
Adzan Subuh berkumandang, Zia terbangun, dan tidak mendapati istrinya dikamarnya. Zia terperanjak bangun, dengan segera mencari sang istri.
Pikiran dan perasaan Zia menjadi kacau karena melihat istrinya tertidur di sofa dengan keadaan televisi masih menyalah.
"Sejak kapan dia pindah tidur disini ?", gumam Zia dalam hatinya yang sudah terduduk dibawah sofa mendekati istrinya, seraya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
Rahma terbangun ketika Zia mengecup kening dan bibir istrinya.
" Kita sholat Subuh dulu sayang, aku tunggu dikamar ", ucap Zia dan beranjak masuk ke kamar untuk wudhu. Rahma menyusul Zia masuk ke kamar untuk wudhu. Dan mereka sholat Subuh berjamaah berdua dikamarnya. Seusai sholat, Rahma meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya. Zia pun mencium kening istrinya di dalam keheningan di saat Subuh.
Rahma beranjak ingin ke dapur dan membuka pintu kamarnya. Namun Zia segera menarik tangan istrinya dan kembali menutup pintu kamar serta menguncinya.
" Kamu kok tidur diluar semalam ?", tanya Zia memeluk istrinya dan mencium khas aroma wangi apel ditekuk leher sang istri.
"Maafkan aku, semalam aku terbangun dan susah untuk tidur lagi, aku inisiatif menonton tv agar kembali mengantuk, tepi ternyata aku malah ketiduran di sofa", jelas Rahma berusaha melepaskan pelukan suaminya.
" Kamu mau kemana sih Yang.. kok buru buru gitu, temani aku dulu disini.. ", pinta Zia dengan lembut seraya mengeratkan pelukannya.
" Aku mau masak untuk sarapan pagi kita", jawab Rahma yang sudah dituntun agar kembali ke arah tempat tidur oleh suaminya.
__ADS_1
"Kan ada Mba Ira, tugasnya kan membantu kamu dirumah ini", balas Zia dengan lembut dengan wajah saling berhadapan berdua hanya berjarak beberapa centi.
"Aku tidak mau mengalahkan tugasku sebagai istri", ucap Rahma dengan memejamkan kedua matanya karena jarak antara wajah suaminya dengan wajahnya terlalu dekat, namun Zia menatap sendu istrinya.
" Tugasmu selain menyiapkan sarapan untukku adalah memberikan aku cintamu yang utuh, melayaniku dengan cintamu yang tulus", ucap Zia menarik dagu istrinya dan langsung mencium istrinya dan memperdalam ciumannya. Rahma pun meluluhkan hatinya.
"Kak ini sudah pagi, kita harus segera siap siap untuk berangkat ke peresmian", Rahma melepaskan ciumannya, dan mengingatkan suaminya agar tidak terlambat untuk datang ke acara peresmian Rumah Sakit yang telah dibangun susah payah oleh Zia.
" Aku ga peduli Yang, aku lebih tidak semangat jika aku belum mendapatkan cintamu yang tulus", jawab Zia yang sudah siap untuk melaksanakan kewajiban dan haknya sebagai suami. Dan kembali melumat bibir istrinya.
Rahma pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya, tanpa aba aba tangan Zia sudah menyusup kedalam baju istrinya. Pelan pelan Zia meletakan tubuh istrinya berbaring diatas ranjang mereka, lalu membuka kancing bagian atas, dan terlihat jelas bagian dada istrinya yang membuat Zia tak mampu menahan hasratnya. Zia membuat stempel merah di dada istrinya, Rahma hanya mampu memejamkan kedua matanya karena menikmati sentuhan dan kecupan sang suami ditubuhnya. Perlahan Zia sudah melucuti pakaian istrinya satu persatu, mereka berdua sibuk dengan urusannya diranjang dan meraih kenikmatan yang luar biasa antara suami istri ini.
" Yang.. bareng Yang mandinya.. !", pinta Zia pada istrinya namun Rahma tidak menghiraukan permintaan suaminya karena takut jika mandi bersama dengan suaminya akan membuat tangannya sampai keriput.
"Ga mau .. aku mau mandi sendiri .. ", ucap Rahma seraya menutup pintu toilet dan langsung menguncinya pintu dari dalam. Dan Zia pun hanya tertawa melihat tingkah istrinya.
***
Zia dan Rahma diantar oleh Mas Anto supir pribadi mereka dirumah, yang memang tugasnya mengantar Rahma disaat Zia tidak bisa mengantar istrinya. Tiba di Rumah Sakit Astra, kehadiran Zia dengan Rahma disambut oleh keluarga besar Astra termasuk Ayah dan Bunda Zia, para tim medis, dan para undangan. Tidak tertinggal sahabat mereka berdua Fajri dengan Marisya pun hadir diantara mereka. Zia menggunting pita sebagai simbol peresmian pembukaan Rumah Sakit Astra. Para hardirin mengucapkan selamat kepada Zia.
__ADS_1
" Nak selamat ya....!! jadikan Rumah Sakit ini penolong untuk yang sakit dan berprikemanusiaan, itu saja pesan Bunda", ucap Bunda memeluk anak bungsunya.
"Zi.. selamat Nak, Ayah minta kamu jadikan Rumah Sakit ini tempat penolong orang yang sakit. Dedikasikan kedokteramu Nak", ucap Ayah Zia seraya memeluk anak laki laki semata wayangnya.
Setelah acara peresmian ayah dan bunda langsung pamit karena akan langsung bertolak keluar negeri, sebab memang ayah dan bunda adalah orang orang yang sangat sibuk mengurus segala bisnis raksasa mereka.
Zia dan Rahma masih duduk manis untuk acara penyambutan serta perkenalan para tim dokter yang akan mengabdi. Semua diperkenalkan satu persatu. Ditengah acara, Rahma terkejut ketika mendengar dan melihat seorang dokter wanita bernama dr. Sarah Kusuma yang naik keatas panggung memperkenalkan dirinya. Dengan secepat kilat Rahma menengok kearah suaminya yang duduk persis disisi kirinya, menunjukan reaksi dengan tatapan mata yang heran dan terluka. Zia yang melihat tatapan sang istri menjadi serba salah dan gugup.
Rahma menahan amarahnya karena rasa kecewanya ia tidak mau menatap lagi suaminya yang membuatnya terluka. Tetapi ia tetap mampu bersikap profesional di depan banyak orang.
"Bagaimana mungkin dia memberi luka lagi untukku", ucapnya di dalam hati seraya menarik nafasnya dalam dalam karena udara diruangan itu tiba tiba baginya telah membuat nafasnya sesak. Ia mencoba menahan air matanya.
Zia yang melihat reaksi amarah istrinya yang terpendam hanya bisa pasrah. Akan tetapi ia masih bersyukur istrinya bersikap profesional di khalayak ramai. Tangan Zia menghampiri tangan istrinya, dan menggenggam jemari tangan istrinya dan membawa tangan itu diatas paha Zia yang tengah terduduk dengan penuh harap agar istrinya tidak terpengaruh oleh situasi yang memurutnya membuat istrinya terluka.
Dipertengahan acara Rahma izin permisi sebentar untuk ke toilet di hadapan tamu undangan yang kebetulan satu meja dengannya termasuk suaminya, Rahma beranjak dari duduknya dan melepaskan pelukan tangannya dengan tangan Zia. Zia enggan melepaskannya, tapi ia sadar saat ini ia dengan istrinya sedang berada dikhalayak ramai.
bersambung
HAY READERS TOLONG JANGAN LUPA LIKE + COMMENT AND VOTE YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. MAAFKAN AUTHOR YA SUDAH 4 HARI BELUM UP, KARENA AUTHOR MENJADI KURANG SEMANGAT KARENA READERS SEGAN MEMBERIKAN LIKE NYA UNTUK AUTHOR. DAN AUTHOR MENGUCAPKAN TERIMAKASIH YANG SUDAH MENSUPPORT AUTHOR YA.
__ADS_1