
Pagi hari dengan matahari yang enggan munculkan sinarnya. Begitu juga dengan hati Rahma yang enggan menyambut Bos Baru lagi. Apalagi seorang pria, dan telah berkeluarga, agak risih karena posisi Rahma menjadi sekretarisnya. Tiap langkah sang bos dalam kegiatan pekerjaan Rahma harus siap disampingnya.
Hingga saat tiba, Rahma, Alam dan Hesti saling memperkenalkan diri.
"Assalamualaikum. Perkenalkan, nama saya Andra Herdian. Saya masih muda, usia saya sudah masuk 35 tahun, hehehe. Kemudian, Istri saya baru satu, anak saya juga baru dua. Saya lulusan Universitas XXX, saya ambil hukum. Saya berharap sekali teman-teman diruangan ini kompak dan saling membantu. Apabila saya ada kekurangan atau kesalahan tolong tegur langsung dengan saya, agar saya bisa memperbaiki. Terimakasih untuk teman-teman diruangan ini", ucap Andra memperkenalkan diri..
"Perkenalkan saya Rahma, usia saya 23 tahun. Saya masih single, saya lulusan Universitas XXX Fakultas Sosial Politik, saya disini akan menjadi sekretaris Bapak Andra, jika saya banyak kurangnya mohon untuk diingatkan ya Pak..", ucap Rahma memperkenalkan diri.
" Mba Rahma masih mudah sekali, saya bersemangat sekali kalau Mba Rahma sendiri lulusan Fakultas Sosial Politik artinya sudah punya gambaran kedepannya dengan situasi politik di negeri ini, berikutnya lanjutkan tolong perkenalkan diri Anda", ucap Andra memuji Rahma dan mempersilahkan Alam memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya Alamsyah, usia saya 33 tahun. Istri juga baru satu, Anak sudah dua. Saya lulusan Universitas XXX Fakultas Teknik. Saya disini akan membantu sistem IT diruangan ini", Alam memperkenalkan diri.
" Mas Alam hebat jebolan Universitas XXX dan kelihatannya Mas Alam orang asli sini ya Mas.. ?", tanya Andra pada Alam, Rahma dan Hesti menahan tawanya karena lucu mendengar ketika Alam dipanggil Mas, karena seolah-olah tidak pantas kalau Alam dipanggil sebutan Mas.
"Iya Pak Andra saya tulen asli sini", jawab Alam dengan senyum senyum.
"Ok selanjutnya monggo", Ucap Andra mempersilahkan Hesti memperkenalkan diri.
" Saya Hesti, usia saya pas 30 tahun. Saya sudah berkeluarga, anak baru satu, saya lulusan Universitas XXX fakultas ekonomi. Disini saya akan membantu Pak Andra untuk kelola Anggaran dan Keuangan", ucap Hesti.
"Terimakasih Mba Hesti, mudah mudahan kita selalu amanah dengan uang rakyat.. Aamiin ", saut Andra setelah Hesti memperkenalkan diri.
Mereka memulai mengenalkan pekerjaan mereka dengan Andra. Andra lelaki yang tampan, berwibawa, gaya bicaranya yang bijaksana, pintar dan berwawasan luas. Sebab itu dalam sehari mereka menetaskan solusi untuk permasalahan yang sedang mereka hadapi soal keluhan para TKI yang sedang di negara orang.
Rahma menyerahkan tugasnya yang dulu saat Yoga masih menjadi pimpinannya, untuk menyiapkan minum serta snack untuk Andra pada Wawan sang office boy khusus ruangan mereka, karena untuk menghindari yang tidak diinginkan. Hampir setiap hari Wawan selalu membawa kiriman makanan dari lobby untuk Rahma, ada yang to the point membawa namanya, ada yang masih menyebutkan inisialnya.
Hari ini seperti biasa sebelum jam makan siang, Wawan membawa bingkisan coklat untuk Rahma dengan nama pengirimnya Tri H*tmo*j*.
__ADS_1
kreeek, suara pintu ruangan terbuka dan Wawan yang membuka pintu dan masuk.
" Mbak Rahma, kiriman lagi nih, bos H*tmo*j*", ucap Wawan dengan senyum khasnya.
"Apaan ini Wan?", tanya Rahma lembut kepada Wawan.
" Kayanya coklat Mba", saut Wawan.
"Bagi bagi rata deh Wan.. ", pinta Rahma untuk membagi bagi coklat itu dengan rata.
" Wokeh Mbak dengan senang hati", jawab Wawan.
"Tiap hari aja begini Neng, gemuk gw, coba kalau Mas Yoga udah disuruh balikin ini Neng.. hahaha", saut Alam dan mereka pun tertawa karena teringat sikap posesif Almarhum Yoga dulu yang danger, apabila ada kiriman untuk Rahma dari para pejabat.
" Pak kita pesta coklat nih Pak", tawar Wawan menyediakan coklat kepada Andra dimeja kerjanya.
" Kita disini gemuk Pak, ada aja yang ngirim buat Mba Rahma ", cerita Wawan diruangan.
" Wah bagus dong, tapi ini rangka tujuannya mereka seperti ini selalu kirim bingkisan?", heran Andra.
"Anu Pak, ga boleh liat primadona jomblo ada aja **** pada cari kesempatan dalam kesempitan", saut Alam sambil menyindir halus Andra agar tak seperti demikian.
" Oh gitu toh, Mba Rahma jadi rebutan disini,, ooh ya ya.. wajar toh Mba Rahma cantik sekali, kan yang untung kita kita juga ini Mas Alam", saut Andra dengan tertawa gurau.
"Pak panggil saya Rahma aja Pak", pinta Rahma sambil senyum senyum.
" ok Rahma", saut Andra.
__ADS_1
"Bang Alam juga Pak jangan dipanggil Mas" ucap Hesti sambil tertawa.
"Hahaha.. ok ok saya panggil nama semuanya aja ya disini", saut Andra.
Jam makan siang dengan catering kembali seperti biasanya yang menunya telah diatur Rahma untuk mereka berlima. Rahma, Andra, Alam, Hesti dan juga Wawan.
Mereka makan siang berlima disofa tamu. Rahma sedikit risih karena sejak mulai makan Andra sesekali meliriknya. Tapi Rahma cuek dengan Andra. Alam yang melihat sorot pandang Andra seperti itu sudah akan pasang kuda kuda untuk Rahma agar tidak terjebak dengan situasi seperti itu.
"Hati hati lu entar jadi bini kedua die loh", ucap Alam bisik bisik menakuti Rahma.
" Idih amit amit cabang bayi deh Bang, mending gw buru merit sama Kak Zia deh ah daripada nanti kacau", saut Rahma yang bulu kuduk berdiri mendengar Alam berbisik seperti itu.
"Ya udah gih buruan sono, entar acara nikahnya gw MC nya dah", ledek Alam.
Hari sudah mulai gelap, Rahma yang tengah dijemput untuk pulang oleh Zia seperti biasa.
"Posisi aku ga nyaman nih kak sama atasan baru", curhat Rahma dengan Zia didalam mobil.
" Lho kenapa?dia macam macam sama kamu?", ucap panik Zia sambil menyetir dengan matanya sesekali ke arah Rahma.
"Anu lho Kak, ga enak situasinya, beliau sudah berkeluarga, tapi matanya ga bisa diam ke aku", tambah curhatan Rahma lagi dengan memperjelas pada Zia.
" Bahaya buat kamu dong Yang, nanti kalau tua bangka itu makin makin, istrinya tau suaminya naksir kamu, yang ada nanti dipikirnya kamu yang goda suaminya ", ucap Zia memberi pandangan agar Rahma hati hati.
Zia yang menyelesaikan tugasnya mengantar Rahma pulang, besok pun Zia harus mengantar Rahma lagi kekantornya. Seiring berjalannya waktu karena terbiasa bertemu, ada sedikit rasa dalam diri Rahma untuk Zia, seperti halnya Rahma tidak bisa kalau tidak cerita dengan Zia apa yang dialaminya dihari harinya. Zia pun perlahan menjadi candunya untuk berbagi rasa dan bertukar pikiran. "Love You", tulisan chat Zia untuk Rahma setiap malam walaupun Rahma belum pernah menjawabnya.
HAY READERS .. JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMA KASIH
__ADS_1