Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Ultimatum Tomy


__ADS_3

Amarah Tomy memuncak dikepala begitu mendapat laporan dari Romi kalau isterinya diseret paksa masuk ambulans RSJ. Ia segera menuju RSJ (Rumah Sakit Jiwa) di mana Humaira berada. Lelaki itu segera mendatangi kepala RSJ, meminta konfirmasi dari rumah sakit terkait membawa isterinya tanpa seijinnya.


"Maafkan saya pak Tomy, laporan baru saja saya terima. Mereka menerima suap dari ibu Kartika untuk membawa isteri anda dirawat disini"


Mendidih Tomy mendengar pengungkapan kebenaran yang di sampaikan oleh kepala RSJ itu. Tanpa bicara lelaki itu lalu memberikan hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter pribadinya beberapa hari lalu, yang mengatakan bahwa Humaira hanya menderita depresi ringan saja.


"Saya akan menindak tegas mereka yang melanggar aturan. Mohon maaf untuk ketidak nyamanannya pak? Ibu Humaira bisa di bawa pulang"


Ucap kepala RSJ berjanji pada Tomy setelah membaca hasil pemeriksaan itu.


"Terima kasih"


Ucap Tomy dingin lalu melangkah menuju ruang istrinya berada.


Sepeninggalan Tomy dari ruang itu, kepala RJS pun murka pada bawahnya yang melakukan kesalahan. Ia merasa malu atas kelalaian pengawasan RS nya terhadap tindakan pegawainya yang menerima suap. Sesuai ucapannya, ia pun menindak tegas mereka yang telah melakukan kesalahan.


*****


Humaira menangis dalam diam sambil memeluk bantal di ruang itu. Ia segera melihat ke arah pintu ketika mendengar suara pintu itu dibuka, dan mencari tahu siapa yang datang kepadanya saat itu.


"Mas... maaaas... hiks"


Tangisnya pecah ketika sosok Tomy terlihat jelas di balik pintu itu. Humaira pun segera menghamburkan diri masuk ke dalam pelukan Tomy.


"Maaf aku terlambat..."


Ucap Tomy memeluk erat tubuh isterinya dan mendaratkan ciuman hangat di pucuk kepala wanita itu.


"Aku nggak gila mas... hiks, aku nggak gila..."


"Iya, aku tahu sayang. Karena itu aku menjemput mu pulang. Ayo kita kembali, dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menyakitimu!"


Tomy merangkul tubuh Humaira berjalan keluar meninggalkan ruangan dan rumah sakit itu.


Sosok Tomy yang gagah dan tampan serta Humaira yang cantik tak luput dari pandangan mata orang-orang yang berada di sekitar mereka, yang menyebabkan bisikan-bisikan keingin tahuan mereka melihat Tomy dan Humaira. Namun, baik Tomy maupun Humaira tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang penasaran kepada mereka.


Tiba di halaman rumah, Tomy segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk isterinya. Dari dalam rumah, Sela sudah memperhatikan mereka. Ia pun segera menghampiri bibi Kartika untuk melaporkan perihal tersebut.


"Kenapa kau bawa lagi perempuan itu?!"


Sambutan tak menyenangkan di berikan oleh bibi Tomy yang menunggunya di dalam.


"Jaga ucapan bibi! Apa maksud bibi dengan berkata perempuan itu?! Dia isteriku, wanita yang secara sah aku nikahi"


"Wanita malam maksudmu?!"


Ucap bibi Kartika dengan menatap sinis Humaira.


"Terlepas dari apapun masa lalu nya dia tetap isteriku sekarang"


"Cuih!! Kau hanya membawa aib untuk keluarga ini?!"


Tomy mengepalkan tangannya mendengar ucapan sang bibi.


"Cukup bi! Selagi aku masih bicara baik-baik, tolong tinggalkan rumah ini?!"

__ADS_1


"Rumah? Hahahaha.... kau lupa ada bagian ku disini? Ini tanah milik mendiang ayahku! Aku memiliki hak disini!"


"Bibi bisa bicara dengan pengacaraku. Aku telah menyerahkan urusan ini padanya"


"Apa maksudmu?"


"Hak bibi atas tanah ini dan saham 10% di perusahaan sudah aku keluarkan. Bibi sudah tidak memiliki hak apapun terhadap apa yang aku miliki"


"Apa?! Kau jangan mengada-ada?!"


"Tanyakan pada putra kesayangan bibi serta wanita yang ada disebelah bibi itu. Mereka yang lebih dulu menikmatinya"


Ucap Tomy menatap tajam ke arah Sela.


Kartika langsung melihat ke arah Sela yang langsung berubah pucat karena penuturan Tomy.


Melihat perubahan ekspresi wanita itu, jelas sudah bahwa ucapan Tomy tidaklah mengada-ada seperti tuduhannya.


"Kau!!"


Ucap bibi Kartika tertahan ketika melihat Sela. Wajahnya memerah manahan amarah dan dadanya turun naik menahan emosi yang siap meledak.


"Nggak tante... itu nggak benar?!"


Sela berusaha menyangkal.


"Aaaaagh... aaaghh....!"


Kartika memegang dada di bagian jantungnya. Ia tampak mengerang kesakitan seperti terkena serangan jantung.


Sela panik hingga menjauhkan dirinya dari wanita paruh baya itu.


Perintah Tomy ketika melihat bibinya mengerang kesakitan. Namun karena dirinya sedang marah pada wanita paruh baya itu, ia tidak mau mengurus bibi Kartika dan menyerahkannya pada sang asisten.


"Baik pak"


Romi pun segera membawa bibi Kartika kerumah sakit sambil mencoba menghubungi suaminya.


Tatapan tajam Tomy pada Sela yang masih berada di ruangan itu, membuat Sela menelan salivanya dengan ketakutan. Ia pun pergi tanpa ucap pamit pada Tomy maupun Humaira.


"Jangan biarkan dua wanita itu masuk kerumah ini. Segera seret keluar jika mereka hendak masuk kesini!"


Perintah Tomy pada para penjaga rumahnya.


"Baik pak"


Sedikit kelegaan di wajah Humaira meski ia merasa tidak enak hati Tomy harus memperlakukan bibinya dengan kasar.


"Umi mas??"


Tanya Humaira menatap suaminya resah.


"Umi ada sayang... dia dirumah lama"


Jawab Tomy mencoba menenangkan Humaira.

__ADS_1


"Aku mau Umi disini mas"


"Tentu saja, apapun yang kau mau. Supir akan segera menjemputnya"


Hari itu di tutup Tomy dengan berada dirumah menemani isterinya setelah hampir seharian mengurus ulah bibinya.


Humaira yang terkadang masih sering melamun membuat Tomy cemas. Lelaki itu tidak ingin isterinya mendapat tekanan dalam bentuk apapun lagi. Ia pun mencoba memberikan yang terbaik untuk Humaira.


Mereka bedua masih dalam masa berkabung. Kepergian Danu dan Nia baru melewati kurang lebih 25 hari. Tomy yang juga masih bersedih atas mendiang isteri pertamanya berusaha untuk tetap tegar di hadapan isteri keduanya yang sedang dalam masa rapuh.


"Hueeweek... huuweek!"


Humaira memuntahkan bubur yang di suapkan oleh Tomy.


"Kau sakit?"


Tanya Tomy sambil mengusap punggung Humaira yang masih memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.


"Aku masuk angin"


"Kau tidak makan seharian ini?"


Humaira menggeleng menjawab pertanyaan Tomy.


"Aku diseret sebelum sempat makan mas"


Jawab Humaira apa adanya sambil membersihkan mulut nya.


"Ck..!"


Berang Tomy mendengar penuturan isterinya. Ia menjadi merasa bersalah karena tidak segera bertindak atas perilaku bibinya waktu pertama menentang hubungan mereka.


"Sudahlah mas... nanti di bawa istirahat juga sudah baikan"


Ujar Humaira mengusap lembut lengan suaminya, mencoba meredakan emosi lelaki itu.


"Coba makan lagi ya, perut mu jangan kosong. Mau makan apa aku belikan"


"Dulu malam-malam begini ada gerobak mie ayam deket kafe Exsy mas. Enak banget, meskipun mie ayam gerobakan aku sering makan disitu"


Ujar Humaira yang tampak menelan air liurnya.


"Oke kita kesana setelah sholat isya ya"


"Iya mas..."


Humaira pun tersenyum Tomy menuruti kemauannya. Meski kepalanya sedikit pusing namun demi mie ayam yang sedang ia inginkan, Humaira menepis rasa sakit di kepalanya.


"Mas sekalian aja kita jemput Umi setelah makan ya?"


Ajak Humaira yang teringat kembali pada Umi.


"Iya sayang..."


Humaira yang sedikit demi sedikit mulai berlaku manja tidak mengurangi rasa sayang dan cinta Tomy pada wanita itu. Wanita yang kini mengisi hatinya dan meringankan kesedihannya atas perginya Nia Fatmala.

__ADS_1


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima kasih 😊


__ADS_2