
Lama tidak terdengar bagaimana kabarnya mami yang dulu menjadi bos tempat Humaira berkerja sebagai wanita malam. Tenyata hidupnya kini lebih nyaman dari sebelumnya. Uang yang di berikan Tomy untuk mengambil Humaira sepenuhnya sangat lebih dari cukup untuk dinikmatinya semasa tua.
Wanita paruh baya itu kini sedang berada di Australia bersama pacarnya. Kafe Exsy yang merupakan usaha miliknya kini di jalankan oleh Ruby yang cukup dekat dengan Humaira dulu.
Namun belum lama ini, ketenangan terusik oleh seseorang yang selalu menghubunginya untuk mencari tahu tentang Humaira dan keberadaan wanita itu.
Orang itu dulunya merupakan salah seorang dari pelangg*an Humaira semasa menjadi wanita malam dulu. Entah kenapa orang itu terus mencari keberadaan Humaira, padahal wanita itu sudah dua tahun lebih tidak lagi bekerja di kafe Exsy.
"Maaf tuan, sudah aku katakan kalau Jane sudah lama tidak lagi bekerja padaku. Aku juga sudah lama lose kontak dengannya. Jadi aku tidak tahu dia di mana"
"Bukahkan anda masih memiliki nomor hapenya?"
"Nomor itu sudah tidak bisa di hubungi. Sepertinya dia sudah mengganti nomornya"
"Andakan banyak relasi, cobalah untuk menemukannya. Ini sangat penting"
"Maaf tuan, saya tidak janji. Dan maaf sekali lagi saya sedikit sibuk, jadi saya akan mengakhiri panggilan ini. Selamat siang..."
"Baiklah kalau begitu. Selamat siang"
"Kluk"
"Hal penting apa sampai orang ini terus menghubungiku seperti ini. Dan sepertinya dia tidak akan menyerah jika belum bertemu dengan Jane. Akan aku coba, tapi jika Jane menolak bukan salahku kan"
Gumam sang mami pada dirinya sendiri.
Lalu wanita itu mencoba menghubungi Tomy bukan Humaira. Karena sang mami memiliki kesepakatan antar Tomy dan dirinya.
*****
"Mas cantik nggak?"
"Cantik, memakai baju apapun kau tetap cantik di mataku. Tapi baju seperti ini hanya aku yang boleh melihatmu"
"Tentu saja mas. Ini linger yang aku beli untuk aku pakai malam ini"
"Hehehe benarkah? Kemarilah... duduk lah di pangkuanku"
Humaira menurut, dan langsung duduk di pangkuan Tomy sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Tomy pun lalu memeluk pinggang Humaira sambil menyandarkan wajahnya ke dada isterinya.
"Sayang, mau kah kau menjawab pertanyaanku?"
"Kenapa mas, tumben minta ijin lebih dulu? Ada apa?"
__ADS_1
"Janji kau mau menjawabnya?"
"Tapi mas juga harus janji nggak akan ada yang berubah di antara kita"
"Aku janji"
"Apa yang mau mas tanyakan?"
"Bagaimana perasaanmu dulu ketika masih melayani laki-laki di luar sana?"
Deg, Humaira merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang Tomy lontarkan padanya. Membahas masa lalu yang sudah lama ia kubur dan tidak ingin ia kenangan. Namun karena suamimya yang bertanya, mau tidak mau Humaira mencoba menjawab tanpa ingin melukai hati suaminya.
"Nggak ada yang ingin aku kenang mas. Semuanya menyakitkan buatku. Aku harus tersenyum disaat aku muak dan aku harus tampak menggoda disaat aku jijik setiap tubuhku di sentuh"
Ucap Humaira sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Melihat reaksi istrinya yang seperti itu, Tomy langsung menciumi di setiap tempat tubuh Humaira yang ada di hadapannya.
"Dimana mereka menyentuhmu? Apakah disini? Muuaach... atau disini muuaach"
Sikap Tomy sedikit memberikan penghiburan Humaira yang tadi sempat down.
"Semua sudah di tutupi dengan sentuhan dari mas yang hampir setiap malam"
"Hehehe sukurlah. Hmm... sayang, ada seorang pelangg*an mu dulu ingin meminta bertemu denganmu. Apa kau mau menemuinya?"
"Kita lihat dia mau apa. Orang itu terus menghubungi bos lama mu. Aku yakin dia tidak akan berhenti sebelum bisa bertemu denganmu"
"Mami? Mas bertemu mami?"
"Tidak, dia sedang di Australia bersama pacarnya. Beberapa hari lalu dia menghubungiku menanyakan hal itu padaku"
"Pacar?"
Tanya Humaira yang merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jangan heran. Sudah biasa bukan untuk hidup seperti itu dalam dunianya?"
"Ya, tapi mami itu udah tua loh mas?"
"Hehehe, uang bisa membeli cinta sayang"
"Hmm, mas benar. Uang bisa membutakan siapa saja yang gila akan materi. Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa yang akan mas lakukan?"
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti setelah kita bertemu dengannya"
"Baiklah mas, aku percaya pada mas"
"Tentu sayang..."
Beberapa minggu di lewati, mereka pun bertemu dengan orang yang ingin bertemu Humaira. Humaira merasa khawatir karena ini menyangkut masa lalunya. Tidak dapat ia pungkiri kalau dirinya takut Tomy akan mengamuk pada orang itu. Yah, walau Humaira sendiri belum pernah melihat Tomy bertindak lewat kekerasan secara terbuka. Justru dalam sikap tenang Tomy yang dingin itu membuat Humaira lebih cemas karena tidak bisa memprediksi apa yang akan suaminya itu lakukan.
Pria itu tiba di dampingi oleh seorang wanita yang mungkin saja adalah isterinya. Ia langsung duduk di hadapan Humaira dan juga Tomy.
"Nona Jane maaf sebelumnya mungkin anda bingung dengan kedatangan kami. Perkenalkan aku Reynaldi dan ini Zulfah"
Pria bernama Rernaldi itu memperkenalkan dirinya dan wanita yang berada di sampingnya.
"Apa kabar Humaira?"
Sapa Zulfah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Humaira.
Sedikit ragu Humaira meraih tangan itu karena tidak banyak orang yang mengetahui nama aslinya. Jangan kan tamunya, teman kerjanya dulu pun tidak mengetahui nama aslinya.
"Baik? Tapi dari mana anda tahu nama ini?"
Rasa penasaran Humaira tidak lagi ia tahan karena hanya orang tertentu yang tahu nama Humaira.
Wanita itu membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Ini kamu kan?"
Zulfah meletakkan sebuah foto keluarga, ayah, ibu, dan seorang gadis kecil. Di foto itu anak kecil itu tertawa bahagia kedua orang tuanya menciumi pipi kanan dan kirinya. Begitu pula kedua orang tua anak itu pun tersenyum bahagia sambil menyiumi pipi anaknya.
Meski sama-samar Humaira mengenali siapa anak perempuan di foto itu, apa lagi kedua orang tua yang berada di sisi kanan dan kiri gadis kecil itu membuat dirinya langsung bersedih dan merasa duka.
Mata Humaira berkaca-kaca dengan tangan gemetar mengambil foto yang ada di meja itu. Ia lalu menatap Zulfah dengan penuh tanda tanya.
Tomy yang melihat isterinya meneteskan air mata sambil melihat foto di tangannya, langsung menatap ke dua orang itu dengan tatapan curiga.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan Humaira"
Ujar Zulfah yang sangat tenang dalam situasi yang cukup tegang itu.
"Siapa kamu sebenarnya, dan bagaimana kamu memiliki foto ini?"
Humaira tidak lagi sungkan menanyakan apa yang ada dalam isi hatinya karena foto yang sedang ia pegang adalah dirinya semasa kecil beserta kedua orang tuanya ketika mereka masih hidup.
__ADS_1
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗