
# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘
*****
Tiba di Swiss, hawa dingin mulai terasa menembus matel yang Humaira kenakan. Bibirnya mulai sedikit membiru dan mengeluarkan hawa panas sehingga asap keluar setiap ia menghembuskan napasnya.
"Dingin?"
"Iya mas. Ini permata kali untukku, tapi aku senang"
"Baguslah. Berikan tanganmu?"
Pinta Tomy mengulurkan tangannya.
Humaira lalu menggenggam tangan Tomy. Kemudian lelaki itu memasukan tangan mereka kedalam saku mantelnya yang cukup besar.
"Hangat?"
"Iya mas, ini menyenangkan"
Jawab Humaira tersenyum senang.
Deg, tiba-tiba jantung Humaira berdebar tak menentukan. Tangan yang tadi hangat seketika dingin sesaat. Tomy yang sedang menggenggam tangannya pun langsung melihat ke arah isterinya. Wajah Humaira jelas sekali terlihat gelisah.
"Kenapa?"
Tanya Tomy yang menjadi khawatir terhadap isterinya.
"Entah lah mas, dari kemarin perasaanku nggak enak"
"Ya sudah kita telpon dulu kerumah"
Ujar Tomy mencoba menenangkan.
Lelaki itu lalu mengeluarkan smartphonenya dan melakukan panggilan video disana.
"Assalamualaikum sayang..."
Sapa Nia di seberang sana.
"Waalaikumsalam sayang, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik sayang, seperti biasa"
"Anak-anak?"
"Alhamdulilah Danu juga baik-baik saja sayang. Kami semua di sini baik-baik aja"
"Sukurlah...,nah Humaira bicaralah..."
Humaira pun mengambil smartphone yang di sodorkan Tomy padanya.
"Assalamualaikum kak?"
"Waalaikumsalam Hum, kamu sehat?"
"Alhamdulillah kak, aku sehat. Kakak?"
"Seperti yang kamu lihat Hum, aku seperti biasanya"
"Sukurlah..."
"Apa kamu ingin bicara sama anakmu? Dia ada di taman belakang"
"Boleh kak, aku sangat rindu padanya"
"Sebentar ya..."
Nia lalu meminta pelayannya untuk membawanya kepada Danu dan Umi yang sedang bermain di taman belakang.
__ADS_1
Wanita itu segera memberikan hapenya pada Umi dan Danu.
"Assalamualaikum Hum?"
"Waalaikumsalam kak, gimana kabar kakak?"
"Alhamdulillah kami semua baik-baik aja Hum, kau tenang saja disana dan jangan cemaskan Kami. Lihat Danu..., Danu ini ibu mu"
"Ibu...ibu...ini....?!"
Danu menunjukkan mainan mobil yang sedang ia pegang.
"Wah, anak ibu lagi main mobil-mobilan ya?"
"Ibu... mobil, Danu cayang mobil..."
"Hehehe udah sayang mobil sekarang, nggak sayang ibu lagi ya?"
"Cayang ibu.. cayang mobil...."
pembicaraan dalam telepon itu pun membuat Humaira tersenyum dan tertawa melihat tingkah anaknya. Wanita itu menghabiskan waktu hampir satu jam berbicara pada keluarganya di seberang sana. Notif baterai lemah pun tak di hiraukan lagi saking ia begitu senang mengobrol dengan orang-orang yang ia rindukan.
"Yah...mas, baterainya habis?!"
Ujar Humaira merasa tidak enak karenanya ponsel suaminya itu mati kehabisan baterai.
"Sudah lah, tidak apa. Yang penting kau sudah tenang sekarang. Ada powerbank untuk mengecas sementara"
Ujar Tomy agar senyum di wajah isterinya tidak pudar.
"Oh hape ku aja mas"
Humaira pun mencari-cari hapenya di dalam tas yang sedang ia bawa. Ia terus mencari dan akhirnya menjadi gelisah karena tidak dapat menemukan benda pipih itu. Ia pun mencoba berpikir dan mengingat dimana kira-kira hapenya setelah ia mencari namun tidak juga menemukan.
"Astaga, sepertinya aku meninggalkan hapeku di toilet bandara di Maldives mas. Duh gimana ini?!"
Kembali lagi wajah Humaira terlihat panik.
"Sudahlah... aku akan membelikanmu yang baru setelah kita kembali nanti. Sementara kau bisa gunakan hape ku dulu"
"Iya mas"
Mungkin karena hape perasaannya jadi gelisah begitu (Batin Tomy)
"Ayo, mobil jemputan kita sudah menunggu"
Ujar Tomy kembali menggenggam tangan Humaira.
Humaira mengangguk, namun kembali lagi tiba-tiba perasaan gelisah itu muncul sesaat.
Ada apa ya? Padahal aku baru saja teleponan dan semua baik-baik aja. Ya Allah... semoga semuanya baik-baik aja, aamiin...
Mereka pun memasuki mobil yang datang menjemput. Humaira dan Tomy segera menuju hotel tempat mereka menghabiskan bulan madu berikutnya.
*****
Di perjalanan, Humaira tak henti-hentinya merasa takjub dan terpukau melihat indahnya negara Swiss yang dengan beberapa tempat dengan bukit salju yang baru pertama kali ia lihat secara nyata.
Walau hatinya tiada henti merasa cemas, namun ia berusaha menepis kalau semua baik-baik saja.
"Ckiiitt....,BRAAKK!!"
Sebuah mobil berwarna hitam menabrak mereka dari arah belakang. Humaira dan Tomy terdorong kedepan hingga kepala mereka terbentur kursi depan.
Nyeri yang di rasakan Humaira pada kepalanya, membuat ia tiba-tiba merasakan pusing. Ia pun menjadi pucat karena kejadian itu. Jantungnya berdebar dengan cepat hingga ia pun merasa panik sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Kau terluka sayang?!"
Tanya Tomy cemas langsung memeriksa kepala Humaira yang di peganganya sejak tadi.
__ADS_1
"Kepalaku jadi pusing karena terbentur mas, tapi aku tidak apa-apa"
Ujarnya agar suaminya itu tidak terlalu khawatir.
Supir yang sejak tadi keluar menemui pengemudi yang menabrak mereka, sedang berbicara serius dengan orang itu.
Tomy lalu menghampiri mereka. Dan membicarakan masalah insiden yang baru saja mereka alami.
Wajah Tomy yang tampak serius dan kesal di perhatikan Humaira dari dalam mobilnya. Wanita itu memegang dadanya yang masih berdebar sambil melihat ke arah suaminya.
Apakah karena ini aku dari kemarin merasa gelisah tanpa arah?
"astagfirullah..., astagfirullah..., astagfirullah"
Humaira beristighfar untuk menenangkan hatinya. Tidak lama Tomy dan supir pun masuk kembali karena perkara sudah terselesaikan dengan berdamai.
"Ia sudah berusaha mengerem. Namun karena jalan licin oleh salju, mobilnya tidak dapat berhenti dengan cepat. Dan terjadilah insiden ini. Tapi benar kau tak apa-apa sayang?"
"Iya aku nggak apa-apa mas. Sukurlah semua bisa diselesaikan secara damai"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Hotel.
Sesampainya di Hotel, Tomy segera mengaktifkan smartphonenya. Humaira segera mandi dengan merendam dirinya dengan air hangat.
Merasa Humaira perlu istirahat karena insiden tadi, Tomy pun memesan beberapa makanan ke kamarnya.
"Ting... Ting... Ting...!"
Notif hape berbunyi tiada henti ketika smartphonenya di aktifkan. Tomy membaca pesan yang terus masuk itu, kemudian ia segera menghubungi seseorang.
Humaira tampak sudah segar setelah berendam selama setengah jam. Perutnya yang bernyanyi saat mencium aroma masakan pun segera menuju meja saat melihat makanan tersusun rapi disana.
"Wah, kelihatan enak?!"
Humaira merasa tergiur melihat makanan itu.
"Makanlah..."
Ujar Tomy menyarankan.
"Mas nggak makan?"
"Kau duluan saja mas mandi dulu"
Ujar Tomy sambil manatap sendu wajah isterinya.
Dengan masih menggunakan handuk, Humaira pun makan dengan lahapnya.
Wajah kusut Tomy seperti mendapat penghiburan melihat Humaira makan dengan lahap. Ia pun mendekati isterinya dan mencium pucuk kepala wanita itu cukup lama.
"Mas buruan mandi gih, aku nungguin mas makan juga disini"
Ujar Humaira meminta pada suaminya.
Tomy pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dan segera menutup rapat pintu itu. Shower di hidupkan, hingga mengalirkan air hangat yang membasahi sekujur tubuhnya dari kepala sampai ke kaki. Bahunya bergetar menahan sesuatu yang sejak tadi ia tahan. Entah air mata atau air dari shower itu yang ia rasakan begitu hangat membasahi pipinya.
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.
Terima kasih 🙏