Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Berita Bahagia


__ADS_3

Hari-hari kembali normal seperti biasanya. Burung yang berkicau di pagi hari, pengantar koran yang meletakkan koran di depan gerbang pintu, serta jalanan yang mulai macet karena semua orang beraktifitas seperti biasanya.


Dika mendorong koper mereka menuju bandara. Hari ini ia akan membawa Yasmin ke Korea untuk melakukan operasi di wajahnya.


Mereka memilih melakukan operasi di tempat Umi karena telah melihat hasilnya.


"Nak Dika, jaga Yasmin baik-baik ya. Kalian bersenang-senanglah disana"


"Iya bu. Dika ingin Yasmin segera pulih"


Ujar Dika melihat ke arah isterinya dengan tatapan sayang.


Semenjak kejadian itu, kepercayaan diri Yasmin turun apalagi dengan tampilan wajahnya yang cacat. Dika ingin isterinya kembali tersenyum sediakala, dan segera menghilangkan traumanya atas ke jadian itu.


Meninggalkan Indonesia membuat Yasmin sedikit tenang karena jauh dari Rima. Disana Dika berencana menyampaikan perihal anak mereka yang pergi karena kejadian itu kepada isterinya.


Tiga bulan waktu cuti yang di berikan Tomy pada Dika untuk masa healing mereka. Dika sangat bersyukur mempunyai abang seperti Tomy yang sudah banyak berkorban untuknya. Bahkan Tomy menyediakan tempat tinggal selama mereka di sana, meskipun stasus mereka hanya mantan ipar.


*****


Tangan mereka saling menggenggam erat, menyusuri jalan di tepi sungai Han di kota Soul, Korea Selatan. Ini ke dua kalinya Yasmin menginjakkan kakinya di negara itu.


Wajah Yasmin lebih cerah dan segar selama mereka berada di negara itu. Konseling yang sudah di lakukan beberapa kali tampaknya berjalan lancar hingga Yasmin tidak lagi gemetar jika ada orang asing yang berusaha mendekatinya atau melihat seseorang terluka karena jatuh.


Namun ia masih belum bisa melihat atau menyaksikan tindak kekerasan bahkan walau pun itu hanya sekedar di film. Tubuhnya akan gemetar hebat karena serangan panik.


Tapi Dika yakin, perlahan lambat laun isterinya akan kembali normal seperti sedia kala jika rutin melakukan konseling kepada psikiater.


Tak terasa sudah dua bulan mereka tinggal di Korea, tinggal sebulan lagi masa visa F-6-1 yang berlaku selama 90 hari sejak kedatangan mereka.


"Hoeek...hoeek!!"


Yasmin memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel setelah tangannya tergores, dan mengeluarkan sedikit darah ketika mencoba memotong buah yang ingin dia makan.


Hal itu membuatnya teringat kembali Rima yang menyayat wajahnya. Hingga ia merasa pusing dan mual efek dari trauma yang masih ia rasakan.


"Kamu nggak apa-apa sayang? Sudahlah jangan mencoba memegang pisau lagi. Biar aku saja yang mengerjakan semua pekerjaan rumah?!"


Ujar Dika sewot karena Yasmin yang bandel masih ingin mengupas buah sendiri.


Pemuda itu mengusap punggung Yasmin untuk memberikan kenyamanan saat isterinya sedang memuntahkan isi perutnya.


"Sudah?"


Tanya Dika ketika Yasmin menyeka mulutnya dengan air bersih.


Yasmin mengangguk dengan tubuh lemah. Dika lalu memapah isterinya, membawanya untuk duduk beristirahat di sofa. Kemudian pemuda itu mengobati jari Yasmin dengan memberikannya plester luka.

__ADS_1


"Kamu ingin makan buah yang mana? Biar aku yang buka kan"


Yasmin menggeleng menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku sudah nggak ingin makan buah. Aku ingin makan nasi dengan kalguksu (sup mie ayam)"


"Baiklah. Kamu jangan bergerak sayang, duduk manis aja disini. Aku akan masakan apa yang mau kamu makan"


Dengan cekatan Dika mengeluarkan bahan makanan yang tersedia dari dalam kulkasnya. Kemudian dengan mengandalkan sebuah aplikasi, ia mulai memasak untuk isterinya.


Selama di Korea Dika mulai belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak jarang Yasmin memuji masakannya karena ternyata pemuda itu memiliki bakat disana.


Empat puluh lima menit berlalu, maksakan pun sudah tersaji di atas meja. Aroma nya yang menggugah selera membuat Yasmin segera mengambil piringnya dan langsung menyantap masakan Dika.


"Pelan-pelan sayang..."


Ujar Dika dengan terseyum lebar karena merasa senang melihat isterinya sangat menikmati masakannya.


"Ini enak yank, kamu nggak makan?"


"Iya ini aku makan. Tambah lagi yank, masih banyak itu semua buat kamu"


Ujar Dika sambil mengambil nasi dan mulai makan masakannya.


Namun tidak lama kemudian Yasmin kembali berlari ke wastafel dan memuntahkan kembali isi perutnya.


"Kamu kenapa? Apa kamu masuk angin? Sebaikanya setelah ini kita ke Rumah Sakit saja ya?"


Yasmin mengangguk, ia tidak pernah membantah hal yang membuat suaminya menjadi khawatir.


Mereka pun bersiap untuk pergi menemui dokter di Rumah Sakit. Setelah tiba disana, Dika mengambil antrian dan tidak beberapa lama mereka di panggil ke dalam untuk pemeriksaan.


Dokter tampak tenang dan terseyum.


"Selamat ya tuan dan nyonya, kalian akan memiliki bayi"


Dika dan Yasmin terdiam sesaat, kemudian saling pandang dan Yasmin langsung menangis haru dalam pelukan Dika.


Alhamdulillah ya... Allah...


Lalu Dika kembali fokus melihat ke arah dokter.


"Tapi kandungannya sangat lemah, jangan biarkan isterinya anda bekerja keras. Lalu saya akan memberikan beberapa vitamin"


"Berapa usia kandungan isteri saya dokter?"


"Dua hari lagi memasuki masa 2 minggu kehamilan"

__ADS_1


Ujar Dokter sambil menuliskan beberapa resep. Kemudian sang dokter memberikan secarik kertas resep.


"Nah ini, dan  jangan lupa untuk menjaga kandungannya baik-baik karena masih sangat muda jadi masih sangat rentan"


"Baik dokter, dan terima kasih"


Dika dan dokter bersalam sebelum meninggalkan ruangan yang itu.


Senyum kebahagian terpancar di wajah Dika dan Yasmin. Bahkan ia tidak sabar memeluk isterinya saking bahagianya.


"Oh, hehehe.. sayang ini di rumah sakit?!"


"Aku nggak peduli. Aku sangat bahagia sekali. Terima kasih ya Allah..., terima kasih sayang..."


Ujar Dika sambil memeluk Yasmin dan mendaratkan ciumannya di pipi isterinya bertubi-tubi.


Mereka lalu mengambil vitamin yang telah di resepkan dokter, dan langsung pulang menuju rumah mereka. Di rumah Dika terus mengusap perut Yasmin yang masih rata dan memberikan ciuman lembutnya di sana. Yasmin tampak tersenyum bahagia.


"Sayang, aku sangat bahagia. Anak pertama kita sedang tumbuh di dalam sini"


Dika menatap isterinya yang sedang tersenyum itu dengan sendu.


Mungkin sudah saatnya aku mengatakan kebenarannya pada Yasmin.


"Sayang, ada yang harus aku katakan kepadamu"


"Ada apa yank?"


"Sayang, ini anak kedua kita. Saat terjadi tragedi itu, selain luka-luka dan patah tulang rusuk serta trauma, kamu keguguran anak pertama kita di usia satu minggu"


Yasmin menutup mulutnya tak percaya dan langsung menangis sedih mendengar kenyataan yang baru saja ia ketahui.


"Aaaaaa....hiks..hiks....hiks, anakkuuu...hiks...hiks..."


Dika langsung memeluk isterinya mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Sssttt... tenanglah sayang, sudahlah jangan menangis, dia sudah tenang di sana. Ingatlah ada adiknya yang sekarang mesti kamu jaga. Sssst...sudah ya.."


Yasmin masih menangis walau tidak lagi bersuara seperti tadi. Ia pun berusaha menenangkan hatinya meski ia sangat sedih.


"Kenapa baru ngasi tahu sekarang yank?"


"Aku takut menganggu kejiwaanmu, tapi sekarang dia sudah tenang sayang. Dan Allah menitipkan adiknya untuk kita jaga dan rawat. Jadi tenang lah... dan jangan menangis lagi"


Dika mengusap air mata di pipi Yasmin, kemudian mencium dengan penuh rasa sayang di kening isterinya itu. Perlahan tangis Yasmin pun mereda dan kembali ia mengusap perutnya yang masih rata.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2