
Zia dan Rahma terharu melihat perkembangan kehamilan Rahma yang sehat. Zia mendekatkan pandangannya kelayar USG karena keingintahuan dengan bentuk sang anak yang masih berusia 7 minggu dikandungan istrinya tercintanya.
" Terimakasih sayang.. ", ucap Zia kepada Rahma yang masih berbaring di tempat tidur periksa pasien seraya mencium kening istrinya hingga membuat Dokter Fenita menjadi iri melihat kemesraan mereka, betapa Zia mencintai istrinya.
" Ok sudah boleh bangun Bu, silahkan hati hati Bu.. ", ucap Dokter Fenita membantu Rahma bangun dari tempat tidur periksa pasien.
" Saya hanya kasih vitamin dan penguat kandungan ya Bu, jika terjadi flek, karena memang rentan masih muda, jadi Ibu harus bedrest dan di jaga betul, jangan stress, berhubungan juga hati hati ya Dok.. ", jelas Dokter Fenita seraya tersenyum ramah kepada Zia dan Rahma.
" Pasti itu Dok ", jawab Zia dengan pasti.
Zia dan Rahma masih betah berkonsultasi dengan Dokter Fenita, hingga tidak terasa sudah hampir setengah jam mereka sudah diruang itu. Rahma sudah merasa lelah dan pamit kepada Dokter Fenita serta perawat yang membantunya.
Zia ikut pamit kepada para staff untuk pulang kerumah bersama istrinya. Di tengah perjalanan Zia mendapat pesan dari Ibundanya.
* Chat Zia (Z) dengan Bunda (B)*
B : Zi.. kau sedang dimana?
Z : Masih di jalan lagi habis kontrol kandungan Rahma Nda.. Kenapa ?
B : Kalau sudah antar Rahma pulang, kau bisa ke kantor Bunda Nak ? Ada hal yang ingin Bunda sampaikan.
Z : Kalau begitu aku langsung ke kantor sekarang aja Nda selagi belum sampai rumah biar sekalian.
B : Jangan Nak, kau bawa istrimu pulang dulu biar istirahat. Salam untuk istrimu.
__ADS_1
Z : Ok Nda.
" Habis antar kamu pulang, bunda suruh aku segera ke kantor ", ucap Zia kepada istrinya seraya menutup layar ponselnya.
" Kamu di rumah aja ya Yang istirahat, soalnya Bunda juga ga kasih aku bawa kamu kesana, katanya kamu biar istirahat ", sambung Zia meraih telapak tangan istrinya dan mencium cium punggung tangan istrinya.
" Iya ga apa apa kok Yang, kamu bawa mobil sendiri atau dengan Mas Anto ? ", ucap Rahma dengan santai karena ia sudah merasa lelah.
" Aku bawa mobil sendiri aja Yang, biar Mas Anto stand by dirumah selagi aku ga dirumah ", jawab Zia menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
" Ya sudah tapi sholat Ashar dulu dirumah baru boleh jalan lagi susul Bunda ", ucap Rahma mengelus wajah suaminya yang sudah mulai ditumbuhi berewok tipisnya dan Zia pun tersenyum bahagia.
" Yang.. ", rajuk Rahma dengan manja seraya masih memainkan berewok tipis di wajah suaminya.
" Hemmmm, apa sayang.. ?", jawab Zia dengan pandangan kearah depan melihat jalanan.
" Ada pas mulai kuliah semester empat udah kaya gini ", jawab Zia flashback saat kuliah.
" Masa sih, perasaan baru kamu lulus jadi dokter aku perhatikan kamu punya berewok ", ucap Rahma dengan heran sambil mengingat saat mereka kuliah.
" Kan aku yang punya berewok Yang.. ", ucap Zia menyadari istrinya yang sok tahu, namun Rahma tertawa karena dengan tingkahnya berhasil membuat suaminya gemas.
" Lagian kamu dulu mana perhatian lihat wajah aku ada berewok apa enggak, kamu aja ga cinta sama aku cuma PHP aja ", ucap Zia menyindir istrinya tentang masa lalu mereka.
" Lho, kan kamu terus terang aja sama aku pas kamu selesai KOAS, jadi aku mana peduli sama wajah pacar orang ", ucap Rahma sudah siap siap pasang tameng untuk berdebat dengan suaminya.
__ADS_1
" Sayang.. sudah berkali kali aku bilang sama kamu, dulu aku ga pernah punya pacar, kalau cari cari yang terbaik iya, tapi ga ketemu ketemu tetap aja nyantolnya sama kamu, kalau ga percaya tanya aja Mas Anto tuh yang sering jadi tempat curhat aku dari dulu ", ucap Zia dengan senyum senyum melihat istrinya wajahnya memerah karena mengingat masa lalu mereka.
" Ya bukan PHP kamu, tapi memang aku belum cinta mau gimana ?", ucap Rahma seraya mencubit kecil tangan suaminya.
" Dulu aja, takut kalau ketemu aku, sekarang aja, ketagihan.. ", ucap Zia semakin semangat menggoda istrinya.
" Lho ngapain takut ketemu kamu, biasa aja ah.. ", ucap Rahma dengan heran karena suaminya tahu jika dulu Rahma selalu menghindar darinya.
" Aku tahu kok Yang, dulu kamu takut kalau aku ajak ketemuan, soalnya kalau aku ajak ketemuan pasti aku ngajak kamu nikah terus", ucap Zia berhasil membuat istrinya terpenganga karena tahu tentang perasaannya saat itu.
" Aku heran aja sama kamu, dulu diajak nikah menghindar terus, sekarang malah ketagihan ", ucap Zia yang semakin sengit menggoda istrinya dan Zia malah mendapatkan cubitan gemas dilengannya.
" Awwww.. Yang.. sakiit Yang ", gerang Zia dengan senang berhasil menggoda istrinya hingga membuat Rahma kesal padanya.
" Biar.. habis nyebelin jadi orang ", gerutu Rahma dengan wajahnya sudah mulai cemberut.
" Serius Yang, sakit banget cubitan kamu kaya disuntik jarum ", ucap Zia makin senang membuat istrinya kesal.
" Ga sakit dong kalau cuma kaya disuntik ", ucap Rahma dengan sengit kesal tapi membuat Zia makin senang menggoda istrinya.
" Di suntik aku baru ga sakit Yang, kaya kamu malah senang aku suntik terus akhirnya sampai ada hasil suntikan aku di dalam perut kamu ", ucap Zia membuat istrinya makin gemas hingga memukul lengan suaminya lumayan keras dengan perasaan kesal dan malu, bahkan Zia tidak peduli menggoda istrinya didepan Mas Anto.
" kamu makin nyebelin, awas aja nanti ", gerutu Rahma dengan melirik sinis ke arah suaminya tapi Zia malah senang melihat istrinya seperti itu.
" Kamu makin cantik dan menggoda Yang kalau lagi kesal sama aku seperti itu", gelak tawa Zia seraya merangkul bahu istrinya dan mencium pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.