
Sesuai janji yang di ucapkan, minggu berikutnya di jam kunjungan yang sama, kembali Juan menemui Cindy. Kali ini Cindy tampak merapikan dirinya dari pertemuan sebelumnya.
"Kamu datang lagi?"
Tanya Cindy berbasa-basi. Jauh dari penampilan sebelumnya yang lusuh, kali ini wajah cantik Cindy mulai terlihat.
"Oh, emm.. Iya, sesuai janjiku. Aku datang lagi"
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang kamu inginkan?"
"Belum, aku belum menemuinya lagi. Masih ada yang ingin aku bicarakan padamu"
"Bicara saja, aku pasti mendengarkan"
Ujar Cindy sambil melihat ke arah Juan.
"Terima kasih. Sebenarnya aku juga bingung mau bercerita kepada siapa. Karena belum tentu orang mau mendengarkan cerita ku"
Ungkap Juan sambil beradu pandang dengan Cindy.
"Seperti aku, aku juga awalnya enggan mendengar ceritamu. Tapi lama-lama itu semakin menarik dan ya... nggak ada salahnya untuk di dengar"
"Hehehe..."
.....
Sesaat suasana tiba-tiba hening. Mereka hanya saling menatap satu sama lain dan lama kelamaan Cindy pun mulai tersipu. Sikap Cindy itu ternyata di sadari Juan dan membuat lelaki itu tersenyum.
"Hari ini kamu cantik"
"Eng...oh..., makasih"
Jawab Cindy sambil menyelipkan rambutnya di balik telinganya. Ucapan Juan yang tak terduga itu cukup membuat pipinya sedikit merona.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku tahu kamu pernah menjadi kekasih Dika. Tetapi lelaki brengsek itu menghancurkan hidup adikku!"
"Dika?! Memangnya dia berbuat apa?"
Cindy penasaran tentang kabar mantan kekasihnya itu.
"Adikku begitu tergila-gila padanya. Entah pelet apa yang dia pakai sampai-sampai adikku terkena sakit mental OLD"
Juan mulai bercerita dan terlihat begitu sedih.
"Mungkin kamu benar dia menggunakan pelet. Aku pun dulu begitu hingga aku harus hidup di balik jeruji besi ini karenanya. Tapi Dika itu memang tampan"
Ujar Cindy dengan wajah tertunduk.
Juan tahu kalau wanita itu pasti mengenang kembali kebersamaannya dengan Dika. Entah mengapa lelaki itu menjadi sedikit kesal karenanya.
"Ketampanan yang membawa bencana bagi orang yang mendekatinya"
__ADS_1
Ujar Juan sambil mengarahakan pandangannya ke lain.
"Apa itu artinya kamu cemburu?"
Tanya Cindy memperhatikan wajah Juan setelah mendengar ucapan lelaki itu.
"Nggak lah, ngapain cemburu?! Aku benci mereka yang sudah menghancurkan keluargaku"
Sangkal Juan sambil nyengir.
"Sudahlah, buat apa kamu membalas mereka yang sangat sulit di sentuh itu?! Menyerah saja, dan bagaimana pun aku nggak mau lagi berurusan dengan mereka. Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini dan menikmati hidupku yang dulu"
"Kapan kamu akan bebas?"
Tanya Juan kembali memperhatikan Cindy.
"Aku baru menjalani masa hukumanku setahun, jika kelakuan ku terlihat baik, mungkin masa hukumanku bisa dikurangi lagi. Semoga saja tahun depan aku bisa bebas, ayahku janji akan mengusahakannya jika aku tidak lagi melakukan kesalahan"
Ujar Cindy yang terlihat bersemangat menanti kebebasannya.
"Jadi artinya kamu sekarang ingin menjadi wanita baik-baik?"
"Ck, itu bagus kan?!"
Tanya Cindy yang kesal karena Juan sepertinya meremehkan dirinya.
"Ya bagus..."
Lalu Juan kemudian menceritakan bagaimana perusahaannya sekarang di miliki oleh Dika.
Tanpa sadar Cindy bagai magnet untuknya. Berawal dari rasa ingin tahu kemudian simpati dan kini Juan mulai merasakan ada kenyamanan ketika mengobrol bersama Cindy.
Mereka yang awalnya membicarakan musuh mereka, lama kelamaan berubah menjadi pembicaraan yang lebih ke diri mereka masing-masing. Mereka mulai akrab, tertawa bersama dan saling perhatian satu sama lainnya.
"Oh, aku sudah punya hape sekarang. Ayahku mengijin aku memakai benda ini lagi"
Ujar Cindy sambil menggoyangkan hapenya menunjukkannya pada Juan.
Juan lalu merebut benda pilih itu dari tangan Cindy.
"Loh, kamu mau apa?"
Tanya Cindy bingung ketika Juan mengunakan hapenya.
Hanya sebentar saja Juan lalu mengembalikan hape itu pada pemiliknya.
"Itu nomerku. Kamu bisa chat kapan pun kamu mau"
Cindy tersenyum sambil mengambil hapenya kembali dari tangan Juan. Tanpa mereka sadari, mereka mulai tertarik satu sama lain.
*****
__ADS_1
Sebulan setelah kepulangan mereka dari liburan, Umi yang ikut mereka pulang ke Indonesia mendapat perhatian khusus dari beberapa pekerja dirumah besar terutama kaum adam.
Perubahan drastis pada wajah Umi setelah melakukan operasi plastik (oplas), membuat dirinya jauh berbeda. Namun Umi masih saja kurang percaya diri meski kerap kali di puji oleh Asep.
"Mbak Umi, pangling saya"
"Apaan sih Leonardo, kamu kayak kurang kerjaan aja. Sana nanti di panggil pak Tomy nggak denger lagi kamu?"
Ujar Umi yang merasa malu Asep terus melihat wajahnya.
"Mbak Umi jadi cantik loh, hebat ya oplas itu. Kalau kayak gini kan saya jadi naksir"
Ujar Asep terang-terangan kepada Umi.
"Haaah? Kamu jangan macem-macem ya Nardo, aku ini 3 tahun lebih tua dari kamu. Yang ada ntar kita kayak cerita-cerita itu yang kawin sama brondong"
Umi sewot menghadapi Asep yang di pikirnya kurang kerjaan sehingga mengganggu dirinya.
"Elah..,cuma beda 3 tahun doang"
Jawab Asep santai sambil tersenyum lebar menampakkan deretan putih giginya.
"Terus ntar dah nikah kamu panggil aku mbak jadi aku ntar isterimu apa mbak mu?"
"Hehehe, ntar kalau udah nikah mbak Umi saya panggil bebeb"
"Ilih..."
Umi melengos dan kesal mendengar jawaban pemuda itu.
"Loh, mbak Umi nggak percaya? Padahal saya serius loh?!"
Asep berusaha meyakinkan setelah melihat Umi yang langsung berubah cuek padanya.
"Jangan ngandi-ngandi?!"
"Loh serius loh mbak saya?!"
Ujar Asep sungguh-sungguh sambil menatap Umi.
Umi melarikan diri dari hadapan Asep. Namun lelaki itu terus mengikutinya hingga mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Dasar bocah gendeng, maunya kok sama yang lebih tua. Apa karena selama ini aku bersikap baik terus dia mulai berani sama aku?!"
Gumam Umi kesal setelah menutup rapat pintu kamarnya mengindari Asep yang terus berusaha mendekatinya.
Asep yang mendapat perlakuan jutek oleh Umi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pemuda itu menghela napas sambil berpikir bagaimana ia bisa meyakinkan Umi bahwa dirinya sebenarnya serius.
"Masa iya saya terlihat main-main?! Apa langsung lamar aja ya biar kelihatan serius? Dari dulu kan saya memang sudah suka sama mbak Umi meski wajahnya cacat. Lah sekarang udah cantik, jadi makin suka dong?! Kalau nggak cepet-cepet ntar di tikung kan berabe. Apalagi jaman ini, wah... kalau nggak nikung pasti di tikung. Udah kayak motor Gp aja"
Gumam Asep sambil berjongkok mengutarakan isi hatinya walau tidak ada seorang pun yang mendengarkan karena pemuda itu sedang berada di dalam toilet.
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊