Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Nyaris Kehilangan


__ADS_3

Masa depresi tidak lagi dirasakan oleh Humaira. Hari demi hari kehidupan Humaira bersama Tomy dijalaninya begitu bahagia. Kebahagian yang tidak pernah ia bayangkan kini sedang ia rasakan. Kehidupan mewah, dihormati orang, bahkan memiliki usaha sendiri bukanlah bagian dari angan-angan yang dulu ia bayangkan.


Berkat dukungan dari sang suami, Humaira membangun usahanya sendiri untuk mencari kesibukan. Uang tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini yang ia kumpulkan, ia gunakan untuk membangun sebuah Market yang menjual pakaian dewasa dan anak-anak serta kebutuhan balita.


Perut yang kini semakin membuncit, tidak terasa mulai memasuki 7 bulan usia kehamilan Humaira. Masa ngidam perlahan mulai hilang. Orang-orang disekitar mereka tidak lagi kerepotan harus menyamakan wangi mereka untuk sama dengan Humaira.


Usia kandungan yang semakin besar membuat Tomy meminta kepada sang isteri untuk mengurangi aktifitasnya. Untuk sementara Humaira dibantu Dea, asisten yang di pekerjaan oleh Tomy untuk isterinya.


Hari itu, Humaira di temani Dea berkeliling market nya untuk melihat apa saja yang perlu ditambahkan atau di rubah agar lebih menarik. Namun tidak di sangka ia bertemu wanita yang sangat tidak ingin ia temui di dunia ini yang tak lain adalah Yunita selingkuhan mantan suaminya.


Humaira berusaha untuk menghindar agar tidak terlihat oleh wanita yang tidak ingin ia temui. Karena tubuhnya yang mulia berisi, Humaira sedikit kesulitan bergerak cepat hingga ia menjatuhkan beberapa pakian yang sedang di pajang. Keributan itu tentu saja mengundang mata orang-orang yang mendengarnya.


"Ibu nggak apa-apa?"


Tanya Dea yang khawatir terhadap nyonya besarnya.


"Nggak apa..."


"Waaaw...lihat siapa ini?!"


Suara Yunita memaksa Dea melihat ke arah wanita itu sambil membenarkan beberapa pakain yang terjatuh dari tempatnya.


Humaira tidak bergeming, ia hanya meraba perutnya yang terasa nyeri sedikit. Emosi dalam dirinya membuat Humaira sedikit merasakan stres hingga ia berusaha untuk tetap tenang menjaga kandungannya.


"Hamil?! Hah... hahahaha..."


Yunita menertawakan Humaira.


Humaira menatapnya tajam, namun ia tidak kuasa membalas ejekan wanita itu.


"Dea, kita kembali. Nanti kamu tolong atur saja ya?"


"Baik bu"


Melihat wanita yang bernama Dea itu begitu segan dan menghormati Humaira, Yunita merasa sangat tidak suka. Ia pun mendekati Humaira dan menarik lengannya dengan kasar hingga Humaira tersentak dan nyaris jatuh.


"Gembel mura*ha*n!! Sombong sekali!!"


"Hentikan! Kita nggak memiliki urusan apapun!"


Bentak Humaira sambil menarik paksa lengannya.


"Haaah, sudah mulai berani lu ya?!"


Wanita itu menjambak rambut Humaira dengan kasar hingga Humaira terhuyung kesakitan dan akhirnya jatuh terduduk di lantai.


"Aaa.... aagghh....!"


Kesakitan, Humaira meringis sambil memegangi perutnya.


"BU!! IBUUU... ?!!"


Teriakan spontan Dea menggema mengambil perhatian orang-orang di sekitar. Wajah Yunita memucat dan ia pun segera kabur meninggalkan tempat itu.


"Ada apa ini?"


"Astaga ibu itu berdarah?!"


"Cepat-cepat tolong ibu itu!"

__ADS_1


Suara orang-orang yang berkerumun semakin menambah panik Dea yang kebingungan mau menolong nyonya besarnya.


"Minggir... Minggir! Tolong kasih jalan?!"


Petugas keamanan pun datang dan segera membawa Humaira ke rumah sakit terdekat.


*****


Ponsel bergetar dan berdering dalam saku celana Romi yang sedang menemani Tomy meeting. Ia pun melihat nama yang tertera di layar smartphonenya.


Dea


"Halo?"


"Pak Romi?! Pak Tomy nggak bisa di hubungi. Ibu di rumah sakit, beliau mengalami pendarahan!"


"Apa?! Rumah sakit mana? Segera share lokasimu?!"


Terkejut, Romi berkata sambil berjalan ke arah Tomy yang sedang menyimak argumen kliennya.


"Maaf pak darurat. Ibu sedang di rumah sakit karena mengalami pendarahan"


Bisik Romi mendekati Tomy.


Tomy tersentak, wajahnya langsung berubah tegang dan serius.


"Maaf, saya ada urusan yang sangat penting. Meeting ini akan kita lanjutkan lagi di pertemuan berikutnya dan akan saya konfirmasikan secepatnya. Sekali lagi saya mohon maaf"


Tomy langsung undur diri tanpa mendengar lagi pertanyaan klien yang ingin tahu sebabnya. Dengan diliputi rasa cemas ia mengambil langkah seribu untuk segera datang menemui isterinya.


Begitu tiba dirumah sakit Tomy berlari mendatangi ruang dimana Humaira berada


"Aagghh.... sakiiit!"


"Sayang! Apa yang terjadi?! Dokter dimana dokter?!! DOKTER?!!"


Tomy panik melihat darah yang keluar di antara paha Humaira. Ia berteriak mencari dokter yang menangani Humaira.


Saat Tomy berteriak bersamaan dengan kedatangan dokter dan beberapa perawat memasuki ruang itu.


"Bapak siapa? Suaminya? Kami sedari tadi menunggu suami ibu ini atau keluarga yang bisa bertanggung jawab untuk mengambil keputusan"


"Saya suaminya. Keputusan apa dok?!"


"Karena ibu banyak mengalami pendaharan, maka bayinya harus di keluarkan segera. Jika keadaan darurat bapak harus memilih mana yang harus di utama kan"


Tertegun dan pucat. Tomy mencoba mencerna kata-kata yang di ucapkan dokter dengan baik. Ia mencoba berpikir jernih dan menarik napas dalam-dalam.


"Jika keadaan darurat, selamatkan siapa yang paling kuat untuk bertahan"


Ucapan Tomy tampak tegas. Namun dalam lubuk hatinya berusaha tegar dalam perasaan yang sangat sedih, jika ia harus kembali dihadapkan dengan duka kehilangan nyawa yang berharga.


"Kalau begitu tanda tangan disini pak, kami akan segera melakukan operasi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Semoga keduanya dapat berhasil di selamatkan"


Dokter menepuk pundak Tomy setelah lelaki itu membubuhkan tanda tangannya dilembaran kertas yang di berikan oleh perawat padanya.


"Lakukan yang terbaik dok"


Tomy pasrah ketika melihat Humaira di bawa ke ruang operasi.

__ADS_1


Ia terduduk lemah di kursi tunggu dengan mata yang berkaca-kaca.


Ya... Allah, cobaan apalagi ini? Ku mohon... lindungi isteri dan calon anakku. Selamatkan lah mereka ya Allah... aku mohon...


Deru langkah yang semakin dekat tak mengalihkan Tomy atas doa-doanya.


"Bang... apa yang terjadi? Bagaimana kak Hum?"


Tanya Dika yang cemas dan panik setelah mendapat kabar Romi.


"Hiks... semoga kak Hum dan bayinya baik-baik saja ya Allah..."


Yasmin yang mudah sedih menangis bersama dengan Umi yang datang dengannya.


"Pak? Maaf atas keteledoran saya?"


Dea mencoba angkat bicara di antara isak tangis di ruangan itu.


Tomy mengangkat wajahnya yang memerah menatap Dea.


Terkejut dan tegang melihat ekspresi tuannya, Dea pun memberanikan diri menceritakan apa yang telah terjadi.


Wajah Tomy semakin memerah mendengar penuturan Dea. Napasnya gusar dengan tatapan tajam kedepan.


"Rom, periksa semua cctv di market itu. Lalu segera temukan wanita itu atau kau yang menggantikannya bertanggung jawab!"


Jleb. Kata-kata Tomy membuat semua orang merinding mendengarnya. Terlebih lagi Romi yang diberi tugas serta resiko yang akan ia tanggung jika gagal.


Romi menelan salivanya.


"Baik pak"


Lelaki itu menjauhkan diri lalu mengeluarkan smartphonenya dan mulai sibuk menghubungi kesana dan kemari melaksanakan tugasnya secepatnya.


*****


Waktu terus berjalan, detik berganti detik menit berganti menit hingga menghabiskan waktu selama 3 jam, akhirnya pintu terbuka dan dokter pun keluar dari ruangan itu.


Tomy diikuti Dika dan lainnya berdiri menyambut sang dokter.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?"


Kecemasan terlihat jelas di wajah Tomy.


"Selamat pak, bayi anda laki-laki. Ibu dan anak dalam keadaan sehat meski belum stabil. Karena prematur, bayi anda harus dirawat dulu dalam inkubator"


"Alhamdulilah...."


Semua orang yang mendengarnya mengucap syukur ke pada yang Maha Kuasa.


"Selamat bang. Alangkah bahagianya jika kak Nia masih ada dan mendengar kabar ini"


Ucap Dika memeluk Tomy dan menitikkan air mata.


Tomy membalas rangkulan Dika. Tak dapat dipungkiri apa yang Dika katakan sama halnya dengan apa yang Tomy rasakan. Karena kehadiran bayi ini adalah keinginan terakhir Nia di sisa akhir hidupnya.


Sayang... menikah lah lagi. Aku rela berbagi suami untuk kebahagiaan kita bersama. Anak akan membawa berkah bagi kita semua. Hadirnya anak akan menyelesaikan masalah penerus atas hak perusahaan yang kamu bangun dengan kerja kerasmu. Dan yang utama adalah adanya orang yang akan mendoakan kita dikala kita sudah tiada nanti. Jadikan mereka putra dan putri yang sholeh dan sholeha agar kita bisa merasakan indahnya surga.


Kata-kata Nia kembali terngiang di ingatan Tomy.

__ADS_1


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊


__ADS_2