
Hari Minggu yang cerah menerangkan kamar Rahma, dan disertai angin pagi yang sejuk meniupkan gorden jendela kamar Rahma. Rahma tengah bersiap-siap make up untuk menyambut tamu dari keluarga calon suaminya yaitu keluarga Zia. Diluar keluarga Rahma pun juga tengah bersiap-siap dan sibuk menyiapkan santapan untuk para tamu.
Tepat pukul 09:00 WIB, keluarga Zia datang bersama rombongan yang kira kira berjumlah 35 orang termasuk Fajri dan Marisya ikut serta karena diundang oleh Zia untuk hadir diacara pertunangan Zia dan Rahma yang pastinya sudah ditunggu para sahabatnya ini. Kedatangan pihak keluarga Zia telah disambut baik oleh pihak dari keluarga Rahma.
Rahma merasa jantungnya berdebar debar ketika keluarga Zia terdengar sudah memasuki ruang tamu. Rahma melihat tampilan wajahnya dicermin yang sudah dihiasi make up yang natural. Rahma sendiri tidak menyangka akan senekat ini, Ia berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya.
Rahma melihat cincin saat tunangan dengan Almarhum Yoga masih melingkar dijari manis sebelah kanannya, agar kedua belah pihak keluarga tidak tersinggung dengan sebab Rahma masih memakai cincin tunangannya bersama Yoga, Rahma inisiatif memindahkan cincin itu ke jari manis sebelah kiri. Karena nanti saat tukar cincin dengan Zia akan dipasangkan dijari manis sebelah kanan.
Mungkin hari ini Zia sangat bahagia, tapi tidak dengan Rahma yang semakin gelisah. Apalagi negosiasi tanggal pernikahan ditetapkan 1 bulan lagi. Cincin pengikat pun telah dipasangkan ke jari manis mereka berdua. Keputusan kedua belah pihak keluarga sudah mutlak dan Rahma harus menjaga itu demi nama baik keluarganya.
Setelah acara selesai dan para tamu sudah pamit, Rahma kembali masuk ke kamarnya, mengunci pintu kamarnya dan menutup gorden jendelanya. Ia menghapus riasan dan make up yg menempel diwajahnya. Dan menggantikan kebaya yang ia kenakan dengan pakaian rumah. Dan langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.
"Apa yang harus aku lakukan ?, bagaimana aku mengarungi rumah tangga bersama Kak Zia tanpa ada rasa cinta ? Ya Allah tumbuhkanlah rasa cintaku padanya.. " gumamnya dalam hati sambil melihat cincin tunangannya sudah melingkar dijari manisnya.
Rahma bergelut dengan pikirannya, karena tidak menyangka harus hidup dengan orang yang tidak sama sekali ia cintai, bahkan sudah dianggap seperti kakak kandungnya. Sampai Rahma pun memikirkan bagaimana jika nanti Ia harus melayani Zia disaat Zia meminta haknya sebagai suami, tak terasa Rahma meneteskan air mata memikirkan hal itu sebab Ia tidak bisa melakukannya tanpa ada rasa cinta.
*chat Zia(Z) dengan Rahma(R)*
__ADS_1
Z : Terimakasih sayangku, kamu sudah menerimaku. But the way kapan kita mau ngurus surat ke KUA ?
R : Lusa aja ya Kak, sekalian nanti kita ke urus Event Organizer..
Z : Ok, i love you
Zia didalam kamarnya menatap kearah jendela yang telah terbuka, sehingga angin merasuk kecelah rambut dikepalanya dan sambil termenung memikirkan Rahma masih belum menjawab ucapan cinta dari Zia. Zia masih merasa mengganjal dibenaknya, apa yang membuat Rahma menerimanya sebagai calon suaminya, sebab Zia yakin Rahma belum mencintainya. Betapa besar cintanya untuk Rahma sudah sangat begitu besar. Apa yang membuatnya Rahma belum bisa mencintainya?.
"Secepatnya harus aku tanyakan hal ini, kenapa dia menerima lamaranku dan kenapa dia belum bisa mencintaiku", gumam Zia dalam hati dengan kepalanya menunduk melihat cincin yang sudah melingkar ditangannya.
Zia keluar kamar dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang melingkar mewah yang mana kamar Zia terletak dilantai dua rumah besar itu. Ayah, Bunda beserta kedua kakak kakak Zia sedang duduk santai berkumpul diruang keluarga mereka.
"Kamu mau pakai gedung hall A yang di kantor Ayah untuk acara pernikahan kamu Zi.. ?", tanya Ayah dengan meletakan koran dimeja.
" Pasti Yah, aku pakai untuk acara akad dan resepsi pernikahan aku, nanti tinggal aku dengan Rahma urus pestanya dengan Event Organizer aja, jadi kami berdua tinggal terima beres", ucap Zia pada keluarganya.
"Ya sudah kamu segera hubungi Pak Yudi agar membooking satu hari gedung itu", ucap Ayah semangati anaknya bungsunya yang akan segera menikah.
__ADS_1
" Kira kira kalau dari keluarga dan teman teman Ayah berapa undangan Bun?, tanya Zia kepada Bundanya karena Bunda sudah pengalaman menikahkan kakak kakak kandung.
" Kalau waktu pernikahan kakak kakak kamu, dari pihak kita ada 600 undangan Zi, itu belum termasuk teman-teman mereka lho Zi..", ucap Bunda mengangkat dagu menunjuk kearah kedua kakak Zia.
Zia anak bungsu dari tiga saudara, Zia adalah anak laki laki satu satunya. Mereka bertiga adalah salah satu CEO anak perusahaan yang Ayah Zia bangun.
Zia masuk kekamarnya, merebahkan tubuhnya diatas ranjang, pikirannya fokus dengan Rahma. Zia mengambil telpon genggamnya. Dan menekan nomor yang tersimpan dengan nama kontak "My Lovely".
" Assalamualaikum Dek, lagi apa?", sapa Zia dengan lembut dari via telpon sedang menghubungi Rahma.
"Lagi beres beres rumah kak, kenapa ?", tanya Rahma sambil menyapu ruangan setelah acara tunangannya selesai dan para tamu sudah pulang.
" Kakak, mau ketemu kamu sebentar, kita ketemuan ya.. !", pinta Zia mengarapkan bisa bertemu Rahma siang ini.
"Ya sudah kakak kerumah aku lagi dong ?", jawab Rahma mempersilahkan Zia untuk menemuinya.
" Ya ga apa apa, orang mau ketemu kamu ", saut Zia.
__ADS_1
" Ya sudah aku tunggu, aku mau mandi dulu, Wassalamualaikum. ", ucap Rahma dan diseberang suara Zia pun menjawab salam Rahma dan menutup telepon mereka.
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMA KASIH.