
Yasmin tampak tersenyum membayangkan kedatangannya bakal di sambut dengan senyuman hangat sang kekasih. Hari itu Yasmin memutuskan untuk makan siang di kantor Dika. Ia pun pergi sebelum jam istirahat kantor itu tiba. Kejutan kecil yang ingin ia lakukan ternyata hanya sebuah angan yang langsung sirna.
"Assalamualaikum...,DIKAAA!!!"
"Loh, Yasmin?!"
Yasmin yang datang tiba-tiba langsung berteriak dan mengejutkan Dika yang tengah memeluk Chika tanpa sengaja.
"Siapa dia?!!"
Tanya Yasmin penuh emosi.
"Sebentar yank, jangan salah paham?!"
Dika yang menggendong Chika ala briddal membuat Yasmin kesal, apa lagi tangan Chika melingkar erat di leher Dika.
"Ugh!!"
Yasmin menghentak kakinya marah dan langsung meninggalkan Dika sambil berlari menjauh dari ruangan itu.
"Yasmiiiin.....!!"
Dika berteriak, namun Yasmin tetap berlari meninggalkan Dika.
Air mata berderai saat Yasmin berada dalam lift yang membawanya turun ke lantai bawah. Begitu seseorang turun dari sebuah taxi, Yasmin pun langsung masuk dan meminta sang supir untuk segera jalan.
Beberapa kali Dika mencoba menghubungi gadis itu, namun tak di angkat. Karena rasa kecewa yang sedang meliputi hatinya, nomer Dika pun akhirnya di blokir.
*****
Seminggu berlalu, namun Dika tidak dapat menemui Yasmin. Di datangi di butiknya hanya ada karyawan kepercayaan Yasmin yang memegang otoritas sementara. Yasmin masih tidak dapat di hubungi. Dika perpikir mungkin saja gadis itu kembali ke Surabaya kota kenangan mereka.
Dika dan Yasmin sama-sama berasal dari Surabaya. Mereka saling jatuh cinta saat duduk di bangku menengah atas. Namun karena ayah Yasmin yang sakit keras dan membutuhnya biaya pengobatan yang tidak sedikit, mereka pun berpisah sebelum cinta mereka bersemi.
Kumis dan jenggotnya mulai tumbuh menghiasi wajahnya. Memikirkan Yasmin yang hilang kabar seminggu itu, membuat Dika tidak peduli dengan keadaannya yang semerautan. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mendatangi rumah abangnya.
Dengan langkah tak bersemangat Dika mendatangi rumah besar itu.
"Assalamualaikum..."
Tomy yang sedang asik menimang Gibran di dampingi Humaira tampak terkejut melihat tampang Dika dengan semangat yang patah seribu.
"Waalaikumsalam..., tumben bener"
Jawab Tomy nyengir sekilas. Entah kenapa melihat Dika yang seperti itu hatinya tergelitik meski adik iparnya itu sedang dalam kesusahan.
Dika langsung duduk menghadap kepada Tomy dengan wajah memelas.
"Bang, tolong lamarin Yasmin buatku bang..."
"Loh?"
Humaira terkejut atas permintaan Dika yang tiba-tiba.
"Alhamdulillah, insaf?"
Jawab Tomy sekenanya.
"Aku kepergok tengah memeluk Chika patner model kita dulu bang, dan itu nggak sengaja"
Ujar Dika menceritakan dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Astagfirullah..., pantas saja Yasmin marah jika seperti itu"
Ujar Humaira sambil menggendong Gibran.
"Mau melamar kemana?"
Tanya Tomy yang mulai menanggapi dengan serius.
"Itu dia bang, Aku nggak tahu Yasmin kemana. Tapi kita langsung datang saja kerumah orang tuanya"
"Kapan?"
Tomy ingin acara lamaran sesegera mungkin. Menurutnya jika Dika segera menikah, beban tanggung jawabnya berkurang terhadap janjinya pada mendiang isterinya Nia.
"Semangat bang?"
"Biar kau tidak selalu buat rusuh. Kau mau tidak?"
"Mau bang"
Jawab Dika pasti. Lelaki itu sudah seperti mayat hidup kehilangan Yasmin.
"Jadi kapan?"
Tomy memastikan sekali lagi.
"Minggu depan ya bang, besok aku akan menyuruh orang untuk memastikan orang tua Yasmin masih tinggal di Surabaya"
"Gunakan kekuasaanmu. Cari keberadaan calon isterimu dan orang tuanya"
Dika mengangguk, kini ia sedikit bernapas lega. Pembicaraannya dengan Tomy sedikit mengurangi keputus asaannya. Pemuda itu sudah yakin untuk melamar Yasmin menjadi isterinya.
*****
Umar pusing dibuat oleh gadis itu. Pasalnya selama Yasmin berada di rumahnya, para tetangga mengira Umar kumpul kebo membawa calon isterinya tinggal bersama. Dan hal lebih yang membuat Umar meringis hampir menangis, pacarnya Kanaya cemburu hingga membuat hubungan mereka nyaris retak.
"Yas, pulang dah. Bicarain baik-baik sama tu play boy"
Ujar Umar mencoba memberi nasehat.
"Aku masih kesel Mar"
Jawab Yasmin yang tampak sedih.
"Nggak baik musuhan lebih dari 3 hari. Kasihan juga kan sama tu plat boy nyariin nggak konsen kerja"
Yasmin hanya diam. Mengingat kejadian waktu itu amarahnya terus saja muncul.
"Apa gue kabari Dika aja ya. Ntar gue nasehati kalau dia datang di mari"
"Kasi waktu 2 hari lagi ya. Setelah itu aku akan pergi dari sini"
Ujar Yasmin mencoba menahan Umar agar tidak menghubungi Dika dulu.
"Loh mau kemana, di luar bahaya mending disini aja"
"Tapi kamu keberatan, dan aku tahu aku buat susah kamu disini"
"Emang bikin pusing, tapi lebih pusing lagi kalau lu ketempat yang nggak jelas"
Ujar Umar yang sudah bingung mau berkata apa lagi.
__ADS_1
Yasmin beranjak dari duduknya dan mengambil tas kecilnya.
"Loh, mau kemana?"
"Aku mau refreshing dulu"
Umar tak menghalangi kepergian Yasmin karena gadis itu memang lagi butuh hiburan.
Yasmin duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang. Ia memandang beberapa keluarga yang sedang asik menghabiskan waktu bersama. Gadis itu melamun dan sorot matanya tampak sedih melihat kebahagian keluarga - keluarga itu.
"Kapan ya aku kayak gitu, punya suami dan anak, menghabiskan hari libur bersama keluarga"
Gumam Yasmin pelan. Tanpa ia sadari sedari tadi ada yang mengamati dirinya. Seorang gadis muda mendekati Yasmin.
"Sore, anda Yasmin?"
"Iya, siapa ya?"
Tanya Yasmin bingung tiba-tiba seseorang menyebut namanya.
"Aku Rima"
Rima mengulurkan tangannya untuk di jabat. Yasmin pun meraih tangan itu sambil tersenyum.
"Sepertinya anda lebih tua, apa aku panggil kakak aja?"
"Oh, iya... boleh, sepertinya kamu memang lebih muda dariku"
Ujar Yasmin yang tampak bingung.
Rima menatap sendu Yasmin, membuat gadis itu semakin bingung dengan gadis yang ada di disampingnya itu.
"Kak, kakak pasti bingung kenapa aku tiba-tiba tahu nama kakak"
"Iya nih, kenapa ya?"
"Beberapa hari ini aku mencari tahu tentang kakak, maaf tapi aku harus tahu siapa yang lagi dekat dengan bang Dika"
"Maksudnya?"
Yasmin terkejut mengetahui ia di awasi oleh orang tak dikenal.
"Mungkin kakak nggak percaya tapi aku juga mengatakan ini menahan malu karena ini aibku"
Yasmin semakin tak mengerti dengan ucapan Rima yang penuh tanda tanya.
"Maaf tapi aku masih belum mengerti. Maksudmu apa Rima?"
"Aku pernah mengandung anak bang Dika. Tapi waktu itu bang Dika minta agar aku menggugurkannya karena waktu itu aku masih sekolah. Dan sekarang hiks... bang Dika perlahan semakin hari semakin jauh, bahkan hilang kabarnya. Padahal dia berjanji akan menikahiku setelah aku lulus sekolah"
Tubuh Yasmin bergetar saat mendengar pengungkapan Rima. Hatinya yang masih kesal semakin tak menentu setelah mendengar penuturan Rima. Emosinya mulai menguasai hati dan pikirannya. Rasa kecewa yang belum hilang kini ditambah dengan kabar yang lebih mengejutkan.
Yasmin tak bisa berkata apa-apa. Ia merasa terluka dan patah hati hingga tak sanggup menahan air matanya di depan Rima. Yasmin tahu Dika play boy, tapi ia tak menyangka Dika yang tampak begitu mencintainya dan terlihat serius padanya ternyata juga mempermainkan dirinya.
Ya Allah... apa yang harus ku lakukan?Sementara gadis muda di dekatku ini pernah menjadi ibu dari anak kekasihku. Aku marah, aku benci Dika, tapi aku juga mencintainya..
Yasmin mulai terlihat panik. Sementara itu, Rima di balik wajah sedihnya tersenyum senang melihat kesedihan Yasmin.
✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗
✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊
__ADS_1