Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
mengungkap misteri


__ADS_3

Suasana Rumah menjadi tegang ketika kejadian pelemparan gelas kearah kepala Ustadz Afrizal. Rahma sudah merasa lemas dan tidak berdaya, apalagi kondisinya sedang hamil muda. Ustadz Afrizal memberikan air minum untuk Rahma yang telah dibawanya saat ia umroh ke tanah suci yaitu air Zam Zam.


" Gimana Yang perasaan dan keadaan kamu ? apa sudah lebih enteng ? ", tanya Zia kepada istrinya dengan suara lirih.


" Alhamdulillah Kak, terima kasih Ustadz Afrizal sudah membantu saya dari marabahaya ", ucap Rahma kepada suami dan dilanjut mengucapkan rasa terima kasih nya kepada Ustadz Afrizal.


" Saya hanya sebagai perantara Mba, semua atas campur tangan Allah Yang Maha Merajai Mba.. ", ucap Ustadz Afrizal dengan lugas.


Ustadz Afrizal mempersilahkan Rahma untuk istirahat, Zia pun mengantarkan Rahma ke dalam kamarnya. Setelah itu Zia kembali menemui Ustadz Afrizal di ruang tengah. Dan Ustadz Afrizal meminta kepada Zia untuk temani ia keliling halaman rumah Zia sambil berbincang.


" Gini Zi.. yang ana liat dari pandangan ana, istri antum seperti kena guna guna, guna guna dikirim dari siapa, ana tidak tahu, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Memohonlah kepada Allah meminta perlindunganNya. Karena Allah sebaik baik pelindung dan penolong", ujar Ustadz Afrizal seraya berjalan keluar menuju halaman depan.


" Jadi bagaimana selanjutnya istri ana Tadz? " , tanya Zia penasaran dengan keadaan yang dialami istrinya.

__ADS_1


" Alhamdulillah atas izin dan pertolongan Allah istri antum sudah melawan guna guna tersebut Zi ", jawab Ustadz seraya membaca doa tepat di halaman depan rumah Zia untuk memagar rumah Zia dengan doa doa.


" Zi.. kalau ada apa apa antum segera hubungi ana ya.. tapi Insya Allah semua sudah membaik seperti sedia kala, segala efek kiriman guna guna tersebut sudah hilang, sekarang tinggal dari istri antum saja banyak banyak berdzikir dan sholat malam ", ucap Ustadz Afrizal merasa lega bisa membantu sahabatnya.


" Siap Tadz, mohon doanya selalu Tadz untuk keluarga ana ", ucap Zia penuh harap


" Baiklah ana pamit dulu, salam untuk istri antum, biarkan istri antum istirahat dulu karena kelihatan sekali sangat lelah", ucap Ustadz Afrizal seraya mengusap pundak Zia dengan senyum.


" Terima kasih Tadz atas bantuannya, semoga Allah bantuan Ustadz menjadi penolong dan penerang Ustadz di akhirat kelak ", ucap Zia seraya memeluk haru Ustadz Afrizal.


" Waalaikumsalam ", jawab salam Zia dengan senyum kepada Ustadz Afrizal.


Zia memandang kepergian kendaraan Ustadz Afrizal yang semakin menjauh, pikirannya terusik akan siapa yang mengirim guna guna pada istrinya. Zia terdiam di halaman depan, Mas Anto menghampiri yang melihat Tuannya yang sedang terlihat dengan beban pikiran.

__ADS_1


" Maaf Pak.. Ada apa dengan Ibu ?", tanya Mas Anto mengaburkan lamunan Zia.


" Istri saya kena guna guna Mas, siapa ya Mas kira kira yang tega dengan istri saya sampai sedemikian.. ", ucap Zia bertukar pikiran dengan Mas Anto yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


" Maaf sebelumnya kalau saya lancang Pak, Bapak saja mati matian berkorban untuk mendapatkan Ibu sejak dulu, jadi tidak heran Pak jika ada orang yang melakukan jalan pintas demi mendapatkan Ibu.. ", ucap Mas Anto apa adanya demi kebaikan Tuannya yang ia sayangi karena ia kenal Tuannya itu sejak Zia kecil.


" Kira kira menurut Mas Anto siapa ya Mas ?", tanya Zia kepada Mas Anto agar Zia merasa yakin dengan firasatnya yang sebelumnya Zia sudah bisa menebak siapa yang mengirim guna guna kepada istrinya.


" Maaf kalau saya lancang Pak, saya curiga dengan keadaan Ibu saat Ibu dan Bapak pulang dari undangan makan malam dari Tuan Law, disitu saya melihat Ibu di dalam mobil seperti bukan Ibu di pantulan kaca spion, makanya saya waktu itu terkejut, dan saya pikir Ibu sedang sakit ", cerita Mas Anto yang selama ini belum berani ia ungkapkan kepada Tuannya.


" Siapa yang Mas Anto lihat di spion ?", tanya Zia dengan penasaran.


" Saya juga tidak kenal Pak, saya lihat bukan Ibu, karena wajahnya seperti nenek nenek tua dan pucat, dan apa bapak ingat waktu pagi pagi Galih memecahkan piring, itu Galih cerita ke saya Pak, dia melepaskan piring tersebut karena Galih kaget melihat Ibu seperti bukan Ibu, sosoknya seperti apa yang saya lihat di spion itu Pak ", jelas Mas Anto dengan gugup menceritakan hal itu.

__ADS_1


*bersambung


HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH*.


__ADS_2