
Selesai makan malam, Zia dan Rahma kembali ke kamar. Zia memberitahu kepada para asisten dirumahnya jika akan ada tamu teman lamanya yang akan berkunjung, dan Zia meminta kepada mereka untuk mempersilahkan tamu itu untuk duduk diruang tengah agar obrolan dengan Zia lebih santai.
Wiliam datang tepat waktu, ia disambut oleh Mas Anto, dan dipersilahkan duduk diruang tengah. Zia dengan sengaja mengizinkan Wiliam duduk diruang tengah, sebab banyak foto prawedding Zia dengan Rahma dengan mesranya terpajang di dinding di ruang itu.
"Wil.. mau minum apa Wil.. ?", sapa Zia saat keluar dari kamar dan menghampiri Wiliam duduk, mereka pun berjabat tangan.
" gw tau dirumah lu ga sedia alkohol, jadi gw minta kopi pahit aja bro", ucap Wiliam dengan santai.
"Mba Ira.. tolong kopi pahit satu, kopi manis satu ya mba", pinta Zia sambil meletakan Hpnya diatas meja agar obrolan mereka lebih santai.
"Ga nyangka lu married sama Rahma, gw pikir lu married sama Sarah cewek yang lu bawa ke NY", ucap Wiliam dengan sengaja mengeraskan suaranya, mungkin Rahma yang sedang di kamar bisa mendengarnya.
" Ga mungkin lha gw married sama Sarah, orang dia cuma teman Kok, lagian acara seminar waktu itu banyak dokter dari kalangan gw datang bareng juga ke NY, bukan cuma gw sama Sarah aja yang datang", balas Zia, yang sepertinya Zia sudah bisa menganalisa maksud kedatangan Wiliam sebenarnya.
Mba Ira datang membawa kopi. Zia yang meyakini istrinya mendengar obrolannya dengan Wiliam, perasaan dan pikirannya sudah campur aduk dan resah, tapi ia harus pandai pandai berakting agar dirinya terlihat tenang dan santai.
"Eh, mana istri lu, suruh keluar lha, takut amat lu, tenang aja ga bakal gw apa apain juga !!", ucap Wiliam yang memancing sebab ia memang ingin melihat Rahma.
" Siapa yang takut, memangnya apa yang harus gw takutin sama elu, bukan apa apa istri gw lagi kelelahan dari supermarket siang tadi", ucap Zia dan segera bangun menghampiri istrinya dikamar.
***
__ADS_1
"Yang tolong pakai hijab kamu, Wiliam mau lihat kemesraan kita ", bisik Zia menghampiri istrinya dibalik selimut, dan Zia dan Rahma langsung keluar menghampiri Wiliam kembali.
" Hai kak Wil... sampai juga dirumahku.. kesasar ga?", sapa Rahma yang enggan berjabat tangan dengan Wiliam dan langsung duduk disofa dekat suaminya.
"Nomor Hp kamu yang sasar Rah !!", ucap Wiliam dengan tersenyum menyeringai tidak menyangka Rahma berhasil mengerjainya.
" Maaf Kak Wil, aku ga hapal nomorku, justru aku hapal nomor Kak Zia, tapi sama saja kan ?", balas Rahma menahan tawanya karena telah berhasil mengerjai Wiliam yang usil.
"Oh ya Rah, lu kenapa ga ikut Zia waktu dia ke NY, malah teman-temannya siapa aja gw ga ingat yang cuma gw ingat namanya Sarah aja." ucap Wiliam yang dengan sengaja mengungkit masa lalu Zia untuk mengorek emosi Rahma, dengan tujuan menganggu rumah tangga Rahma dengan Zia.
"Itu kapan sih waktu kamu ke NY ?", tanya Rahma dengan santai pada Zia, Zia pun tidak menyangka Rahma bersikap dewasa akan hal ini.
" Sudah lama Yang, waktu aku baru selesai KOAS ", jelas Zia dengan gerogi karena pikirannya sudah kacau karena memikirkan keadaannya nanti dengan istrinya.
"Hah !! , kamu ga ada hubungan spesial dengan Zia sejak dulu ?", ucap Wiliam yang tengah bingung karena tidak menyangka Rahma dengan Zia semesra dulu tapi belum punya hubungan yang spesial.
" Kalau tahu dulu kamu tidak punya hubungan spesial dengan Zia, aku berusaha dekatin kamu Rah !!", ucap Wiliam dengan penuh percaya diri. Dan Rahma yang mendengar ucapan Zia dengan begitu percaya diri segera berniat masuk ke kamar.
Zia mendengar ucapan Wiliam yang tak pantas segera menarik kerah baju Wiliam dan hampir saja menghardik Wiliam.
"Eits sorry Bro, gw cuma bercanda kok", ucap Wiliam dengan senyum tanpa takut karena sudah terpengaruh oleh alkohol, Zia mencium aroma alkohol itu dari mulut Wiliam, maka dari itu Zia memaklumi jika Wiliam berprilaku seperti itu.
__ADS_1
" Mulut lo bau alkohol, pantes omongan lu ngaco, pergi lu sekarang, jangan mabok dirumah gw", ucap Zia dengan kesal pada Wiliam, seketika melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Wiliam, dan Wiliam pun mengibaskan kerah bajunya.
Rahma pun mohon izin kembali masuk ke kamarnya pada Wiliam dan Zia. Saat menutup pintu kamar dan menguncinya Rahma syok, ia menahan tangisnya, tapi lambat laun ia tidak bisa membendung tangisnya. Ia menangis dibalik selimutnya ditempat tidurnya. Ia tidak menyangka selama ini ia hanya kenal saja dengan sahabatnya sejak 12 tahun lalu, tapi ia tidak tahu siapa sebenarnya sahabatnya itu yang kini menjadi suaminya.
Dan tidak lama Wiliam pun pamit pulang. Dan Zia mengantar Wiliam sampai mobilnya keluar gerbang, untuk memastikan Wiliam benar benar pergi meninggalkan rumahnya.
Zia segera menghampiri Istrinya ke kamar, ia ingin segera meminta maaf dan menjelaskan semuanya tentang apa yang baru saja istrinya dengar.
"Yang.. aku minta maaf Yang, aku sejak dulu tidak punya perasaan apa apa dengan Sarah, dulu memang Sarah ikut dengan rombongan aku ke NY, tapi pada saat itu, aku sudah menjaga jarak dengan dia. Aku sibuk dengan teman temanku yang laki laki untuk persiapan seminar saat itu bukan ngurusin anak itu (Sarah)", ucap Zia tepat ditelinga istrinya dan Rahma sudah banjir air mata sebelumnya, bahkan saat itu posisinya membelakangi suaminya.
" Aku tidak peduli dengan masa lalu kamu, aku memang mengenal kamu cukup lama, tapi selama ini aku tidak tahu, bagaimana kamu sebenarnya ? ", ucap Rahma dengan hidung yang sedang tersumbat sebab ia habis menangis. Ucapan Rahma membuat Zia lemas tidak berdaya, karena sudah dianggap buruk oleh istrinya.
" Yang.. jangan bicara seperti itu, aku masih punya iman dan takut Tuhan, aku tidak serendah apa yang kamu pikirkan...kamu wanita yang pertama kali aku cium dan aku peluk ", ucap Zia memelas dengan memeluk istrinya dari belakang dan berusaha menghapus air mata diwajah mulus istrinya.
" Aku sudah tidak peduli, aku lelah.. aku mau istirahat tolong jangan ganggu aku", ucap Rahma dengan suara bindengnya karena habis menangis dan menepiskan pelan pelukan Zia.
Zia tidak bisa berbicara apa apa lagi. Ia hanya memandang sedih melihat istrinya terluka. Walaupun berkali kali Rahma menepis pelan pelukan Zia, tetapi Zia tetap tidak pantang menyerah memeluk istrinya dalam tidurnya, dan akhirnya Rahma sendiri lelah untuk menepisnya lagi.
***
" Sorry Bro, gw penasaran sm istri lo, gw coba bikin istri lo ilfeel sm lo, pelan pelan gw tarik istri lo", gumam Wiliam dengan percaya diri dalam mobil setelah meninggalkan kediaman Zia dan Rahma.
__ADS_1
Wiliam sudah terbiasa mengganggu hubungan orang lain, apalagi sudah berstatus suami istri, karena itu ia merasa semakin tertantang. Prilaku buruknya seperti itu akibat dari pergaulannya yang bebas selama ia tinggal di NY.
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. JANGAN LUPA VOTE AUTHOR JUGA YA. TERIMAKASIH