Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Posesif


__ADS_3

Awal bulan seperti biasanya, notaris pribadi Tomy melakukan pengecekan pada kliennya mengenai wasiatnya. Tomy selalu melakukan perubahan surat wasiat jika ia menginginkannya. Dan hari ini, notaris itu mendatangi kantor Tomy untuk melakukan perubahan surat wasiat atas permintaannya.


"Ini saja pak? Ada tambahan lain lagi?"


Tanya sang Notaris.


"Sementara itu dulu. Bulan depan jika tidak ada perubahan lagi kau datanglah kemari"


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi"


Notaris pun pamit pada Tomy untuk meninggalkan ruangan itu.


"Ya silahkan"


Setelah kepergian notaris, Tomy pun ikut beranjak dari duduknya untuk pergi menjemput sang isteri melakukan rutinitas bulanan. Mereka berencana belanja keperluan dapur dan rumah bersama-sama.


Akhir-akhir ini kedua pasangan suami isteri itu selalu menunjukan kemesraan mereka di manapun mereka berada. Tomy yang selalu berpenampilan dingin, sejak beberapa waktu lalu mulai bersikap manja pada Humaira.


Mereka seperti pasangan yang baru menikah dan sedang mesra-mesranya. Setiap mara yang melihat membuat mata tersipu dan kagum melihat kemesraan mereka.


Lalu di sebuah mart di suatu Mall, Tomy dan Humaira sedang asik memilih buah dan sayur.


"Jane itu lu kan?"


Suara barito seorang laki-laki membuat Humaira terdiam karena memanggil dirinya Jane. Sudah lama ia tidak mendengar dirinya di panggil dengan nama itu.


Humaira pun melihat ke arah pemilik suara. Ia ingin mengetahui lelaki mana yang berani mengantarkan nyawanya ke kadang singa yang siap menerkam.


Ya, tentu saja singa itu adalah Tomy. Karena lelaki itu langsung beraksen dingin kembali mendengar nama masa lalu isterinya di sebut.


"Lu nggak lupa gue kan?"


Tanya lelaki itu kembali karena Humaira tidak menjawab pertanyaannya.


"Kau mungkin salah orang"


Ujar Tomy sambil merangkul Humaira dan mengajaknya meninggalkan lelaki itu.


"Gue nggak mungkin salah. Lu pasti Jane?!"


Tomy mengeratkan pegangan tangannya di bahu Humaira hingga wanita itu tahu jika suaminya sedang menahan emosi.


"Mas jangan?! Abaikan saja"


Pinta Humaira dengan suara pelan yang tidak ingin terjadi keributan di mart tersebut.


Humaira pun menggandeng tangan Tomy dan segera melangkahkan kaki membawa suaminya menjauh dari pria tadi.


Mereka lalu duduk di sebuah kafe untuk beristirahat sejenak sambil menikmati desert serta minuman dingin yang menyegarkan kepala.


"Tidak mau pesan makanan yang lain?"


"Nggak usah mas, aku masih kenyang"


"Kalau begitu tunggu aku disini sebentar ya, aku mau ke toilet"


"Ya mas, jangan lama ya mas?"

__ADS_1


"Hmm..."


Tomy pun meninggalkan Humaira menuju toilet terdekat. Di dalam toilet Tomy langsung mendorong tubuh pria yang tadi menyapa isterinya sambil menarik kerah baju pria itu. Rupanya Tomy hanya menjadikan alasan ke toilet karena ia melihat pria itu masuk ke sana.


Adegan itu memancing perhatian orang sekitar hingga beberapa meninggalkan toilet dan ada juga yang memanggil pihak keamanan.


"Ada apa ini pak?"


Tanya seorang lelaki yang mencoba melerai.


"Aku tahu kau mengetahui masa lalu isteriku dan kau mungkin pernah menidurinya. Tapi kau harus tahu, itu sudah menjadi masa lalu dan dia milikku sekarang, camkan itu!!"


Ancam Tomy dengan suara rendah dan menekan tanpa melepaskan tangannya dari kerah baju pria tadi. Ia tidak memperdulikan orang-orang sekitar yang berusaha menahannya untuk tidak baku hantam pada pria itu.


"Maaf, gue nggak bermaksud menggangunya. Tha'ts right itu hanya masa lalu. Gue hanya sekadar menyapanya oke?!"


Ujar lelaki itu sambil mengangkat tangannya menandakan dirinya tidak ingin keributan.


Tomy lalu melepaskan tangannya dan menatap tajam lelaki itu. Kemudian beranjak pergi tepat petugas keamanan hampir memasuki toilet.


"Gila ya, ganteng-ganteng tapi seram banget"


"Itu namanya macho tahu. Duh kapan ya gue punya cowok kayak gitu?"


Percakapan kedua wanita yang baru saja melintas tidak begitu di perhatikan Humaira. Wanita itu sedang asik video call dengan Gibran putranya.


Panggilan telepon pun ia akhiri dan mencoba menghubungi suaminya. Saat Humaira baru meletakan handphone ke telinganya, suaminya Tomy sudah duduk dihadapannya.


"Loh, baru saja mau aku telepon mas. Udah? Kita pulang yuk, Gibran menangis kita nggak mengajaknya. Aku baru saja video call sama anak kita"


Ujar Tomy langsung berdiri dan membayar pesanan mereka.


Mereka pun segera pulang kerumah sambil bercanda dalam mobil menertawakan perkembangan anak mereka yang tanpa sepengetahuan Humaira kalau Tomy baru saja mengancam seseorang di mall tadi.


*****


"Hei, Naim?! Coba tebak siapa yang aku temui tadi di mall?"


"Ya gue nggak tahu lah, dan gue paling males tebak-tebakan?!"


"Jane"


"Haaah?! Kok bisa, terus gimana?"


"Hahaha pengen tahu kan lu. Datang aja kerumah gue sekarang. Jangan lupa bawa soto Medan, gue laper?!"


"Ish, bilang aja lu laper?!"


"Kluk"


Naima kesal dan langsung mematikan panggilan telepon dari Bastian. Wanita itu segera mengambil tasnya dan pergi menuju rumah Bastian karena rasa penasarannya mengalahkan segalanya.


Bastian terkekeh ketika melihat Naima yang datang dengan wajah kesal membawa sebungkus soto Medan pesanannya.


Lelaki itu sengaja mengerjai sepupunya karena ia tahu Naima pasti akan melakukan apa pun untuk tahu tentang Jane maupun Tomy sekarang.


Naima menatap kesal Bastian dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Enak?!"


Tanya Naima yang melihat Bastian makan dengan lahapnya.


"Banget"


Ujar Bastian tanpa menoleh ke arah Naima karena pemuda itu tahu, Naima pasti sedang kesal.


"Lalu kapan lu mau cerita ke gue?"


"Belum juga habis"


Jawab Bastian dengan santainya.


Setelah isi mangkoknya ludes di makan, Bastian duduk tersandar menatap Naima sambil tersenyum cengengesan.


Wajah sepupunya itu sudah menyamai Hulk ketika badmood.


"Gue ketemu Jane di mall bersama si Tomy itu. Mesraaa... banget"


Kata mesra sengaja lebih di dominasi oleh Bastian untuk memanasi sepupunya itu.


"Terus?!"


"Terus, gue sapa deh kalau itu si Jane. Dan mereka mengabaikan gue"


"Hah?! Udah gue kira"


"Tapi lu bener. Tomy kenapa jadi sekeren itu ya?! Pantes aja lu baper"


"Ck, lalu kelanjutannya apa?"


Naima kembali kesal Bastian sengaja mengolok dirinya.


"Tomy langsung melabrak gue, dan sebaiknya lu jangan lagi berniat menggangu mereka. Gue sempat cari tahu Tomy yang sekarang. Dia jauh berbeda dari Tomy yang dulu. Jadi lu jangan macem-macem dengan dia?!"


"Gue tahu!"


"Tahu tapi ngapain lu masih ngusik mereka?!"


Naima hanya diam mendengar pernyataan Bastian.


"Gue tahu lu nyesel nggak nerima Tomy dulu. Tapi lupakan dia sekarang, dia sudah milik orang lain"


"Tapi orang lain itu wanita mura*han yang udah pernah lu pakai juga"


"Mungkin itu udah nasibnya dia, keberuntungan dia menjadi isteri Tomy sekarang. Sudah lah, masih banyak laki-laki lain yang sekaya dan sekaya Tomy"


"Dia juga tampan"


"Hahaha, sekarang aja lu bilang tampan. Lah dulu? Saran gue, asal ada lelaki baik dan kaya yang mau sama lu jangan tolak dah. Penampilan bisa di ubah asal ada uang. Lupain Tomy, perasaan lu itu cuma sesaat aja karena lu baper nolak dia dulu"


Naima memikirkan perkataan Bastian yang mungkin ada benarnya. Wanita itu duduk tersandar seperti sepupunya.


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2