Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
bioskop


__ADS_3

Informasi jika film di teater dua akan dimulai, para penonton disegerakan masuk ke teater, Rahma dan Zia segera masuk karena tidak mau tertinggal adegan film tersebut. Mereka menempati kursi sesuai yang tertera ditiket. Saat mulai duduk, Rahma dan Zia baru sadar, dan betapa terkejutnya mereka karena baru hanya 8 orang yang menonton termasuk mereka berdua.


"Sepi amat kak yang nonton, pada ga suka film action apa ya, malah senang nonton film horor", keluh Rahma bisik bisik dengan Zia.


" Lagi pula ini juga tanggal tua Dek", ucap Zia yang mengusap kepala Rahma yang terlihat polos.


"O iya, ga terasa sih Kak, habis aku jalannya sama Kak Zia terus yang ga punya tanggal tua", goda Rahma dengan senyum pada Zia, Zia pun hanya geleng geleng kepala dan tersenyum karena memang harta pribadi Zia tidak bisa dihitung lagi karena bisnis raksasa orangtuanya telah dilanjutkan Zia beserta kedua kakak kandungnya, walaupun Zia sibuk dengan pekerjaan yang mulianya yaitu sebagai dokter.


Zia kagum dengan Rahma bukan karena sekedar fisiknya saja yang sangat indah, tetapi hatinya luar biasa lebih indah, sebab wanita yang mengejar-ngejar Zia hanya tergila gila harta yang Zia miliki, bukan ketulusan cinta. Sedangkan Rahma yang sudah sangat tahu betapa kaya rayanya Zia, dia tetap tidak peduli dengan harta itu, justru Zia berkali kali ditolak cintanya oleh Rahma. Karena Rahma tidak melihat dari harta, tapi dari hati dan perasaannya.


"Kok dingin banget ya Kak?", keluh Rahma pada Zia karena merasa heran AC dalam teater terasa dingin sekali, karena Rahma yang merasa kedinginan didalam ruang teater mengangkat dan melipat kesamping kakinya dan refleks memeluk lengan Zia. Bahkan dibenaknya berandai andai disediakan selimut dalam bioskop.


"Masalahnya ini ruangan penontonnya dikit Dek jadi terasa dingin", jawab Zia pada Rahma dan Zia yang melihat wanita pujaannya kedinginan dan Zia mengangkat hendle kursi yang memisahkan mereka berdua dan memeluk Rahma dengan melingkarkan tangannya ke bahu Rahma.


Zia yang merasa pelukan Rahma membuatnya menjadi pusing karena telah membuat Zia tidak fokus menonton, sebab adik kecil Zia tiba tiba menegang. Dan Zia pun hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangan kanan, sebab tangan sebelah kiri sedang merangkul bahu Rahma yang sedang memeluk kedinginan. Zia sudah merasa frustasi dengan situasinya. Mau tidak mau dia harus memberanikan diri mengatakan sesuatu pada Rahma.


" Yang.. kapan kita nikah Yang.. ? kakak takut keburu tua Yang.. ", tanya dan pinta Zia bisik bisik memelas yang tiba tiba membuat Rahma bingung menjawabnya sebab Rahma tidak sama sekali berpikir hubungannya dengan Zia akan dibawa lebih jauh. Dan tidak ada persiapan akan pertanyaan Zia.


Rahma terdiam, karena sambil berpikir untuk menjawabnya sebab jika sekarang tidak ia jawab pasti Zia akan terus bertanya. Rahma pun pasrah dengan keputusannya malam ini. Jika memang Zia jodohnya yang terbaik pasti akan dipertemukan hatinya untuk membalas cinta Zia yang selama ini tulus dan tanpa pernah menyerah.

__ADS_1


"Kak.. ya sudah nanti kakak bicarakan ke kakak kakakku kapan Kak Zia mau bawa Bunda sama Ayah untuk melamar aku kerumah, nanti tinggal kesepakatan kalian menentukan kapan kita menikah", ucap Rahma memberi jawaban yang membuat Zia terkejut tidak percaya.


" Serius Dek ??!!" ucap Zia yang terdengar oleh penonton diteater karena saking Zia terkejut tidak percaya, bahwa betapa bahagianya Rahma telah siap menikah dengannya.


Dan setelah film tamat, Zia mengajak Rahma ke counter perhiasan untuk membeli cincin lamarannya yang dua hari lagi, sebab Zia berencana membawa kedua orangtuanya hari Minggu, yang terhitung dua hari lagi dari malam ini silaturahmi kekediaman Rahma dan keluarganya untuk melamar Rahma dan mengikat Rahma untuk menjadi calon istrinya.


Dicounter perhiasan Rahma sedang memilih milih cincin yang sesuai dengan seleranya. Kali ini Rahma tidak memilih cincin emas seperti waktu Yoga membeli untuknya ketika ingin melamarnya. Kali ini Rahma memilih sebuah cincin perak dengan berbatu berlian yang berkilau yang sangat indah bila dipakai dijari manis Rahma yang putih bersih. Zia yang tidak melihat berapa harga sebuah cincin yang Rahma pilih, sebab cintanya tidak bisa dihargai oleh apapun didunia ini.


Setelah selesai membeli cincin Zia mengajak Rahma makan malam, tetapi karena sudah malam dan Rahma sudah terbiasa tidak makan malam, ia hanya memesan jus buah.


"Dek, kamu siap kapan kita menikahnya?sebulan, seminggu atau besok?" tanya Zia karena saking bahagianya.


"Terserah kakak siapnya kapan", jawab Rahma sambil meminum jus pesanannya.


"ngawur kakak nih, paling nanti keluargaku minta waktu sebulan untuk persiapan", saut dengan nada lembut, Rahma karena pengalaman saat tunangan dengan Yoga keluarga Rahma meminta waktu sebulan.


" Terus habis nikah kamu mau tinggal dimana?", tanya Zia membicarakan untuk kedepannya.


"Maaf kak, kalau kakak tidak keberatan, setelah menikah kita tidak kekanan atau kekiri, aku pengen kita mandiri, kita tinggal ditempat tinggal kita sendiri", ucap Rahma dengan penuh pertimbangan.

__ADS_1


" Ya sudah nanti kita cari cari apartemen yang bagus dan nyaman terutama dekat kantor kamu dan Rumah Sakit aku", ucap Zia dengan penuh harap karena bahagia.


"Kamu suka ga kita tinggal diapartemen Yang?", tanya Zia.


"Iya aku suka kok tinggal dimana aja asal ada kakak", jawab Rahma yang tumben kata katanya membuat Zia terbang tinggi.


" Tapi aku lebih suka rumah, supaya kita bisa bertetangga", tambah Rahma memberi pendapatnya.


"Ok nanti kita cari cari rumah yang kamu suka", ucap Zia yang akan menyerahkan semuanya pilihan pada Rahma termasuk segala pernikahannya.


" Sebentar ya Yang, aku mau telepon Bunda dulu", ucap Zia permisi karena ingin menelepon Bundanya untuk memberitahu bahwa anaknya sudah mendapatkan lampu hijau untuk menikahi Rahma.


"Hallo Assalamualaikum Bun, Bun kira kira hari Minggu besok kita bisa ga silaturahmi kerumah Rahma, aku mau ngelamar Rahma Bun", ucap Zia dihadapanku dengan santai sambil menyeruput jus sirsak pesanannya.


" Aku udah beli cincin ini Bun sama Rahma, kira kira Bunda siap ga nyiapin persiapan bawannya ? ", ucap Zia, dan entah apa perkataan Bunda karena Rahma tidak mendengarnya.


" Oke Bun.. terima kasih banyak ya Bun, Wassalamualaikum", ucap Zia dan menutup simbol merah dilayar handphonenya.


"Bunda senang banget kayanya dengar berita ini. Terimakasih sayang.. aku lebih senang dan bahagia dari Bunda tentang berita ini.. Semoga lancar sampai acara pernikahan kita nanti", ucap Zia terharu dan mengelus punduk tangan Rahma yang sedang digenggamnya.

__ADS_1


Rahma diantar sampai tempat tinggal Rahma dengan selamat, dan Zia sempat bertemu pada salah satu kakak laki laki Rahma, dan meminta izin untuk segera melamar Rahma dan memberitahu bahwa tepatnya hari Minggu Zia akan membawa kedua orangtuanya silaturahmi ketempat ini sekaligus ingin mengikat Rahma dan menentukan tanggal pernikahan mereka. Perwakilan dari keluarga Rahma pun mempersilahkannya.


HAAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.


__ADS_2