Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Dia Milikku


__ADS_3

Suasana hening tanpa kata membuat canggung dan tegang suasana. Baik Dika maupun Yasmin larut dalam pikiran masing-masing. Hingga seekor nyamuk lewat dan hap lalu ditangkap oleh katak yang tidak jauh dari kaki mereka.


Mereka sedang duduk di halaman rumah yang memiliki bangku taman untuk bersantai.


"Apa kabar yank?"


Tanya Dika mencoba membuka obrolan.


"Hiks...."


Mendengar kata Dika memanggil "Yank" Yasmin tak kuasa menahan tangisnya. Sedari tadi ia sudah lelah menahan gejolak hatinya yang sedih serta kesal bercampur rindu.


Dengan memberanikan diri Dika merangkul Yasmin.


"Aku minta maaf. Aku salah telah menggendong Chika tanpa ijinmu"


"Bug... Bug..!"


Dada Dika di pukul Yasmin karena rasa kesal dan kecewanya. Namun lelaki itu semakin erat memeluk kekasihnya.


"Dia bukan siapa-siapa yank, dia datang cuma mau nawarin bisnis. Dan pas banget kamu ngeliat dia jatuh ke aku karena kakinya terkilir. Nggak mungkin dong aku biarin dia. Jadi biar cepet aku gendong di ke sofa baru mau ke arahmu. Tapi kamu kabur duluan"


Jelas Dika berusaha meredakan emosi Yasmin. Namun kekasihnya itu melepaskan diri dari pelukannya.


"Kan bisa nggak usah pake gendong segala?!"


"Tadinya gitu, pas jalan dia malah jatuh dan kamu lihat, jadi salah paham dah tu"


"Lalu bagaimana dengan Rima? Bukannya kamu janji mau nikahin dia?!"


Ucap Yasmin penuh rasa kesal dan kecewa terhadap Dika.


"Rima? Rima siapa? Siapa lagi itu Rima?"


Dika malah bingung, ia pun baru kali ini mendengar nama Rima.


"Entah?!"


Jawab Yasmin sekenanya dengan nada kesal.


"Haaah"


Dika membuang napas panjang karena lelah dengan masalah yang seharusnya tidak perlu serumit itu.


"Gini ya yank...,dengarkan baik-baik. Aku memang brengsek nidurin banyak wanita, tapi... aku pilih-pilih, yang masih segel aku nggak mau rusakin. Dan aku juga melakukan itu atas dasar suka sama suka tanpa ada ikatan apapun. Jadi aku ini bebas. Tapi beda dengan mu, aku ingin serius, dan aku sedang berusaha untuk berubah. Udah lama loh yank, setahun lebih malah hampir 2 tahun aku udah nggak pernah lagi yang macem-macem. Percaya kan sama aku?"


Yasmin tidak menjawab. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan ucapan Dika.


"Kamu tunggu saja disini. Sabtu ini jangan kemana-mana kalau kamu mau lihat aku serius atau nggak"


Mereka saling memandang. Yasmin mencari kebenaran di dalam mata Dika. Dan Dika memandang Yasmin, karena ia sangat rindu dengan kekasihnya itu.


"Pulang lah.. ini sudah malam. Aku nggak enak di lihat tetangga"


Ujar Yasmin menyarankan. Karena ia pun sebenarnya ingin memikirkan dengan kepala dingin apa yang baru saja Dika ungkapkan padanya.

__ADS_1


"Baiklah, besok aku kesini lagi. Kamu istirahat ya dan jangan menangis lagi"


Ucap Dika sambil mengusap ibu jarinya di pipi Yasmin.


Yasmin pun langsung masuk ke rumah tanpa menoleh lagi ke arah Dika. Pemuda itu mencoba untuk bersabar dengan keadaan karena sudah sejauh ini ia tidak ingin kehilangan Yasmin lagi.


*****


Udara segar dengan kicauan burung menemani Yasmin menyirami halaman rumahnya yang di tanami beberapa bunga. Tanpa sengaja mata Yasmin dan mata anak lelaki tetangganya bertemu dan saling tatap. Namun dengan segera Yasmin memalingkan wajah kembali. menyirami bunga yang ditanami ibu.


Pemuda itu kembali memperhatikan Yasmin, mungkin karena baru kali ini ia bertemu dengan Yasmin.


"Keluarga tante Ainun ya?"


Sapa nya setelah berjalan mendekat hingga ke batas tembok pagar rumah. Yasmin melihat ke sekeliling untuk memastikan lawan bicara lelaki itu adalah dirinya.


"Aku nanya kamu, yang lagi nyiram bunga"


"Oh, aku putri pertama ibu Ainun"


"Kok baru kelihatan? Baru datang ya?"


"Iya"


"Pantes, oh ya aku Rey"


Ucap Rey sambil mengulurkan tangannya.


Yasmin melihat pemuda itu lalu melihat tangannya yang masih bermain dengan selang air.


"Nggak apa-apa"


Tak bisa menghindar lagi, Yasmin pun mengelap tangannya dengan baju yang sedang ia pakai. Tanpa gadis itu sadari, kelakuannya itu mengundang senyum Rey yang sedari tadi memperhatikannya. Dirasa cukup kering, Yasmin pun menjabat tangan itu.


"Yasmin"


"Nama yang indah, seperti bunga yang sedang kamu siram itu"


Yasmin memandang bunga yang di maksud Rey, yaitu bunga melati putih yang sedang mekar dengan cantiknya. Namun gadis itu tidak terlalu merespon ucapan Rey.


Melihat reaksi Yasmin yang diam saja, Rey pun merasa canggung.


"Emm... kalau gitu, aku jalan dulu ya"


"Oh, iya..."


Rey mengusap tengkuknya. Baru kali ini ia merasa di acuhkan selama tinggal di sana. Biasanya para gadis sangat ingin berlama-lama mengobrol dengannya, hingga ia sendiri pun merasa risih. Namun entah mengapa, sikap Yasmin yang cuek begitu menarik perhatiannya.


Lalu hari itu, seharian Rey teringat akan Yasmin. Sikap Yasmin yang cuek itu terus mengusik hati dan pikirannya. Sampai akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pulang lebih awal dan berharap bisa bertemu Yasmin lagi.


Kemudian timbul lah idenya untuk memberikan makanan khas daerah asalnya, agar bisa bertamu kerumah Yasmin dan bertemu gadis itu. Rey pun minta pada sang ibu untuk membuatkannya kue Bingke yang sangat ia sukai.


Sesuai permintaannya, Bingke pun jadi sore itu. Rey merasa senang alasan kue itu bisa membawanya bertemu Yasmin. Senyum lebar terlukis di wajah pemuda itu. Dengan langkah pasti ia pun menuju rumah tetangga di sebelah rumahnya.


"Assalamualaikum...?"

__ADS_1


Hening, tidak ada jawaban. Rey mencoba sekali lagi sambil mengetuk.


"Tok... tok... tok..! Assalamualaikum...?"


"Waalaikumsalam...."


Pintu pun di buka, ternyata ibu Yasmin yang membukakan pintu.


"Eh... nak Rey, tumben ini. Ada apa ya?"


"Ini tante, ibu buat lebih kue Bingke khas daerah kami. Jadi ini buat tante dan keluarga. Di icip tante moga suka"


Rey memberikan kotak kue kepada ibunda Yasmin.


"Loh, banyak amat ini sampe 2 kotak?"


"Beda varian rasa tante"


"Oh gitu. Makasih loh ini...yuk masuk dulu. Yas..ada Rey nih?! Eh, tapi nak Rey sudah kenal sama anak tante yang namanya Yasmin?"


"Sudah tante, tadi pagi nggak sengaja ketemu di halaman"


"Oh, gercep juga ya?"


"Ya tante?"


"Oh... nggak?! Nggak apa-apa...., hehehe"


Rey pun duduk di ruang tamu. Entah mengapa pemuda itu tidak menolak di ajak masuk. Padahal urusannya hanya sebatas memberi kue sebagai alasan melihat Yasmin saja.


Tak berapa lama Yasmin muncul dengan wajah sedikit di tekuk menghampirinya.


"Ada apa?"


Rey menelan salivanya. Berhadapan dengan Yasmin mendadak ia di serang rasa gugup yang tidak biasa.


"Nggak ada apa-apa sih, cuma itu ibu buat kue khas daerah kami. Di coba ya.."


"Makasih..."


Hening yang membuat canggung suasana dan akhirnya Rey memutuskan untuk kembali kerumahnya.


Di ambang pintu Rey tampak tersenyum karena Yasmin mengantarnya sampai ke pintu.


"Kalau begitu sampai nanti ya, aku pulang dulu"


Yasmin hanya mengangguk dan senyum sedikit. Namun senyumnya itu mengundang amarah Dika yang baru saja tiba dan langsung memperhatikan mereka.


Dika langsung tidak senang melihat Rey yang tersenyum manis pada kekasihnya.


"Wah, kok tahu aja aku mau datang yank? Pake disambut segala lagi.."


Kata yank sengaja Dika perkeras untuk memberi tanda pada predator lain bahwa yang sedang dia incar adalah miliknya.


Yasmin cukup terkejut mendengar ucapan Dika yang tampak di sengaja. Sedangkan Rey, tampak tidak suka dan kecewa meski ia berusaha menahannya.

__ADS_1


🌠Like dan komennya jangan lupa πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2