Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
buka segel


__ADS_3

Suasana rumah baru yang hanya baru mereka berdua yang menghuni rumah sebesar itu, sunyi hanya ada suara televisi yang dibiarkan masih menyalah sedangkan pemiliknya sedang asik bercumbu dengan istrinya memberi tanda merah dileher dan didada berkulit putih istrinya.


"Yang... sekarang ya.. ", ucap Zia tepat ditelinga istrinya meminta izin untuk meminta hak sepenuhnya sebagai suami.


" Pelan pelan ya Kak.. ", pinta Rahma dengan gugup tidak bisa menolak hanya bisa pasrah dengan keadaan.


" Tenang saja istriku, aku akan melakukannya dengan lembut, sakitnya hanya semenit kamu tahan sebentar ya ", bujuk Zia agar istrinya tidak tegang dan tubuh Zia sudah ada diatas tubuh istrinya.


Rahma sempat meneteskan air matanya karena menahan rasa sakit akibat segel kesucian telah berhasil dibuka oleh suaminya sendiri. Dan mereka berdua pun berlanjut dengan urusannya. Setelah mereka selesai dengan urusannya, Rahma segera masuk ketoilet untuk membersihkan diri. Zia yang melihat bercak darah diseprei putih ranjangnya segera mengganti seprei tersebut dengan seprei yang baru dengan penuh senyum bangga bahwa hanya dirinya yang bisa menaklukan sang primadona.


Didalam toilet Rahma membersihkan dirinya, dan melihat sedikit darahnya. Rahma menangis pelan didalam kamar mandi, ia menahan suara tangisnya agar suaminya tidak mendengarnya. Ia menangis bukan karena rasa sakit yang sudah menghilang, tapi karena bingung dan sedih sudah merelakan dirinya untuk orang yang ia tidak cintai, namun ia teringat akan sosok Yoga mantan kekasihnya.


Rahma tidak peduli dengan bercak darahnya yang pasti membekas diseprei ranjangnya. Ia sengaja tidak memperdulikannya agar suaminya melihat bahwa ia telah memberikan segalanya yang selama ini ia jaga untuk suaminya walaupun ia belum bisa mencintai suaminya sendiri sampai detik ini.


Rahma melihat dirinya dicermin westafel dalam toilet, betapa terkejutnya ia melihat banyak stempel merah dileher hingga didadanya. Ia masih bersyukur karena setiap keluar rumah ia memakai hijab dan baju yang menutup auratnya hingga cap stempel itu tidak akan terlihat kecuali oleh suaminya sendiri.


Rahma segera mencuci wajahnya agar wajah sembabnya karena habis menangis tidak terlihat oleh suaminya. Rahma keluar dari toilet dan langsung menghampiri ranjang dengan wajah agak sedikit pucat.


"Yang.. kamu baik baik saja ?", tanya Zia panik melihat wajah istrinya pucat.

__ADS_1


" Ga apa apa Yang, mungkin karena aku kaget aja", jawab Rahma yang meringkuk dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Sepreinya sudah diganti ya Yang ?", tanya Rahma karena melihat seprei ranjang yang tadinya berantakan karena aksi mereka berdua sekarang sudah rapi dan noda tertinggal pun sudah tidak ada lagi.


" Iya, sudah aku ganti, seprei yang tadi jangan dicuci, disimpan saja, supaya menjadi bukti kita berdua dan kamu bisa menuntut keinginan kamu padaku karena kamu telah memberikan segalanya untukku", ucap Zia sambil memeluk istrinya dan meletakan kepala istrinya didada bidangnya.


"Terimakasih kamu sudah memberikan segalanya yang selama ini kamu jaga untuk aku seutuhnya", ucap Zia dalam pelukan istrinya dan mengecup puncak kepala istrinya, yang kali ini ia bisa mengusap rambut istrinya.


Malam semakin larut mereka tertidur dengan lelap dalam pelukan. Rahma yang merasa nyaman berada dalam pelukan suaminya. Zia yang terbangun lebih dulu melihat wajah istrinya yang tertidur. Zia tersenyum melihat wajah istrinya yang tertidur dengan wajah yang tetap cantik dan natural. Zia mengecup kening istrinya lalu beranjak bangun dari ranjangnya dan bergegas ketoilet untuk mandi karena akan melaksankan sholat shubuh berjamaah dimesjid yang tidak jauh dari rumah mereka.


Rahma yang terbangun karena mendengar suara dari arah toiletnya langsung bergegas berdiri merapikan tempat tidur mereka. Dan turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi serta teh manis hangat untuk suaminya.


Zia yang sudah rapi akan bersiap ke mesjid ketika keluar kamar melihat istrinya sedang sibuk di dapur.


"Iya hati hati Yang ", jawab Rahma dan meraih tangan kanan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.


" Assalamualaikum ", ucap Zia.


" Waalaikumsalam ", Rahma menjawab salam suaminya dengan senyuman

__ADS_1


Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi Rahma kembali kekamar dan masuk kedalam toilet untuk mandi. Setelah selesai mandi ia mendapati suaminya sudah diatas ranjang sedang sibuk dengan gadgetnya.


" Lho ga kedengeran Yang, tau tau sudah disitu", sapa Rahma pada suaminya yang belum melihat istrinya hanya mengenakan handuk dari toilet.


"Kamu keasikan mandi jadi ga denger Yang aku masuk", jawab Zia dan baru sadar ketika matanya mengarah pada istrinya yang hanya mengenakan handuk sedang mengambil pakaian didalam lemari mereka.


" Yang, mau kemana ?, ga usah dipakai bajunya Yang, langsung kesini aja ! ", pinta Zia yang menggoda istrinya karena masuk kedalam toilet lagi untuk memakai baju dan siap siap sholat subuh.


" Apa sih Yang, aku mau sholat dulu, tadi kan perintah kamu begitu", jawab Rahma setelah berpakaian rapi dan berwudhu dan Zia hanya tersenyum genit pada istrinya.


Setelah melaksanakan sholat, Rahma kembali menaiki ranjangnya karena permintaan suaminya. Mereka berdua pun melaksanakan urusan mereka berdua dipagi hari.


Setelah urusan mereka selesai. Rahma menuntun suaminya untuk sarapan pagi. Rahma melayani suaminya dengan baik. Mereka sarapan sambil membicarakan tentang keberangkatan honeymoon mereka berdua besok pagi.


"Oh iya Yang, Ayah meminta aku untuk membuka Rumah Sakit, tujuan Ayah agar aku bisa punya Rumah Sakit sendiri, aku berharap kamu resign dari kantor kamu supaya kamu bisa bantu aku membangun dan mendirikan Rumah Sakit yang aku impikan", ucap Zia pada istrinya yang masih sambil menikmati sarapan mereka.


Rahma yang mendengar hal itu dari suaminya merasa nafasnya menjadi sesak dan makanan yang sedang ia makan terasa tersangkut ditenggorokannya, lalu dengan sigap ia mengambil gelas yang sudah berisikan air mineral.


Pernyataan Zia seperti itu tidak bisa dijawab oleh Rahma, selera sarapan pagi Rahma pun langsung hilang, ia merasa sedih jika suaminya mengharapkan untuk resign dari pekerjaan yang ia impikan selama ini dan cita citanya dalam berpolitik.

__ADS_1


Rahma menutupi kesedihannya dari suaminya. Ia hanya terdiam. Zia yang merasa ada sesuatu dibalik kediaman istrinya langsung mengalihkan pembicaraan karena khawatir merusak suasana mereka berdua.


HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.


__ADS_2