Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
Pizza


__ADS_3

Pagi-pagi para penghuni gedung perwakilan rakyat disuguhi dengan pemandangan sepasang manusia yang sedang jatuh cinta, bergandengan tangan sejak di parkiran mobil, hingga melewati lorong lift dan sampai ruangan kerja Yoga berserta anak buahnya. Yoga dan Rahma hanya memasang wajah senyum ramah. Para pejabat yang mengincar Rahma hanya bisa melirik sinis kepada Yoga. Yoga pun dengan bangganya menggandeng sang primadona.


Seperti biasa sebelum memulai pekerjaan, Rahma menyiapkan minuman untuk Yoga dua gelas, yang satu berisikan teh manis dan yang satu berisikan air mineral serta satu piring snack.


Saat Yoga dan para anak buahnya sedang asyik dengan pekerjaannya, Wawan office boy yang standby diruangan Yoga membawa tentengan pizza 3 box dari lobby.


"Mba Rahma, order delivery pizza?", tanya Wawan karena tumben sekretaris cantik ini order makanan tidak memberi tahu Wawan seperti biasanya agar Wawan mengambil pesanan ke lobby.


" enggak, lho ini kok pizzanya dibawa kesini?", saut Rahma dan heran kiriman pizza atas namanya.


"coba Mba dibuka dulu siapa pengirimnya", saran Wawan karena ada nama pengirimnya.


To : Rahma Azzahra


From : dr. Zia Astra Sp PD


Rahma pun tertegun, yang tadi posisinya berdiri langsung duduk lemas sambil memegang puncak kepalanya yang berbalut hijab dengan kedua tangannya. Rahma sedang berpikir, betapa kejamnya ia karena melewati moment Zia yang telah berhasil meraih gelar yang Zia cita-citakan bersama dengan para sahabatnya. Alam yang penasaran karena melihat suasana wajah Rahma yang tidak enak, mendekat ke meja Rahma dimana pizza itu diletakan.


" Oh, dari Si Yayang Embeb Doktel..", Alam yang sadar keceplosan langsung menutup mulutnya. Dan situasinya Alam pun tidak tahu kalau Rahma dan Yoga sudah punya hubungan khusus, dan sebetulnya Alam tidak sengaja menyebut nama Zia. Yoga yang sedang asyik dengan laptopnya, mendengar Alam menyebut nama itu terkejut karena cemburu.


"Wan, pizzanya letakan di pantry aja, yang mau makan disitu aja, dan tolong jangan dibawa kesini", perintah Yoga kepada Wawan tanpa basa basi dulu dengan Rahma dan Wawan pun segera melaksanakan perintah Yoga. Alam dan Hesti saling melirik karena terheran dengan sikap Yoga.


Rahma masih terdiam, sadar sudah melukai banyak orang yang dia sayangi. Karena situasi ini dan melihat Yoga yang raut wajahnya tidak mengenakan. Rahma mendekati Yoga yang wajahnya sedang ditekuk. Rahma berdiri memeluk Yoga dari belakang dan posisi Yoga sedang duduk disinggasananya.


" Mas.. Mas Yoga cemburu ya?", bisik manja Rahma yang sedang merayu Yoga agar Yoga tidak marah dengan kejadian pizza ini.


"Kamu selesaikan urusan kamu sampai tuntas dengan dokter itu, beri kepastian padanya agar dia tidak mengharapkan kamu lagi karena kamu akan menjadi milikku seutuhnya", pinta Yoga tegas yang sedang asyik dengan laptopnya, nada biacaranya datar dan Yoga mengecup punggung tangan Rahma yang sejak tadi memeluknya.


" Tapi Mas jangan marah ya kalau aku sore ini akan klarifikasi dengan beliau?", tanya Rahma memastikan pada Yoga dengan Ragu.

__ADS_1


"Ya udah kamu telepon aja dokter itu sekarang, dan kamu klarifikasi aja lewat telepon", jawab Yoga sekenanya.


" Mas, kalau lewat telepon kurang sopan, atau kita ketemuan bareng aja sama Mas Yoga?", saran Rahma dengan lembut pada Yoga.


"Ya sudah sekalian kamu kenalkan dokter itu dengan aku", jawab Yoga santai.


Sebetulnya Rahma belum siap bertemu dengan Zia untuk menjelaskan hubungannya dengan Yoga. Rahma pun tidak sampai hati karena Zia pasti akan terluka sangat dalam. Tapi disisi lain, Rahma harus mempertahankan kepercayaan Yoga.


*chat Zia(Z) dengan Rahma(R)*


R : Assalamualaikum, Kak, lagi sibuk ga?


Z : Kenapa?


(Zia merasa heran karena tumben Rahma menghubunginya lebih dulu, padahal setiap hari Zia selalu menyapa Rahma lewat chat, tapi jarang dibalas).


R : Maaf, aku mau kita ketemu, bisa?


R : Ok. dan terimakasih atas kiriman pizzanya.


Z : Ok semoga kamu suka.


Dan Rahma menjelaskan kepada Yoga bahwa Zia tidak bisa bertemu karena sedang diluar kota. Yoga pun memakluminya.


Tiba dirumah Rahma, Rahma yang diantar Yoga sampai Rumah. Yoga yang masih ingin bersama Rahma dan sekalian ingin memberitahu kepada perwakilan keluarga Rahma kalau Minggu depan keluarga Yoga akan datang untuk silaturahmi dan melamar Rahma dan sekalian menentukan waktu pernikahan.


Ketika Rahma sedang ngobrol santai dengan Yoga diteras halaman rumah Rahma datang seorang kurir yang mengantarkan undangan pernikahan dari sahabatnya yaitu Marisya. Rahma pun segera menelepon Marisya didepan Yoga dan minta izin dengan Yoga.


*dialog via telepon Rahma(R) dengan Marisya(M)*

__ADS_1


R : "Assalamualaikum calon pengantin",


M : " Waalaikumsalam apa kabar lu Rah, kangen gw nih ! Sibuk amat sih lu !


R : "Ya begitu Mar, ada waktu buat istirahat aja syukur gw"


M : "iya iya paham gw, Rah lu datangkan ke nikahan gw?"


R : "Iya Insya Alloh Mar gw usahain.. ya udah Mar nanti kita lanjut lagi ya"


M : " Ok"


Rahma menekan icon merah pada layar telepon genggamnya dan tersenyum manis pada Yoga. Yoga juga membalas senyum tampannya pada Rahma.


"Rasanya pengen cepet cepet nikah aja Yang.. habis berat banget mau pulang.. pengennya sama kamu terus", ucap Yoga yang masih ingin didekat Rahma.


" Sabar Mas.. tinggal dua bulan lagi rencana kita, mudah mudahan lancar tidak ada halangan", saut Rahma sambil mengusap punggung tangan Yoga.


"dari malam ketemu pagi yang cuma beberapa jam aja terasa bertahun tahun pengen cepet cepet ketemu kamu", gombal Yoga.


" udah deh ga usah gombal sudah malam", ucap Rahma mengingatkan waktu malam semakin larut.


"Ya udah deh aku pamit", saut Yoga sambil menguap karena menahan ngantuk.


" iya hati hati, mimpiin aku ya nanti ditidur kamu", ucap Rahma lembut.


"waduh, bisa basah kalau Mas mimpiin kamu Yang", goda Yoga yang pikirannya sudah mesum.


" Mas ini mesum aja pikirannya", gerutu Rahma sambil mencubit pinggang Yoga karena gemas dan Yoga pun mengaduh.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE YA


__ADS_2