
Rencana pertemuan mereka berempat berjalan lancar, Fajri mengendarai mobil sendiri menuju Villa dengan membawa Marisya adik kandungnya. Sedangkan Rahma dijemput oleh Zia menuju Villa dengan mobil barunya.
Sesampai di Villa mereka berempat istirahat dikamar masing-masing yang disediakan oleh penjaga Villa yang dipekerjakan keluarga Zia, Rahma dan Marisya meminta tidur sekamar karena mereka tidak berani tidur sendirian.
"Mar gw tidur sama lu ya.. !", pinta Rahma kepada Marisya.
" gw tidur sama abang gw, lu tidur sama Kak Zia sana kalau lu takut sendirian, enak lagi kamar Kak Zia luas", ledek Marisya kepada Rahma yang disambut tawa oleh mereka berempat.
"Nah, tuh mubazir kamar Kak Zia yang luas kalau tidur sendirian", sahut Fajri yang asik meledek Rahma.
" Gila, entar anak orang yang ada bisa bertelur hahaha", sahut Zia menambahkan membuat mereka tertawa.
"Mending gw tidur sendiri daripada tidur sama Ayam jago daripada nanti gw bertelur hahaha", balas Rahma tak mau kalah dengan gurauan mereka.
Akhirnya hari sudah malam, mereka sedang asyik membakar jagung dan daging steak dengan dinginnya suasana pengunungan. Giliran Fajri dan Zia kali ini yang menyiapkan dan memanggangnya. Setelah semua matang dan masih hangat, Zia duduk disofa disamping Rahma dan menyuapi Rahma, dan disambut dengan mulut terbuka oleh Rahma. Fajri dan Marisya saling melirik melihat tingkah Zia dan Rahma.
" udahlah lu berdua langsung buru-buru merried aja sih daripada bikin gw bingung sama hubungan lu berdua", ucap Marisya sambil mengunyah jagung bakar dan membuat ekspresi wajah Rahma yang bingung.
__ADS_1
"Emang gw sama Kak Zia harus merried ya biar lu ga bingung Mar.. ?", jawab Rahma yang sebetulnya masih belum paham akan perasaan Zia yang mencintainya lebih dari sekedar hubungan sahabat apalagi kakak adik.
" Kamu harus merried sama aku sayang, supaya kita semua disini sama-sama tenang dan ga bingung", sahut Zia yang sambil melirik genit ke arah Rahma.
Malam ini menjadi malam yang tak ingin dilewati Zia, Zia merasa bahagia bila selalu ada didekat Rahma dan ini adalah moment yang diharapkan dan diimpikan Zia. Fajri dan Marisya sedang asyik bernyanyi dengan gitar yang dipetik Fajri, dan mereka berdua terkadang melirik kelakuan Zia dengan Rahma karena kelakuan mereka seperti orang yang sedang pacaran. Zia yang sejak tadi merangkul bahu Rahma, terkadang pun mencium puncak kepala Rahma yang tertutup dengan hijab, mereka berdua ngobrol dengan mesranya, padahal mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan dan keluarga. Karena mereka pun sudah lama tidak ngobrol panjang lebar seperti ini. Rahma pun selama ini merasakan hal yang dilakukan Zia murni karena Zia menyayanginya seperti adiknya sendiri. Malam pun semakin larut dan mereka pergi tidur dikamar masing-masing.
Pagi harinya ketika Rahma terbangun, Rahma sudah tidak mendapati Fajri dan Marisya di Villa, yang Rahma lihat hanya Zia diteras belakang, yang ditemani teh manis hangat serta gorengan tahu isi yang dimasak dan disiapkan penjaga Villa dan Rahma melihat tangannya Zia sibuk dengan gadgetnya dan disuguhi pemandangan pengunungan yang indah.
"Pagi kak,, kemana Kak Fajri dan Marisya Kak?", sapa Rahma yang langsung duduk disamping Zia disofa.
"Pagi cantikku, mereka sedang jalan-jalan", jawab Zia dengan tersenyum dan langsung meletakan gadgetnya diatas meja dan matanya pun menatap Rahma dengan serius.
"lho kan kamu yang masih lelap saat Marisya membangunkan kamu", jawab Zia dengan lembut namun sedikit berbohong padahal Marisya tidak sama sekali membangunkan Rahma, karena ini adalah rencana mereka bertiga agar Zia lebih leluasa ingin membicarakan kelangsungan hubungan mereka berdua, dan Zia ingin membicarakan dengan Rahma bahwa Zia berniat siap melamar Rahma.
" Dek, aku ingin membicarakan penting dengan kamu dan serius", ucap Zia sebagai pembuka obrolan yang serius dan sambil menarik nafas dalam-dalam.
"iya, ngomong aja Kak, aku disini siap dengar", jawab Rahma santai tanpa berpikir macam-macam.
__ADS_1
" Rencana minggu depan kakak sudah selesai KOAS, niat kakak minggu depan ingin segera bertemu dengan keluarga kamu untuk melamar kamu sebagai istri kakak satu-satunya didunia dan akhirat Kakak, terus gimana menurut kamu?", penjelasan Zia panjang lebar yang membuat Rahma kaget dengan ekspresi wajah dan matanya yang tidak menyangka.
"Kak jangan bercanda kaya begini ah, buat aku panas dingin aja", jawab Rahma masih tidak percaya akan pernyataan Zia terhadapnya.
" Aku serius Dek, selama ini kakak betul-betul jatuh cinta sama kamu dari semenjak kita SMA, kakak menunggu kamu sampai hari ini dan sampai kapanpun, dan sampai kamu benar,-benar siap menjadi istri kakak, kakak pun akan selalu menunggu kamu", penjelasan Zia serius dan matanya yang tak lepas menatap kedua mata Rahma.
"Kak.. aku ga suka kakak main-main seperti ini, jangan bercanda yang kelewatan", gerutu Rahma yang masih belum percaya akan pernyataan cinta Zia kepadanya.
" Dek, aku bersumpah dan tidak main-main, aku sungguh-sunggu mencintai dan menyayangimu selayaknya laki-laki dengan perempuan, bukan hubungan sekedar kakak adik atau sahabat", balas Zia dengan pelan dan serius serta berusaha meyakinkan perasaannya terhadap Rahma.
"Bunda dan Ayah juga selalu bertanya kepada Kakak, kapan kakak membawa mereka silaturahmi kerumahmu dan sekalian melamar kamu", sambung Zia dengan ekspresi wajahnya yang sedih karena selalu dipertanyakan soal hubungannya dengan Rahma dan Zia pun belum bisa memberi jawaban yang membuat kedua orangtuanya puas.
" Maafin aku kak, aku selama ini menganggap kasih sayang kakak terhadap aku murni karena kakak menganggap aku seperti adik kakak sendiri", ucap jawaban Rahma yang masih tak habis pikir dan tak percaya kalau Zia mencintainya lebih dari sekedar anggapan kakak adik.
"Memang salah kakak Dek, yang tidak pernah mengungkapkan perasaan kakak yang sebenarnya selama ini, dan kakak pikir kamu pun bisa merasakan apa yang kakak rasakan padamu, dan kakak pun sebetulnya tidak ingin jika karena ini hubungan persahabatan kita berempat menjadi renggang karena jika kamu menolak kakak", penjelasan Zia panjang lebar, namun Rahma hanya terdiam dan masih belum percaya.
"Kakak tidak memaksa kamu, kakak minta kamu pertimbangkan niat baik kakak ini, jikapun kamu belum bisa mencintai kakak, tolong belajarlah mencintai kakak seutuhnya selagi dihatimu tidak ada laki-laki lain", sambung Zia dengan di akhiri mengecup puncak kepala Rahma yang dibaluti hijab dan Rahma pun tidak bisa menjawab apa-apa.
__ADS_1
Tidak lama setelah pembicaraan serius Rahma dengan Zia selesai, Marisya dan Fajri pun datang menyapa Zia dengan Rahma, kedatangan mereka seperti sudah dibuat skenario, tapi Rahma pun tidak menyadarinya semua ini ulah mereka yang mempertemukan dan memberi kesempatan agar Zia dan Rahma bisa bersama.
JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH