Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Dan Mereka Melakukannya


__ADS_3

"Bang, di rumah abang sedang ada reality show"


"Apa maksud mu Dik...?"


"Umi sedang di lamar Asep bang"


"Oh, itu aku sudah tahu"


"Dih, aku doang yang ketinggalan berita"


"Bagaimana dengan kehidupan rumah tangga mu? Baik-baik saja?"


"Alhamdulillah bang, kami pelihara kucing sekarang. Berkat itu Yasmin sedikit terhibur"


"Sukurlah. Jadi apa sekarang waktu mu santai?"


"Nggak juga sih bang, masih ada kerjaan sedikit"


"Kau menghubungi ku di jam kerja. Sepertinya kerjaanmu tidak banyak lagi. Baiklah kalau begitu..."


"Eh, bang tunggu bang...!"


"Aku akan memberikan mu sedikit tambahan pekerjaan"


"Aduh, masih banyak bang. Aku salah bukan sedikit tapi banyak?!"


"Baik nya kerjaan apa ya?"


"Bang, tunggu bang.. jangan?!"


"Gimana kalau yang baru saja aku kirim ke e-mail mu?!"


"Haah! Yasalam...?!"


"Kluk"


Panggilan telpon pun di akhiri oleh Dika sambil mengusap wajahnya kesal.


*****


Segala sesuatunya berjalan dengan lancar dan cepat. Dalam hitungan sebulan Umi dan Asep telah sah menjadi suami isteri.


Setelah memberikan jawaban pada Asep, ternyata lelaki itu telah mempersiapkan segalanya. Selang tiga hari kemudian orang tuanya datang ke rumah besar untuk melamar Umi.


Umi yang masih memiliki keluarga, mau tidak mau mencari wali yang masih hidup sebagai ganti ayahnya yang telah tiada.


Tidak sulit mencari informasi keberadaan keluarga Umi. Karena sedikit banyak Umi mengetahui tempat tinggal dan pekerjaan yang mereka lakukan dulu.


Umi pun mencoba menemui pamannya yaitu adik dari ayah kandungnya di tempat  kerjanya di sebuah pabrik tempe.


Untunglah ada adik ayahnya yang mau menjadi walinya, meski isterinya tidak menyukai Umi dari dulu.


Namun, pandangannya terhadap Umi langsung berubah ketika kedua kalinya Umi datang menemui pamannya bersama Humaira dengan menggunakan mobil mewah.

__ADS_1


Umi membawakan mereka beberapa bahan pangan sebagai buah tangan bertamu setelah sekian lama tidak bertemu. Paras Umi yang kini sudah berubah menjadi cantik dengan gaya busana casual yang tetap anggun membuat sang bibi kini berusaha mendekatinya.


Hal ini lah yang membuta Umi tidak ingin bertemu keluarganya meski ia ingin. Pamannya yang sangat mirip dengan ayahnya membuat Umi merasa sedih dan teramat rindu akan sosok ayah. Namun isterinya yang kalap mata membuat Umi tidak begitu suka.


Acara pernikahan pun di gelar sederhana atas permintaan Umi dan di hadiri hanya beberapa kerabat terdekat saja.


Umi menyayangkan untuk mengadakan acara besar-besaran walau pun pernikahan itu sekali seumur hidupnya. Bagi Umi, uang yang di kumpulkan dengan susah payah lebih baik untuk keperluan kelak ia berumah tangga, serta membantu saudara mereka yang sedang membutuhkan.


Pilihan Umi itu di setujui oleh Asep. Memang setelah menikah masih banyak keperluan hidup dalam rumah tangga yang menunggu mereka.


Namun, tanpa mereka sadari ada sebuah hadiah yang telah di siapkan Humaira dan Tomy.


Umi dan Asep ternganga ketika di hadapan mereka berdiri tegak sebuah rumah minimalis yang kini menjadi milik mereka.


"Hum, masya Allah... Ini beneran?!"


Umi bertanya sambil menutup mulutnya dengan tangannya tak percaya.


Humaira hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Ya Allah, beneran ini nyonya?"


Asep ikut mengulang pertanyaan Umi karena masih tidak percaya dengan kenyataan di hadapannya.


"Iyaa, itu hadiah pernikahan kalian. Kata mas Tomy, karena kalian nggak mau di besarkan jadi anggaran acara kalian di alihkan ke sini. Ini milik kalian, semoga kalian langgeng dan selalu berbahagia selamanya"


"Aamiin...." (Jawab serempak Umi dan )


Umi memeluk Humaira sebagai tanda rasa terima kasihnya.


Ujar Asep mengatupkan ke dua tangannya dari jarak jauh.


Mereka lalu melihat-lihat ke dalam rumah. Untung saja Asep dan Umi memiliki tabungan yang masih banyak karena tidak melakukan acara pernikahan secara besar-besaran. Karena dengan tabungan yang mereka miliki itu, mereka dapat mengisi rumah mereka dengan perabotan dan serta perlengkapan dapur lainnya.


"Kalau begitu minggu depan sepertinya aku bisa pindah kemari"


Ujar Umi yang tampak senang sekaligus sedih.


Ekspresi Umi itu terlihat jelas di mata Humaira.


"Apa yang kakak pikirkan?"


Tanya Humaira yang melihat kesedihan di wajah Umi.


"Selama ini kita selalu bersama Hum, dalam suka maupun duka, dan Gibran hampir setiap waktu aku selalu bersamanya. Rasanya sedih jika berpisah dengan kalian"


"Kita nggak berpisah kak, setiap hari kan kakak bisa datang bersama Asep. Asep masih bekerja sebagai supir ku dan kakak masih boleh mengasuh Gibran jika kakak masih ingin"


"Tentu saja aku ingin Hum, bagaimana bisa aku berpisah dengan ponakan ku yang lucu itu"


"Aku bahagia kakak memiliki pendamping hidup sekarang, sudah waktu kakak bahagia. Jangan pikirkan aku kak, kakak bisa lihat sekarang aku betul-betul bahagia"


Ujar Humaira meyakinkan Umi.

__ADS_1


"Hehehe, iya aku percaya"


*****


Seminggu setelah menjadi pendamping sah Asep, Umi menunaikan kewajiban sebagai seorang isteri.


Setelah berpuasa selama seminggu tiba waktunya kini Asep bisa menikmati camilannya.


Ke duanya duduk berdampingan di pinggir tempat tidur tanpa bicara sepatah kata pun. Yang satu tampak merona yang satu lagi selalu memegang dadanya.


Terlihat ke duanya sangat gugup malam itu. Ini kali pertama mereka akan melakukan setelah menikah seminggu yang lalu.


"Emm... mbak, kita mulai yuk?"


Ajak Asep yang sangat gugup kepada Umi.


"Mulai aja"


Jawab Umi tertunduk malu.


"Re.. rebana yuk?"


Ajak Asep pada Umi.


"Haah? Mau kasidahan?"


Tanya Umi bingung pada Asep ketika menoleh pada lelaki itu. Rona wajahnya seketika menghilang karena ternyata hanya dirinya yang berpikir mesum sendiri.


"Eh, bukan mbak?! Rebahan maksudnya"


Ujar Asep merasa telah mengatakan hal yang salah.


"Oh..."


Kembali Umi merona lagi. Mereka pun rebahan bersama-sama dalam keheningan. Malam-malam sebelumnya Asep dan Umi benar-benar hanya melakukan tidur tanpa aktifitas lain. Bahkan Asep pun belum pernah memeluk Umi apalagi menciumnya. Alasannya adalah ia takut sesuatu di bawah sana akan bangun dan tak bisa ia kendalikan. Apa lagi beberapa hari itu, Umi sedang halangan.


"Saya mulai ya mbak?"


"I.. iya..., loh?"


Belum selesai kata iya di ucapkan, Asep langsung menarik daster Umi ke atas, dan membuka semua pakaian dalamnya hingga Umi tidak mengenakan selehai benang pun.


"Kyiaaaa...... Asep?!"


Umi malu setengah mati Asep langsung membuka semuanya seperti itu. Namun Asep tidak peduli karena dirinya juga melakukan hal yang sama dengan membuka semua pakaiannya.


"Ada apa mbak? Ada yang terluka?"


Umi memperhatikan Asep yang tampak kebingungan. Ternyata sedari tadi lelaki itu memejamkan matanya dan hanya mengandalkan instingnya dalam buka-bukaan.


"Ng...nggak! Nggak ada apa-apa?!"


Umi tampak malu sendiri, apalagi sedari tadi ia melihat sesuatu yang setengah hidup menggantung di area sana.

__ADS_1


Mendengar tidak ada apa-apa, Asep menarik selimut menutupi dirinya dan Umi, lalu memulai aksinya.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


__ADS_2