
Yasmin hanya menggeliat sambil mende*sah ketika tangan Dika bergerilya menyusuri seluruh lekuk tubuh indah dirinya. Kissmark yang ia tinggalkan Dika sudah banyak terlihat di tubuh putih yang mulus itu.
Napas keduanya saling memburu ketika pangutan-pangutan di bibir mereka tak pernah lepas. Lidah Dika menerobos masuk menjelajahi seluruh ruang di mulut Yasmin. Dika yang memiliki segudang pengalaman menuntut isterinya untuk mencapai kepuasan. Lidah mereka saling bertemu, berbelit dan saling bertukar saliva.
Sesekali Dika meremas bukit kenyal milik Yasmin hingga wanita itu kembali mende*sah. Apa lagi saat Dika mulai turun menciumi tubuh Yasmin, membuat wanita itu meremas rambut di kepala Dika.
Tujuan utama Dika sudah terlihat. Batang tumpulnya yang sedari tadi menegang sudah tidak sabar untuk masuk ke lubang kenikmatan milik Yasmin.
"Ini akan sakit sedikit, tapi aku akan melakukannya perlahan. kamu siap yank?"
Tanya Dika dengan peluh yang mulai membasahi tubuhnya.
Yasmin mengangguk dengan wajah memerah. Tubuhnya dan Dika yang polos tanpa sehelai benang pun membuat jantungnya berdebar-debar. Antar malu dan mau ia menatap bagian bawah keperkasaan Dika. Yasmin menelan salivanya saat benda tumpul itu berdiri tegak mendekati miliknya.
"Uughh...."
Yasmin meringis ketika milik Dika perlahan memasuki bagian intimnya.
"Ini nggak akan lama, setelan ini kamu pasti akan ketagihan..."
Ujar Dika sambil menciumi bibir Yasmin yang melenguh antara sakit dan nikmat.
Dika yang mahir mencari celah karena pengalamannya, membuat Yasmin merasa nyaman. Sakit itu hanya sesaat di rasakannya berganti kenikmatan yang susah untuk di jelaskan.
"Ouuh... yank!"
Perlahan ranjang mulai bergoyang. Pinggul Dika bergoyang bak irama lagu yang mengantar keperaduan. Suara desa*han Yasmin bagai nyanyian merdu yang melengkapi suasana bercinta malam itu. Hingga puncak kenikmatan datang dan menghamburkan sesuatu yang hangat di dalam tubuh Yasmin.
Keduanya terkulai lemas dengan napas terengah-engah. Dika meraih kepala Yasmin yang berada di bahunya dan mencium lembut kening isterinya.
"Makasih sayank, 15 menit lagi sekali lagi ya...?"
Begitu lah permintaan Dika yang tiada habisnya hingga menjelang pagi mereka baru terlelap.
Tiga hari tiga malam Dika dan Yasmin tidak keluar dari kamar honeymoon mereka. Bahkan makanan pun di antar kedalam kamar.
Pengalaman pertama Yasmin langsung di didik Dika berkali-kali hingga membuat wanita itu tak bergerak dari tempat tidurnya. Selang*ka*ngannya terasa perih dan nyeri ketika di bawa bergerak. Mau tidak mau ia harus menunggu sampai rasa sakit itu mereda untuk melihat keindahan kota Bali.
__ADS_1
Untungnya kamar mereka yang menghadap ke laut tidak membuat Yasmin jenuh berada di kamar. Suasana romantis selalu tercipta setiap saat hingga ia tidak menolak Dika yang selalu mengajaknya bercinta.
*****
Tomy menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Lelaki itu hari Ini begitu bersemangat untuk segera dapat berlibur bersama isterinya Humaira. Mendengar Dika dan Yasmin berangkat bulan madu ke Bali, Tomy memutuskan untuk mengajak isterinya liburan untuk mencari suasana segar setelah berkutat dengan aktifitas di kantor.
Gibran yang sudah berusia 5 bulan sedang lucu-lucunya.
Tomy berencana meninggalkan anaknya itu dengan Umi, agar dia bisa menikmati liburan dengan sang isteri seperti masa bulan madu mereka.
"Sayang berkemaslah. Kita akan berangkat malam ini"
"Haa...kemana? Kok mendadak?"
"Bulan madu"
"Aku berencana memberikan Gibran teman bermain. Dia akan segera memiliki adik"
Ujar Tomy antusias. Padahal hampir setiap malam mereka selalu memproses adik untuk Gibran. Tapi karena Humaira masih ingin merawat Gibran dengan sepenuh hati, kehamilannya pun di tunda dengan alat kontrasepsi.
"Hehehe... Alasan aja kamu mas. Sudah lah, buat apa berpergian jauh-jauh? Kita bisa menikmati bulan madu di rumah lama saja tanpa cemas meninggalkan Gibran"
Setelah mendengar ucapan Humaira, Tomy baru teringat rumah lama yang ia belikan untuk Humaira. Kawasan rumah itu masih asri dengan udara segar serta tentangga yang tidak banyak dan berada agak jauh dari rumah mereka.
"Baiklah aku setuju"
Ujar Tomy dengan senyum lebarnya dan menatap Humaira dengan pandangan menggoda.
Humaira baru tahu setelah melahirkan Gibran, Tomy ternyata memiliki naf*su tinggi. Tapi hebatnya, lelaki itu selama ini mampu bertahan menghadapi kondisi Nia serta godaan tubuh Humaira ketika masih menjadi wanita malam.
Sesuai kesepakatan mereka pun pergi ke rumah lama yang hanya berjarak setengah jam dari rumah besar mereka.
Sampai disana Tomy langsung menggendong Humaira menuju kamar pergulatan mereka. Humaira melingkarkan kedua tangannya di leher Tomy, dan kedua kakinya melingkar di pinggang lelaki bertubuh tegap itu. Dalam gendongan Humaira mencium bibir suaminya tanpa henti. Bahkan Tomy sampai kewalahan melihat jalan hingga tubuh isterinya menabrak dinding.
__ADS_1
"Aww... Hehehe.."
Humaira terkekeh karena sebenarnya ia sengaja ngerjai suaminya.
"Nakal ya..."
Tomy langsung menggigit bibir bawah isterinya yang tampak menggemaskan. Pergulatan panas pun terjadi malam itu. Tomy yang selalu haus akan berhubungan intim tidak puas-puasnya melahap Humaira berkali-kali.
Meski suaminya seperti itu, Humaira merasa bahagia dirinya sangat dinginkan oleh sang suami. Ia tidak pernah menolak sekalipun hal itu sangat melelahkan tubuhnya. Baginya kepuasan suami adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Apalagi pengalaman masa lalunya memberi banyak pelajaran baginya untuk tidak menolak ke ingin suami dalam hubungan ranjang. Suami yang merasa di puas tentunya tidak mudah berpaling darinya.
Keringat berkucuran dengan napas terengah-engah. Tomy memeluk tubuh Humaira dan mendaratkan ciumannya bertubi-tubi di seluruh wajah Humaira.
"Tidur lah...,kau pasti lelah"
Belum lama suara Tomy terdengar di kamar itu. Humaira telah tertidur dengan lelapnya.
Tomy tersenyum, ia merasa bahagia memiliki isterinya Humaira yang tidak pernah menolak keinginanya.
"Pilihanmu memang tepat Nia sayang, aku beruntung tidak menolak permintaanmu"
Gumam Tomy yang teringat akan istrinya pertamanya Nia.
Keesokan harinya, sarapan sudah tersedia di meja makan. Aroma masakan Humaira tercium hingga membangunkan Tomy yang tadinya masih terpejam. Pergulatan sekian ronde membuatnya sangat lapar pagi itu. Ia pun bergegas mandi dan bersiap sarapan bersama isteri tercintanya.
Suasana tenang dan nyaman dirasakan kedua pasangan suami isteri itu. Tidak ada masalah, tidak pula kekurangan ekonomi, semua baik-baik saja.
"Aku kangen Gibran mas. Malam ini kita pulang ya?"
Pinta Humaira setelah mereka selesai sarapan dan duduk santai sambil menikmati pagi dengan secangkir kopi panas.
"Baiklah kalau isteriku meminta begitu"
Tomy langsung mengiyakan karena dalam hatinya sudah menyusun rencana untuk kerumah itu tiap akhir pekan bersama isterinya. Di rumah lama itu yang hanya ada mereka berdua, Tomy lebih bersemangat apalagi Humaira sampai berteriak tanpa ragu di saat mereka sedang bercinta.
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
__ADS_1