Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Tanda-Tanda


__ADS_3

Setiap hari di jam yang sama gadis itu akan duduk di meja makan kantin dimana Juan duduk disana. Hari ke hari, waktu ke waktu, gadis itu selalu bersama Juan. Ia tidak pernah marah ketika Juan terang-terangan mengangkat telpon dari Humaira di depannya atau mengucapkan kata sayang pada isterinya.


Gadis itu selalu membantu Juan meringankan pekerjaannya apalagi mereka di kolaborasikan menjadi suatu hal tim bersama. Perlahan Juan mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu. Ia pun mulai santai, dan sering jalan bersama.


Setiap harinya seperti biasa Humaira melakukan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Memberesi rumah dan menyiapkan makanan untuk suami tercintanya.


Rumah besar yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, kini ditempati Humaira bersama sang suami Juan. Humaira sengaja tidak ingin di bantu oleh asisten rumah tangga dalam mengurus rumahnya. Ia yang tidak memiliki kesibukan apapun hanya mengisi kekosongan keseharian dengan berberes rumah.


Yah, di usia pernikahannya yang menjelang 2 tahun ia belum juga di karuniai seorang anak. Hal itu yang membuatnya sedih. Rasa sepi itu terkadang menghampiri apalagi Juan yang akhir-akhir ini sering pulang larut malam karena sibuk.


Humaira menunggu suaminya pulang di malam itu. Makan malam yang sudah dingin ia panaskan kembali karena suaminya tidak suka makanan yang sudah dingin. Humaira takut Juan tiba-tiba pulang dan tentunya kecewa padanya dan akhirnya suaminya itu tidak mau makan masakanya. Tetapi lagi-lagi makanan itu menjadi dingin karena suaminya belum pulang juga padahal sudah jam 2 malam.


Humaira yang menunggu suaminya, akhirnya tertidur. Secarik kertas ia temukan di atas nakas dipagi hari ketika ia membuka matanya.


Aku akan dinas keluar kota selama beberapa hari. Jangan menungguku, tidur lah lebih dulu.


Humaira menghela napas. Sendiri lagi dan ia akan merasa sepi dirumah besar itu.


"Ting tong!"


Suara bel pintu memaksa Humaira beranjak dari tempat tidur. Ia pun segera mencari tahu siapa tamu yang datang sepagi ini kerumahnya.


"Wah lihat ini jam segini baru bangun. Ck.. ck.. ck..."


"Oh ibu, maaf saya lama membukakan pintu. Silahkan masuk bu..."


"Bawa koper-koper itu!"


"Baik bu.."


"Sama koper ku juga ya"


Ujar sang adik ipar berlalu sambil mengunyah permen karet dimulutnya.


Humaira hanya menghela napas.


Jika boleh memilih ditinggal sendiri atau kedatangan tamu dua wanita itu, maka Humaira akan lebih memilih sendiri.


Ibu mertuanya yang sangat cerewet dan selalu menghina dirinya mandul membuat Humaira merasa sedih dan terluka. Apalagi sang adik yang selalu bertingkah bagai tuan putri yang selalu minta dilayani, membuat Humaira sudah seperti pembantu di rumahnya sendiri.


"PRAAANG!!"


Sebuah piring berisi makanan di lempar begitu saja oleh sang ibu dan nyaris mengenai Humaira.


"Cih, dasar wanita mandul!! Masak aja nggak becus! Pantes saja anakku menjadi kurus!!"


Humaira perlahan memunguti pecahan piring tersebut dan makanan yang berserakan.


"Aaww!!"


"Oohh, sengaja!!"

__ADS_1


Dengan santainya adik iparnya itu berkata setelah dengan sengaja menyepak tangan Humaira hingga mengenai pecahan piring itu.


Darah pun keluar, Humaira hanya bisa meringis kesakitan.


Hari ke hari penyiksaan-penyiksaan pun terus berlanjut dan berhenti ketika Juan akan pulang sore itu. Ibu mertua dan adiknya bergegas pulang siang itu setelah Juan menanyakan oleh-oleh apa yang di inginkan sang ibu.


Begitu lah mereka melakukan hal itu di belakang Juan sang suami. Namun ketika Humaira bercerita pada suaminya, lelaki itu tidak percaya bahkan malah menuduhnya yang tidak-tidak. Juan tidak akan pernah percaya karena ketika bersama sang ibu, perlakuan manis bangai ratu diterima oleh Humaira dari ibu dan adik iparnya.


"Sudah pulang yaang?"


Sambut Humaira yang merasa senang ketika suaminya ada di depan pintu rumahnya.


"Kenapa dengan tubuh memarmu?"


"Oh aku tegelicir saat mengepel lantai. Nggak apa-apa kok yaang"


Bohong, Humaira yang tidak ingin mengatakan memar-memar itu adalah hasil penyiksaan yang sudah pasti tidak akan dipercayai suaminya. Karena hal itu hanya akan menimbulkan pertengkaran yang tiada habisnya.


Humaira pun membawakan barang-barang milik suaminya ke dalam. Beberapa helai pakaian kotor ia masukan ke dalam mesin cuci.


"Juan ganti parfum ya? Wangi pakaiannya jadi lebih feminim"


Gumam Humaira sambil menuang sabun ke dalam mesin cuci.


Setelah itu ia merapikan tas kerja milik Juan. Di dalam tas itu ada paper bag berisi lipstik yang berwarna merah muda. Humaira begitu senang karena lipstik itu sudah pasti oleh-oleh untuknya.


"Yaang, ini buatku kan?"


Tanya Humaira dengan wajah senang sambil menujukkan lipstik di tangannya.


"Bukan warna yang terlalu aku suka sih, tapi makasih ya yaang..."


Juan hanya tersenyum sedikit membalas ucapan Humaira sambil memegangi bagian belakang kepalanya. Lelaki itu tampak sedikit gelisah namun Humaira tidak memperhatikannya.


Lalu ketika pagi hari disaat Juan sedang mandi, smartphone milik lelaki itu beberapa kali bergetar di atas nakas. Ada beberapa pesan yang masuk disana ketika Humaira sedang menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.


Humaira mencoba melihat pesan yang masuk karena dari dulu ia telah terbiasa membacakan pesan untuk sang suami ketika sedang tidak dapat memegang ponselnya. Namun, smartphone itu terkunci dengan pola yang tidak di ketahui Humaira.


"Ganti pola ya?"


Humaira lalu meletakkan hape itu kembali. Ia pikir mungkin saja pola itu di ganti ketika ada teman kerjanya yang sudah tahu pola layar kuncinya. Sama sepertinya waktu kerja dulu. Ada saja teman yang usil hingga ia terpaksa mengubah pola layar kuncinya beberapa kali.


Positif thinking, itu lah yang selalu Humaira terapkan. Entah dia begitu polos atau bodoh hingga keadaan semakin susah untuk dikembalikan seperti semula.


Suatu malam, Juan pulang dalam keadaan mabuk. Humaira begitu terkejut karena ini kali pertamanya mengetahui suaminya itu minum alkohol. Dalam kondisi mabuk pergulatan panas pun terjadi malam itu. Humaira tidak tahu ia harus merasa sedih atau senang karena Juan pun sudah lama tidak menyentuhnya.


Lalu beberapa minggu kemudian sang suami memanjakan Humaira dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Bahkan dua hari itu sang suami tidak masuk kerja untuk menyenangkan hati sang isterinya.


"Sayang, kantor kita sekarang semakin nggak fair. Banyak gaji yang di tunda entah kenapa. Aku jadi nggak betah lagi disana.."


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Humaira sambil mencicipi masakkannya.


"Nggak tahu yaang, rasanya aku pengen buka usaha sendiri aja atau nanam saham"


Humaira tampak berpikir.


"Yaang, uang itu boleh nggak buat investasi?"


Humaira menatap suaminya. Uang yang di maksud tentulah uang asuransi jiwa milik kedua orang tuanya yang berjumlah 2 Miliyar. Uang itu memang sama sekali belum pernah di sentuh olehnya.


Melihat mata suami yang terlihat sedih dan tampak sangat berharap, akhirnya Humaira mengangguk mengiyakan. Ya, rasa cinta yang dimiliki Humaira pada sang suami begitu besar. Hingga rasa cinta itu akhirnya melukai dirinya begitu dalam.


"Tanda tangan disini yaang, terus buku tabungannya kumpulin di map ini ya"


Pinta Juan menyodorkan beberapa lebar kertas pagi itu setelah Humaira memberikan lampu hijau untuknya berinvestasi.


Humaira mengambilnya dan hendak membaca isi lembaran kertas itu.


"Nggak perlu dibaca lagi yaang, aku udah kesiangan dan bisa terlambat masuk kantor"


Ucap Juan yang memang tampak tergesa-gesa pagi itu.


Tanpa membacanya, Humaira pun membubuhkan tanda tangannya disana.


"Tok.. tok.. tok"


Mereka memandang ke arah pintu yang diketuk dari luar.


"Siapa ya...?"


Tanya Humaira pada suami yang sibuk memasukan lembaran kertas yang di tanda tangani Humaira kedalam tas kerjanya.


"Pagi, pak Juan ada?"


Tanya seorang gadis cantik di ambang pintu rumahnya.


"Siapa ya?"


Tanya Humaira bingung.


"Oh.. Yunita, masuklah. Dia.. rekan kerjaku"


Jawab Juan menghilangkan pertanyaan di kepala Humaira.


"Oh.. silahkan masuk"


Yunita itu masuk tanpa sungkan.


Aroma wangi dari tubuh wanita itu membuat Humaira berpikir sejenak. Ia merasa pernah mencium bau parfum itu namun lupa dimana.


Notes : Flash Back nya agak panjang ya permisa, mohon bersabar dan happy reading 🤗

__ADS_1


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊


__ADS_2