kamu pasti capek"
"Iya nih, gerah banget. Yoga ntar pijitin kaki kakak ya? Pegel soalnya"
"Ada sawer kan kak"
Tanya Yoga sambil nyengir.
"Hus, mijitin kakak sendiri kok minta sawer?!"
Ujar ibu yang mengingatkan Yoga.
"Biarin bu, kak Yasmin kan duitnya banyak"
"Aamiin, iya ntar di sawer"
Jawab Yasmin tersenyum.
"Tuh kan bu?"
Yoga tampak senang sang kakak membelanya.
Sesuai janji, setelah Yasmin membersihkan diri ia pun rebahan di ruang keluarga sambil di pijitin Yoga.
*****
Dika langsung mendatangi Umar begitu tahu selama ini Yasmin tinggal di rumah sahabatnya itu. Dengan berjalan kaki, Dika menelusuri gang sempit itu. Wajahnya yang tampan memang selalu mengundang perhatian kaum hawa.
"Tok.... tok... Assalamualaikum?!"
"Waalaikumsalam..."
Jawab Umar langsung meraih tangan Dika masuk kedalam rumahnya.
"Lu mau namu apa mau demo? Kompeni lu banyak amat?"
__ADS_1
Ujar Umar sambil mengintip keluar jendela. Saat Dika menyusuri jalan di gang, beberapa anak laki-laki maupun perempuan mengikuti di belakangnya karena wajah tampannya.
"Lu nggak apa-apain kan pacar gue?!"
Dika menatap Umar dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa-apain gimana? Yang ada dia yang bikin hubungan gue sama pacar gue jadi berantakan. Seharusnya gue yang nanya, lu apain dia sampe mukanya hancur gitu?!"
Bantah Umar yang tampak kesal mengingat ia sering bertengkar dengan pacarnya karena cemburu pada Yasmin.
"Yasmin kenapa? Dia tabrakan? Apa di gebukin orang?"
Dika langsung khawatir mendengar ucapan Umar.
"Bukan, mukanya sedih banget kayak pepatah bilang hidup segan mati lu doang?!"
"Hidup segan mati nggak mau maksudnya?!"
Tanya Dika yang bingung dengan obrolan Umar.
"Eh, iya... hehehe"
"Terus Yasmin kemana sekarang?"
"Udah pulang kampung, ke Surabaya"
"Surabaya? Sukurlah..."
Ucap Dika yang tampak lega.
"Udah deh Dik, jangan lagi mainin perasaan perempuan, kasihan..."
Umar mencoba menasehati Dika.
"Gue nggak mainin dia, gue serius sama dia. Cuma peristiwa kemarin itu salah pahamnya pas banget timingnya"
"Apapun masalah lu, bicarain baik-baik dah"
"Gimana mau bicarain? Ketemu aja nggak bisa sama Yasmin"
Ujar Dika yang tampak sedih.
"Susul sono mumpung dia baru aja pulang. Ntar kelayakan lagi repot lu?!"
Dika langsung bangun dari duduknya dan keluar dari rumah itu hingga membuat Umar bingung.
"Ooii... mau kemana?!"
"Nyusul!"
"Etdah tu anak, ngapain-ngapain seenak jidatnya aja. Nggak pamit pula"
Gumam Umar kesal.
Malam itu juga Dika menyusul Yasmin ke Surabaya. Ia meminta tolong abangnya untuk mengawasi perusahaan barunya. Alhasil, Romi lah yang menjadi tumbal dengan penambahan pekerjaan untuknya.
*****
Waktu hampir jam 10 malam ketika Dika tiba di depan pintu rumah Yasmin. Terdengar cekikikan tawa bahagia dari luar pintu itu. Dan Dika sangat mengenal salah satu tawa itu milik Yasmin kekasihnya.
"Syukurlah... di baik-baik aja"
Gumam Dika yang merasa lega.
Ia pun mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu rumah itu.
"Tok... tok... tok...! Assalamualaikum...?"
"Waalaikumsalam, siapa...?
Tanya seseorang dari dalam rumah yang belum di jawab Dika.
__ADS_1
π LIKE dan KOMEN ya, makasih ππ