
"Kak Zia.. ada apa denganku ? Kakak melemparku ke Rumah Sakit lain tanpa membicarakannya lebih dulu denganku ?", gumam hati Sarah yang merasakan sangat sedih karena pihak RS Astra telah memindahkan Sarah ke RS lain dengan terhormat dan tanpa alasan yang jelas.
" Aku akan berusaha menemui Kak Zia dengan segera", sambung gumam Sarah dalam hatinya.
***
Setelah para staff memberi laporan kinerjanya, mereka pun meninggalkan ruangan Dokter Zia selaku direktur utama. Pintu ruangan itu telah dijaga oleh Mas Anto dan dua orang security berwajah hangat namun tegas dan lugas. Mas Anto adalah laki laki dengan usia sudah hampir 40 tahun, ia bertubuh tinggi 180 centimeter dan berbadan atletis memberikan aura postur tubuhnya yang sangar. Ia diperintahkan oleh Zia menjaga pintu ruangannya disaat tidak menyetir mengendarai mobil untuk Tuan dan Nyonya mudanya.
Sebelumnya Rahma telah memberi tahu oleh Mas Anto agar menyambut untuk tamu penting yang bernama Tuan Law. Dan tidak lama pun Tuan Law datang bersama asisten pribadinya empat orang dan disambut oleh Mas Anto. Zia dan Rahma mempersiapkan diri bertemu dengan Tuan Law di dalam ruangan.
"Selamat pagi Om Law dan selamat datang di Rumah Sakit Astra ", ucap Zia berhadapan dengan Tuan Law dan mereka berdua berjabat tangan dan berpelukan hangat seperti sudah ada hubungan yang sangat akrab.
" Ok terimakasih Dokter Zia, bagaimana kabar kamu dan ayah kamu ?", ucap Tuan Law dengan ramah serta menepuk pundak Zia.
"Kabar ayah baik sekali Om silahkan duduk Om", Zia mempersilahkan Tuan Law bersama rekan rekannya duduk disofa diruangan mereka.
Rahma dan para Office Boy menyiapkan minuman dan snack untuk tamu istimewanya saat Tuan Law dengan Zia asik bercengkrama berbagi ilmu.
__ADS_1
" O iya Om perkenalkan ini sekretaris pribadi saya, sekaligus Istri saya, ", ucap Zia memperkenalkan istrinya, dan Rahma pun memperkenalkan dirinya dengan Tuan Law dengan senyum ramah.
" Kok sepertinya saya ga asing dengan wajah istri kamu ya Zi.. ?", ucap Tuan Law menatap wajah Rahma dengan seksama seraya mengerutkan alisnya karena sedang mengingat ingat wajah Rahma yang tidak asing lagi baginya.
Zia sudah merasa khawatir dengan ucapan Tuan Law, karena takut istrinya menjadi wanita incaran Tuan Law karena memang Tuan Law sudah lama menduda sejak 5 tahun yang lalu karena istrinya meninggal dunia lebih dulu. Dan Rahma pun tersenyum heran karena ia merasa baru pertama kali bertemu dengan Tuan Law.
"Apa kamu pernah ke New York ?", tanya Tuan Law kepada Rahma dengan sopan dan ramah seraya tersenyum mencoba memacu daya ingatnya karena kemampuan daya ingatnya memang sudah tidak seperti saat muda, dan sekarang karena usia yang lumayan tua sudah 60 tahun.
" Maaf Om saya kebetulan belum pernah menginjakan kaki di kota New York Om ?, jawab Rahma dengan lembut dan senyum.
"Oh.. maaf Om baru ingat, apa kamu pernah satu sekolah dengan Wiliam anak Om ?", ucap Tuan Law setelah ingatannya kembali sempurna dengan sosok Rahma, Zia dan Rahma dengan kilat saling melirik seraya tetap memberikan senyum kepada Tuan Law.
"Hahaha... pantas Om kok seperti pernah melihat kamu, om ingat ternyata dulu saat kami masih tinggal disini, waktu itu Wiliam masih sekolah menengah banyak sekali wajah Rahma di kamarnya, bahkan sampai dicetak ukuran poster", cerita Tuan Law tertawa mengenang tingkah anaknya jatuh cinta saat masih sekolah menengah dan menatap kagum pada Rahma bahwa ia bertemu dengan wanita yang dikagumi anaknya Wiliam. Rahma ikut tersenyum karena menghargai Tuan Wiliam walaupun hatinya terkejut begitu juga dengan Zia.
" Tapi Zi... kau jangan cemburu, itu hanya masa lalu, mungkin saat itu Wiliam hanya kagum dengan Rahma yaaa namanya masa anak baru dewasa Zi.. ", sambung Tuan Law dengan suara khasnya terdengar bijaksana dan Tuan Law memang tidak bermaksud membuat Zia cemburu akan ceritanya.
" Tidak apa apa Om, wajar kok Om, sejak dulu saya juga awalnya penggemar istri saya, hahaha.. Ok Om kita kembali ke planing kita", saut Zia dengan wajah sumringah yang berhasil menutupi perasaan cemburunya.
__ADS_1
****
"Selamat pagi Pak, saya bisa bertemu dengan Dokter Zia ?", sapa Sarah saat berhadapan dengan Mas Anto yang sedang berjaga dipintu ruangan Zia.
" Maaf Nona, dengan atas nama siapa ? Apa sebelumnya Nona sudah membuat janji dengan beliau ?", saut Mas Anto melihat daftar tamu yang akan bertemu dengan Zia.
"Maaf Pak, saya dengan dokter Sarah, tapi saya belum membuat janji dengan Dokter Zia", jawab Sarah dengan sopan dan masih berdiri tegak dihadapan Mas Anto.
" Mohon maaf sebelumnya Nona, Dokter Zia sedang ada tamu penting saat ini, dan beliau tidak bisa ditemui sebelum membuat janji dengan Sekretarisnya langsung dan mohon maaf sekali lagi Nona untuk meninggalkan area ini.
"Ok baik Pak terimakasih, sampaikan saja dengan Dokter Zia, jika saya atas nama Sarah datang ingin menemuinya lain kali", ucap Sarah dengan kecewa karena tidak bisa menemui Zia seraya melirik dua orang penjaga lainnya di depan ruangan Zia sehingga tidak mungkin ia merangsak masuk kedalam ruangan itu tanpa izin para penjaga ini.
" Baik Nona nanti akan saya sampaikan kepada beliau", jawab Mas Anto dengan sikap ramah tapi dengan aura yang lumayan menyeramkan karena postur tubuhnya yang tinggi besar.
Zia akan dibantu oleh Tuan Law yang sudah sangat berpengalaman mendirikan rumah sakit. Dan Tuan Law adalah seorang dokter bedah yang sudah sangat senior, dan sudah menyandang titel profesor. Keramahan serta kebijaksanaanya yang membuat Zia tidak segan melebarkan tangannya untuk selalu bersilaturahmi dengan sahabat ayahnya.
" Ok Zi.. nanti malam Om tunggu kamu berdua dengan istrimu makan malam dirumah Om, karena dua hari lagi Om akan balik ke NY", ucap Tuan Law seraya mengusap pundak Zia saat akan berpamitan pulang. Kemudian Zia dan Rahma mengantarkan Tuan Law sampai di pintu ruangannya. Dan dilanjutkan diantar sampai lobby oleh para staff Rumah Sakit Astra.
__ADS_1
HAY READERS. JANGAN LUPA BANTU AUTHOR LIKE AND VOTING YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH YANG SUDAH MENDUKUNG AUTHOR.