
Tomy kembali mengatur strategi untuk mendekati Humaira. Setiap hari lelaki itu mendatangi kediaman Humaira dan menikmati makan malam bersama keluarga kecilnya. Sesekali Tomy akan bermain dengan Danu saat bocah itu belum tidur.
Hadirnya Tomy diantara keluarga kecil Humaira membuat mereka merasakan seperti keluarga utuh yang sebenarnya. Sikap Tomy yang hangat dan ramah membuat Danu merasakan hadirnya seorang ayah. Humaira pun melayani kedatangan Tomy bagai suaminya sendiri.
Humaira tahu itu adalah salah, bagaimana pun juga mereka bukanlah sepasang suami istri. Wanita itu menganggap melayani Tomy adalah bagian dari pekerjaannya. Apa yang telah Tomy berikan selama ini ia anggap itu adalah imbalannya.
"Lusa aku membawa Danu ke RS untuk di cek up. Jika ada pengobatan yang bagus disini kita upayakan terdekat dulu. Jika memang tidak ada, kita akan membawanya ke luar negeri"
Senyum bahagia Humaira mengembang saat mendengar ucapan Tomy. Umi yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum bahagia.
"Baik tuan, dan terima kasih. Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan selama ini pada tuan. Kenapa ada begitu baik padaku tuan? Padahal aku bukan siapa-siapa apalagi kita saling mengenal dari dunia malam"
Tanya Humaira yang penasaran.
"Jika aku katakan apa kau yakin tidak akan menolak?"
Humaira merasa sedikit deg-degan menerka maksud dari ucapan Tomy. Sedikit ragu namun ia mencoba memberanikan diri menanyakan kembali apa yang di maksud tuanya itu.
"Apa itu tuan, jika aku sanggup aku nggak akan menolaknya"
Ujar Humaira yang sangat ingin tahu maksud Tomy.
Tomy menatap Humaira tanpa berkedip sedikitpun. Mata mereka saling beradu cukup lama hingga membuat Humaira gugup lalu memalingkan wajahnya.
Tomy tersenyum melihat wajah wanita yang mulai malu-malu itu.
"Belajarlah untuk mencintai aku..."
Tutur Tomy yang mengejutkan Humaira. Wanita itu kembali menatap Tomy dengan wajah penuh tanda tanya.
Tomy beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Danu dan meninggalkan Humaira yang masih tertegun.
"Om pulang dulu ya"
Ucapnya hangat sambil membelai pucuk kepala Danu dengan lembut.
"Iya... becok cini lagi, Danu mau cini lagi"
Ucap Danu merespon pamitan Tomy.
Tomy pun melangkah keluar rumah. Di depan sudah ada Romi yang setia menunggu tuannya untuk mengantarnya pulang.
Romi bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam. Diatas jam itu, Tomy akan menyuruh asistennya itu pulang dan ia pun akan menyetir sendiri mobilnya.
"Pulang kerumah pak?"
Tanya Romi setelah tuannya duduk di dalam mobil.
"Hmm. Bagaimana dengan Dika Rom?"
Tomy menanyakan informasi keseharian Dika setelah menyuruh Romi untuk menugaskan seseorang mengikuti Dika.
"Sejauh ini masih aman pak. Pak Dika sudah jarang ke klub malam dan sudah tidak lagi mencari nona. Sepertinya ada wanita lain yang sekarang sedang mengalihkan perhatiannya"
Ungkap Romi dengan hasil penyelidikannya. Kemudian lelaki itu kembali fokus menjalankan kendaraannya.
Tomy mengeluarkan smartphonenya dan melakukan panggilan disana.
"Halo..."
"Ya sayang..."
"Apa kau sudah mau tidur?"
"Belum... mataku masih sanggup menunggumu sayang. Kau sudah selesai makan disana?"
"Aku baru saja selesai dan dalam perjalanan pulang. Sayang... apa kau yang memanggil gadis itu kemari?"
__ADS_1
"Siapa sayang... apa maksud mu Yasmin? Apa Dika sudah bertemu dengannya?"
"Sepertinya begitu"
"Wah, adikku itu bagai predator saja. Cepat sekali responnya"
"Sepertinya aku juga mengenal sifat itu dari seseorang"
"Hahaha... jangan di ungkit lagi sayang, aku sangat malu bila mengingat hal itu"
"Baiklah, aku akan segera sampai..."
"Hati-hati sayang..."
"Kluk"
Panggilan pun berakhir.
*****
"Kamu suka Americano Ice bukan?"
"Kamu masih ingat ya?"
"Tentu..."
.....
Hening setelah berbicara sepatah dua patah kata. Hanya degub jantung yang nyaris terdengar keluar dari dada Dika membuat pemuda itu gugup setengah mati.
Jantung sialan, masih berdebar aja padahal udah lama banget nggak ketemu
"Apa kabar mu Dik? Maaf ya waktu itu aku pergi begitu aja"
"Seperti yang kamu lihat Yas, yah... sudah lama aku ingin menanyakan hal itu. Tapi aku nggak tahu harus menghubungi kemana"
"Apa urusanmu susah selesai?"
Tanya Dika pada Yasmin yang di jawab gadis itu dengan anggukan kepala.
"Sukur lah..., apa kamu akan pergi lagi?"
Tanya Dika hati-hati tak ingin gadis itu merasa tidak nyaman.
Yasmin mengangkat bahu.
"Itu semua tergantung kamu Dik?"
"Aku? Kenapa aku?"
Dika kebingungan atas pernyataan Yasmin.
"Jika kamu menginginkan aku pergi, maka aku akan pergi"
Tutur Yasmin menatap lembut Dika.
Dika mencoba mencerna maksud dari ucapan Yasmin. Raut wajah pemuda itu terlihat sedang berpikir walau matanya sedang memandang gadis ayu yang berada tepat didepannya.
Yasmin adalah cinta pertama Dika, yang tiba-tiba menghilang begitu saja saat Dika sedang dimabuk cinta olehnya. Yasmin yang menghilang setelah Dika menyatakan cinta padanya, membuat pemuda itu hilang arah dan menjadi penebar virus cinta bagi kaum hawa yang terpesona oleh wajahnya.
"Jadi kalau aku meminta mu untuk nggak pergi?"
"Maka aku nggak akan pergi"
Jawab Yasmin sambil tersenyum.
Dika nyaris tidak percaya apa yang ia dengar. Itu sama saja bahwa Yasmin juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya dulu.
__ADS_1
Tapi kenapa baru sekarang? Disaat aku mulai membuka hati ku untuk wanita lain
"Apa kamu bertanya dalam hatimu kenapa baru sekarang?"
"Bagaimana kamu...?"
"Aku sudah menunggu lama untuk menjawab pernyataan cintamu dulu Dik. Apa aku sudah terlambat?"
Dika tidak menjawab pertanyaan Yasmin. Setelah bertemu kembali dengan Yasmin, ia menjadi sedikit ragu atas perasaannya sendiri pada Humaira.
"Aku rasa masih ada tersisa sedikit rasa cinta untukku kan. Bukankan kamu bisa bertemu denganku sekarang karena Umar? Jika kamu nggak mencintaiku, aku yakin kamu nggak akan seantusias ini mencariku"
Flash Back On
Dika melajukan motornya menuju rumah Umar. Jam menujukan pukul 8 malam namun ramainya kendaraan masih saja memenuhi jalan-jalan ibu kota. Dika melewati jalan pintas agar segera tiba ke rumah sahabatnya. Dan kurang dari setengah jam, Dika sudah dapat mengetuk pintu rumah Umar yang langsung membuka pintu sambil melihat jam ditangannya.
"23 menit 42 detik. Milih masuk antrian meninggoy di jalan lu ya, perjalanan 45-60 menit lu bantai 24 menitan doang?! Ck... ck...!"
"Gara-gara lu njiiir....?!"
Dika sewot.
"Siapa suruh ngabaikan pesan gue?!"
"Lu ketemu dimana? Apa dia baik-baik aja? Dia sehat kan?"
"Buset, gue di rundung lalat...?!"
"Lu kira mulut gue ngeluarin laler, gue nanya sarap...?!"
"Oh... nanya. Tanya langsung ma orangnya noh?!"
"Hah??"
Dika terbengong.
"Tuuuu....."
Umar membuka pintunya lebar-lebar. Baru terlihat jelas disana duduk seorang gadis yang tersenyum-senyum mendengar percakapan mereka.
Mendadak Dika seperti terkena serangan jantung. Debaran jantungnya sangat keras, hingga napasnya mulai tidak stabil. Perasaan bercampur aduk menyelimuti dirinya setelah melihat wajah gadis yang dulu hadir memenuhi seluruh hati dan pikirannya.
Flash Back Off
Notes : Kira-kira visual Dika sama Yasmin seperti gambar di atas ya, hanya untuk imajinasi aja buka real. Oke😉
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.
Terima kasih 🙏
__ADS_1