
Permasalahan yang di hadapi pengantin baru itu menyita waktu mereka. Bulan madu yang seharusnya terjadwal berangkat sehari setelah acara pernikahan terpaksa mundur 2 hari karena insiden tadi malam.
Dika mendatangi rumah Rima bersama beberapa orang polisi dan petugas Rumah Sakit. Rima yang di diagnosa mengalami penyakit mental Obsessive Love Disolder (OLD) harus di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Setidaknya hal itu membuat Dika sedikit lega karena gadis itu akan di kurung disana.
"Ada apa ini?!"
Tanya sang ibu ketika mendapati beberapa orang polisi serta perawat Rumah Sakit berkerumun di depan pintu rumahnya.
"Selamat siang ibu Salmah, kami dari ke polisian dan beberapa dari pihak Rumah Sakit akan membawa Rima putri ibu atas kasus penyerangan"
Salmah yang merupakan ibu Juan dan Rima terlihat bingung dan marah. Wanita paruh baya itu tidak mengetahui kesalahan apa yang sudah diperbuat anaknya.
"Maksudnya apa? Apa yang sudah anakku perbuat?!"
Salmah yakin kalau anaknya bukan orang yang melakukan tindak kriminal sehingga harus di tangkap.
"Putri ibu sudah menyerang kami dua kali. Dan itu merupakan tindak kriminal. Tapi sayang dia mengidap OLD jadi aku ingin dia masuk rumah sakit jiwa untuk segera ditangani. Aku nggak mau dia menyerang kami kembali"
Ungkap Dika tegas, lelaki itu tidak pandang bulu dan berharap masalah ini segera selesai.
"OLD?! OLD apa?!"
"Obsessive Love Disolder bu. Putri ibu terobsesi akan cintanya pada pak Dika hingga dia nekad berbuat sesuatu yang merugikan orang lain"
Ujar perawat yang mencoba memberi penjelasan pada Salmah.
"Nggak mungkin, anakku nggak gila?! Fitnah kalian!"
"Baiklah jika dia nggak gila, maka aku menuntutnya atas tindak penyerangan sebanyak 2 kali. Pak bawa saja..."
Ujar Dika pada polisi yang sudah mulai tidak sabar menahan emosinya.
"Tunggu!! Mungkin dia memang melakukan kesalahan. Tapi saya janji dia nggak akan melukai orang lain lagi. Saya akan mengurungnya di kamar"
Salmah berusaha menahan agar anaknya tidak dibawa.
"Itu bukan solusi yang baik bu, dampak stres akan mengakibatkan tindakan yang lebih parah lagi. Ada baiknya saudari Rima di bawa ke RS, disana dia akan mendapatkan pengobatan serta psikiater yang akan membantunya"
Ujar seorang perawat mencoba memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Mengenai biaya, aku sudah menanggungnya selama setahun penuh. Jadi lekas putuskan dia mau dibawa kemana?!"
Ujar Dika yang sudah jenuh berlama-lama di rumah itu.
Ibu Rima tampak berpikir keras, yang akhirnya ia menghela napas panjang.
"Dia ada di kamarnya. Bawa saja dia ke RS"
Ucap Salmah yang tampak lemah.
Para perawat pun mencari ke beradaaan Rima dikamarnya di ikuti oleh Salmah. Begitu membuka pintu kamarnya sang ibu terkejut mendapati foto Dika memenuhi dinding kamar putri kesayangannya itu.
"Ada apa ini? Bukannya aku nggak bersalah ya?!"
Ujar Rima dengan nada kesal melihat perawat dan polisi mendatangi kamarnya. Begitu melihat Dika yang berada di belakang punggung polisi, senyum Rima langsung merekah dengan mata berbinar.
"Sayang...kamu datang?!"
Ujar Rima pada Dika yang menatapnya tajam dan kesal.
Salmah memegang dadanya terkejut dengan sikap putrinya. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar saat ini. Selama ini Rima terlihat baik-baik saja dan ia berperilaku seperti biasanya di rumah maupun saat sedang bersama dirinya.
Juan yang baru saja tiba dirumah ketika berpapasan dengan mobil ambulans yang mengangkut adiknya tidak mengetahui apa yang terjadi. Pemuda itu bingung melihat sang ibu menangis di depan pintu rumah mereka.
"Ada apa bu?"
"Hiks.... Rima Juan, ternyata adikmu mengidap OLD apalah itu?! Ia di bawa paksa ke Rumah Sakit oleh mereka...hiks"
"OLD sejak kapan? Bukannya Rima selama ini baik-baik saja? Lalu ibu setuju?! Ide siapa memasukkan Rima ke RS?"
Salmah meraih lengan Juan dan membawa lelaki itu melihat kamar Rima. Juan terkejut melihat isi kamar yang di penuhi foto pemuda yang kini menempati bangunan usahanya.
"Dika?!"
Ucap Juan sambil melihat ke arah ibunya untuk melihat tanggapan wanita paruh baya itu.
"Katanya adikmu sudah 2 kali melakukan penyerangan pada pemuda itu. Ibu di kasi pilihan, antar penjara dengan Rumah Sakit untuk Rima. Ibu nggak sanggup Juan... hiks.."
"Kejam sekali mereka!"
__ADS_1
Juan mengepalkan tangannya mendengar cerita ibunya.
"Cepat lah cari wanita yang punya kekuasaan, balaskan sakit hati ibu ini Juan"
Juan tidak menjawab, namun pemuda itu memikirkan apa yang baru saja ibunya itu katakan.
Siapa yang mau dengan gembel seperti aku ini?! Tapi orang seperti Tomy atau Dika itu, pasti memiliki wanita yang mencintai mereka di luar sana. Ya, cinta tak berbalas pasti ada wanita seperti itu. Aku harus segera mendapatkan infomasi itu.
Juan akhirnya memutuskan untuk mencari wanita yang pernah mencintai Tomy atau Dika untuk di ajak bekerja sama untuk membalas mereka.
"Ibu jangan khawatir, aku akan segera membalas mereka"
Ibu dan anak itu pun saling menguatkan satu sama lain.
Ketamakan dan keserakahan membuat mereka buta akan kebenaran. Mereka tidak lagi memandang siapa yang salah dan siapa yang benar, karena bagi mereka hanya diri mereka sendiri yang tak bersalah dan selalu benar.
Ada pepatah yang mengatakan "Apa yang di tanam itu lah yang di tuai" dan kini hal itu yang di rasakan Juan sekeluarga. Sikap egois Juan dan Rima menurun dari sang ibu. Karena itu lah, ayah mereka meninggalkan ibu mereka Salmah, dan menikah lagi dengan wanita bule dan hidup bahagia di luar negeri sana.
*****
"LEPASKAN AKU?!! AKU NGGAK GILA!!"
Rima berteriak keras kepada para perawat itu agar melepaskan dirinya. Ia yang mencoba melawan dan melakukan kekerasan kepada perawat akhirnya di beri suntik penenang.
Sulit bagi gadis itu untuk mencoba mengelabui para petugas medis dengan drama yang ia mainkan. Apa lagi bukti-bukti kekerasan yang ia lakukan terlihat jelas hingga gadis itu mau tidak mau mendapat penanganan ekstra.
Kedua tangan Rima terikat di sisi ranjang tempat tidur kanan dan kiri ketika ia sadar. Ia pun menangis sejadi-jadinya menyadari kini ia akan berada di Rumah Sakit dalam waktu yang lama tanpa bisa bertemu Dika. Hati gadis itu sakit, karena tidak ada yang mengerti akan rasa cinta yang begitu dalam ia miliki untuk Dika.
"Selamat siang Rima..."
Suara alto seorang laki-laki mengalihkan perhatian Rima yang sedang menangis.
"Saya Budi, psikiater yang akan membantumu"
Ujar Budi tersenyum ramah pada Rima yang merupakan pasiennya. Perkelanan itu pun di mulai, Rima cukup tenang menanggapi pertanyaan-pertanyaan Budi yang mencoba mencari titik ke obsesian Rima pada orang yang dicintainya.
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
__ADS_1