
Adzan Subuh berkumandang, Yoga terbangun dan melaksanakan sholat diatas tempat tidurnya. Setelah Yoga selesai sholat disusul Rahma melaksanakan sholat subuh.
Saat waktunya sarapan Rahma dengan telaten mengurus Yoga, Rahma menyuapi Yoga sarapan. Yoga yang masih lemah selalu disisi Rahma yang tak beranjak dari ruangan Yoga istirahat. Pagi ini Yoga keluar dari ruang Intensive Unit Care.
Mami menitipkan Yoga kepada Rahma, karena Mami harus menemani Papi untuk perawatan sebelum operasi transplatansi ginjal untuk Yoga.
Rahma selalu mengenggam tangan Yoga, Yoga banyak bercerita tentang isi hatinya pertama kali melihat Rahma dan sampai detik ini. Rahma tersipu malu karena Yoga banyak memuji dirinya dan betapa besar cinta Yoga kepadanya.
Malam hari Yoga tidak boleh makan dan minum apapun, karena besok paginya Yoga akan melakukan operasi transplatansi ginjal itu sebabnya harus berpuasa malam.
Yoga menatap dalam wajah Rahma. Membelai wajah mulus Rahma dengan penuh senyum. Rahma pun demikian, menatap wajah pucat Yoga dan membelai wajah Yoga dan sekali kali mencium pipi dan mengecup bibir Yoga.
__ADS_1
"Jaga aku selalu dihati kamu. Jangan pernah kamu tinggalin aku. Kamu adalah hidupku", ucap Yoga lirih pada Rahma.
" Pasti Mas, cuma kamu yang ada dihati aku, kamu semangat cepat sembuh, hari pernikahan kita tinggal menunggu hari", jawab Rahma lembut ditelinga Yoga. Rahma dan Yoga tertidur dalam pelukan.
Tepatnya pukul 02:00 WIB, saat perawat ingin memberi suntikan, Yoga kembali tidak sadarkan diri, dan statusnya kritis. Padahal tinggal menunggu beberapa jam lagi Yoga akan operasi.
Rahma dan keluarga Yoga sangat gelisah. Dilorong Rahma bertemu Zia saat Yoga dipindahkan keruang Intensive Unit Care. Rahma konsultasi dengan Zia.
" Kamu tenang aja Dek, nanti tim dokter akan diskusi yang terbaik untuk Yoga, apakah operasi tetap dilakukan atau menunggu Yoga sadar", jawab Zia sambil mengusap bahu Rahma dan berlalu pergi.
Perasaan Rahma gelisah, campur aduk. Tepat pukul 06:00 kondisi Yoga semakin buruk, dan detak jantung semakin melemah, tim dokter melakukan tindakan semaksimal mungkin. Diluar ruangan Rahma beserta keluarga besarnya yang ikut mendoakan Yoga dan keluarga besar Yoga pun sudah berkumpul. Hampir setengah jam tim dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Yoga termasuk dr. Zia. Namun dokter hanya manusia biasa yang hanya mampu berusaha. dr. Arif yang menangani Yoga keluar ruangan.
__ADS_1
"Kepada pihak keluarga Bapak Yoga, saya selaku dokter yang menangani Bapak Yoga, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Bapak Yoga, namun Tuhan berkehendak lain. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya", pernyataan dr. Arif kepada semua pihak dari Yoga
Rahma menangis histeris dan terobos masuk dimana Yoga berada, Rahma berusaha membangunkan Yoga.
" Mas..Mas Yoga bangun bangun Mas.., jangan tinggalin aku Mas.. Mas Yoga.. sebentar lagi kita nikah kan Mas,." ucap Rahma menangisi Yoga dan masih berusaha membangunkan Yoga yang sudah tidak bernafas.
Rahma tidak mau melepaskan pelukannya dijenazah Yoga dan tidak perdulikan siapapun yang ada diruangan itu. Karena Rahma yang tidak melepaskan pelukannya pada Yoga, membuat perawat bingung sendiri bagaimana merapikan jenazah Yoga. Dan perawat meminta pihak keluarga untuk membujuk Rahma agar melepaskan Yoga.
"Mah, Mas Yoga mau dirapiin dulu, kamu sini dulu, jangan seperti itu, kasian Mas Yoga, biarkan dia tenang, sekarang Mas Yoga sudah tenang tidak merasakan sakit lagi", ucap salah satu kakak Rahma dan memberi nasihat untuk Rahma, dan Rahma pun menyingkir membiarkan perawat merapikan jenazah Yoga.
HAAY GAES, JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA YA, AGAR AUTHOR SEMANGAT UNTUK MENULIS KELANJUTANNYA. TERIMAKASIH
__ADS_1