
Malam yang sunyi dengan keheningannya, hingga langkah kaki Wiliam masuk ke dalam kamar Zia dan Rahma terdengar hingga membangunkan Rahma dari tidur lelapnya. Wiliam masuk kedalam kamar itu dengan santai dan senyum yang menyeringai.
Kedatangan Wiliam disambut dengan senyum bahagia yang Rahma pancarkan. Mereka berdua berpelukan melepaskan rasa kerinduan yang mendalam, tanpa memperdulikan Zia yang sudah tertidur lelap.
Wiliam menuntun dan mengajak Rahma keluar dari kamar itu, dan menuju ke kamar lainnya agar mereka berdua bebas melakukan apa saja. Dengan bahagia Rahma mengikutin ajakan Wiliam.
Di dalam kamar itu, Wiliam tanpa basa basi mencumbu wanita yang telah bersuamikan temannya sendiri, wanita yang telah lama ia cintai tanpa memperdulikan statusnya sekarang sebagai istri orang.
Rahma menikmati tiap inci ciuman lembut yang Wiliam berikan, Rahma pun melingkarkan tangannya dileher Wiliam. Rahma memandang wajah Wiliam yang sangat tampan dari blasteran Eropa dan Cina. Wiliam tidak meninggalkan ruang secelah pun tubuh Rahma dengan ciumannya, sehingga Rahma terbuai dan tidak terasa bahwa Wiliam sudah hampir menanggalkan helai benang di tubuh Rahma dan dirinya.
"Astaghfirllah", kejut Rahma terbangun dari tidurnya dengan sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringatnya yang padahal suhu AC kamar itu sudah sangat dingin dengan perasaan takut dari mimpi buruknya seraya mencari keberadaan suaminya yang tidak ada disampingnya.
Namun ia merasa lega seketika pandangan matanya tertuju akan sosok tubuh gagah suaminya yang ternyata sedang melaksanakan sholat tahajud.
" Allahu Akbar", suara Zia sedang melaksanakan sholat.
Tiba tiba Rahma merasa mual ketika kembali memejamkan matanya mengingat mimpi buruknya yang baru saja ia alami. Ia menghempaskan selimutnya dan berlari menuju dalam toilet, tanpa menutup pintu toilet.
Hueeek hueeek
__ADS_1
"Assalamualaikum Warrahmatullah", menengok kearah kanan.
"Assalamualaikum Warrahmatullah", menengok kearah kiri.
Zia mengakhiri sholatnya, dan menghampiri istrinya berjalan menuju toilet. Dan mereka berdua berpapasan dipintu toilet. Rahma tertunduk dengan perasaan bersalah pada suaminya karena mimpi buruknya yang pasti akan membuat suaminya murka walau hanya sekedar mimpi.
" Kamu kenapa Yang ?", tanya Zia panik seraya meraih lengan Rahma.
Rahma tidak menghiraukan pertanyaan suaminya. Ia kembali ketempat tidurnya, merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi dadanya.
" Wahai istriku, kamu kenapa ? .. sakit... ?", Zia bertanya dengan suara lembut seraya menciumi wajah istrinya. Namun Rahma hanya menggelengkan kepalanya.
Saat Zia membuat teh manis di dapur untuk istrinya di dapur. Ia sempat terkejut karena melihat sekelibatan bayangan hitam yang menutupi seluruh ruangan.
" Astaghfirllah ", ucap Zia seraya menegaskan penglihatan kedua matanya.
Namun ia segera masuk ke kamar karena ia teringat istrinya sendirian dikamar dengan kondisi lemah seraya membawa teh manis hangat yang dibuatnya.
" Yang.. minum dulu, tapi aku mau bacakan tahmid dulu sebelum kamu minum ", ucap Zia dan Rahma sudah terduduk dari posisi sebelumnya.
__ADS_1
Saat Zia selesai baca doa lalu menyerahkan gelas yang dituntunnya agar Rahma meminumnya dengan perlahan.
Rahma meminum air dengan perlahan sampai habis, sebab ia merasa haus sekali karena sesudah mengeluarkan isi perutnya akibat mualnya yang tidak tertahankan.
" Yang, besok pagi saat kamu mau buang air kecil, kamu ambil sedikit urinenya ya di wadah ini ", ucap Zia seraya meletakan wadah kecil di meja samping sisi pinggir tempat tidur.
" Buat apa Kak ? ", tanya Rahma menatap wajah suaminya karena mendekat ingin mencium kening istrinya dengan posisi berdiri di samping tempat tidur.
" Buat test kehamilan aja, supaya lebih meyakinkan kenapa akhir akhir ini kamu sering muntah muntah ", ucap Zia seraya mengecup bibir istrinya, dan Rahma pun terdiam dan berpikir sejenak tentang mimpinya yang membuatnya mual dan Rahma tidak punya keberanian untuk menceritakan tentang mimpi buruknya.
" Aku ngaji dulu ya ", ucap Zia dengan lembut kembali duduk diatas sajadahnya yang sempat ia tinggalkan untuk memperhatikan istrinya sebentar. Ia melantunkan ayat suci Al Qur'an dengan suara merdunya yang menentramkan hati bagi yang mendengarnya, namun akan menjadi pengganggu untuk tamu yang tidak diundang yang berniat berbuat jahat dengan segala tipu daya setan.
Gubraaaaak !!!!
Suara dari luar kamar yang berhasil menganggetkan penghuni seisi rumah. Zia tidak peduli dengan suara itu, ia tetap melantunkan ayat ayat suci Al Quran dengan tenang dan ia pun tidak merasa takut sedikit pun. Rahma yang ikut mendengar kegaduhan itu langsung turun dari ranjangnya dan pindah merengkuh tubuhnya diatas sajadah dimana suaminya sedang duduk bersila melantunkan ayat suci Al Quran dan Rahma meletakan kepalanya dipangkuan paha suaminya. Sambil membaca dan melantunkan ayat suci Al Quran, Zia membelai kepala istrinya, sebab Zia paham bahwa istrinya sedang ketakutan dengan suara kegaduhan itu.
bersambung......
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.
__ADS_1