Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
isi amplop coklat


__ADS_3

Hari menjelang sore, dengan langit yang cerah, dan jalanan teduh tertutup bayangan pohon, hingga menyejukan Zia mengendarai mobilnya menuju kantor milik Ayah dan Bundanya.


" Assalamualaikum ", ucap salam Zia memasukin ruang kerja orangtuanya.


" Waalaikumsalam ", jawab salam Bunda dan Ayah dan Zia mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan mencium kening mereka.


" Bagaimana kehamilan kesayangan Bunda Zi ?", tanya Bunda kepada Zia seraya membuatkan secangkir teh manis untuk anak laki laki satu satunya.


" Alhamdulillah bagus sehat Nda ", jawab Zia yang sedang mendapati ruang ternyaman dengan duduk disofa yang empuk dengan menarik nafas lega.


" Zi.. kamu coba buka amplop ini ", ucap Bunda seraya menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Zia, serta Ayah dan Bunda saling melirik.


" Apa nih Nda ? sertifikat tanah buat aku ?", gurauan Zia membuat kedua orangtuanya gemas dengan ucapannya karena masih saja senang menggoda kedua orangtuanya yang sedang bersikap serius.

__ADS_1


" Buka dulu Nak.. ", jawab Bunda lembut menghelakan nafasnya.


" Foto siapa ini Nda ? Wiliam kan ? kok sama perempuan mirip Rahma ya Nda ?", ucap Zia mengeryitkan kedua alisnya seraya melihat lihat 4 lembar foto tak senonoh Wiliam mesra dengan seorang wanita.


" Hebat juga Wiliam bisa temukan cewek yang mirip menantu kesayangan Bunda ya Nda..", ucap Zia dengan senyum terheran dengan siasat Wiliam.


" Baguslah artinya pikiran kau sama dengan ayah dan bunda, tidak percaya meskipun foto itu mirip dengan kesayangan bunda", ucap Bunda dengan bijaksana.


" Baguslah Nak, ternyata tidak sia sia kau bunda sekolahkan mahal mahal ", ucap Bunda yang ujung ujungnya meledek Zia.


" Aku yang memang sudah smart Nda, bukan dari mahalnya sekolahan juga ", jawab Zia tidak mau kalah dengan ledekan dari Bunda.


" Kecerdasan anak itu DNA nya lebih banyak dari Ibunya kan ", ucap Bunda melirik Ayah yang masih sibuk menanda tangani dokumen.

__ADS_1


" Lho kenapa bawa bawa DNA, kalau ga ada Ayah apa iya ada anak anak Bunda ", ucap Ayah membalas ledekan bunda dengan santai seraya membaca dokumen dokumen yang harus ia tanda tangani.


" Ya setidaknya kamu bisa menjawab jika foto ini muncul kembali duplikatnya dihadapan khalayak karena foto ini biar Bunda yang simpan disini agar tidak kemana mana ", ucap Bunda dengan bijaksana.


" Pasti lha Nda, aku akan membela dan melindungi istriku sampai titik darah penghabisanku, lagi pula aku yakin sekali bahwa itu bukan istriku, aku tau lekuk tubuh istriku seperti apa, dan seandainya jika foto itu di take saat sebelum menikah denganku, yang akan menjadi bukti untukku membela istriku adalah, first night aku dengan istriku, dia dalam keadaan masih virgin, aku yakin karena aku seorang dokter dan setelah menikah istriku selalu ada bersamaku ", ucap Zia dengan tenang dan senyum menyeringai kepada foto foto yang masih ditangannya.


" Yang penting Bunda tidak ingin foto ini sampai dilihat kesayangan Bunda, awas Zi, istrimu sedang mengandung, jangan sampai dia stress memikirkan hal ini, walaupun ini foto bukan Rahma, tapi tetap saja dampaknya akan memperburuk emosinya ", ucap Bunda seraya menyimpan foto foto itu di lemari besinya yang hanya bisa dibuka oleh Bunda seorang.


" Apa setidaknya kita laporkan kasus ini saja Zi ?", tanya Bunda saat sudah kembali duduk dan menyeruput secangkir teh.


" Apa yang mau dituntut Nda...?, kiriman ini tidak menyertakan atau menyebut nama si pelaku di foto ini, tenang saja Nda, aku dan Rahma bukan artis yang namanya akan pudar untuk dijadikan model iklan jika foto ini terkuak ", ucap Zia dengan tenang seraya menyeruput secangkir teh buatan Bunda tercintanya.


HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.

__ADS_1


__ADS_2