
Malamnya setelah pulang kerja, Zia menghubungi Rahma lewat pesan chat.
*chat Rahma(R) dengan Zia(Z)*
Z : Dek, lagi apa?
Lama Rahma menjawab karena sedang dalam perjalanan pulang. Dan Zia pun menunggu jawaban dari Rahma dengan gelisah.
R : baru sampai rumah Kak.
Z : ya sudah kamu istirahat dulu, tapi kabar kamu baik-baik aja kan?
R : iya Alhamdulillah baik
Z : besok kakak tidak ada jam praktek, jadi kakak mau antar jemput kamu ya..
Rahma pun kembali lama menjawab chat dari Zia, semenjak ada Yoga, Rahma memang lebih sulit untuk dihubungi, sahabatnya pun merasa akhir-akhir ini Rahma sulit untuk dihubungi, terkadang kirim chat pun tidak dibaca, dibacanya setelah tiga hari chat itu terkirim. Terkadang pun jawabannya singkat. Tapi mereka memakluminya jika Rahma super sibuk. Apalagi melihat foto-foto diakun medsos Rahma yang share sedang kunjungan kerja sampai ke luar negeri.
Zia masih menunggu jawabannya,
*chat Rahma(R) dengan Zia(Z)*
Z : dek, kok ga dijawab-jawab? besok kakak antar jemput boleh?
R : iya terserah kakak kalau tidak merepotkan kakak.
Z : dari dulu kakak tidak pernah merasa di repot kan sama kamu. Kakak senang kalau selalu didekat kamu. Ok besok pagi kakak kerumah kamu.
__ADS_1
Pagi-pagi Zia sudah datang kerumah Rahma untuk mengantar Rahma bekerja. Diperjalanan Zia banyak bertanya, karena mendengar info kalau Rahma punya atasan baru yang ganteng dan baik hati dan plusnya masih single. Kondisi ini yang membuat Zia pun sebelumnya merasa khawatir. Dan diperjalanan pun Zia seperti mengintrogasi Rahma soal sikap atasan barunya seperti apa terhadapnya, namun Rahma pun menjawabnya dengan santai agar tidak melukai Zia dan membuat Zia khawatir. Sampai dikantor ada obrolan yang sedikit membuat Rahma semakin sedih.
"Dek, jangan buka hatimu untuk pria lain, izinkan nama kakak yang terukir dihatimu, I love you", ucap Zia memohon sebelum Rahma membuka pintu mobil karena mau turun. Rahma hanya terdiam, karena Rahma tidak mau membohongi perasaannya jika Rahma tidak pernah mencintai Zia seperti layaknya seorang laki-laki dengan perempuan, tapi Rahma menyanyangi Zia sebatas menganggap Zia sebagai kakaknya. Zia pun sadar, Rahma hanya menjawab dengan tersenyum tapi senyum dengan raut wajah yang sedih, artinya Rahma belum bisa membalas cintanya.
Rahma sedih karena Rahma sangat khawatir tidak akan pernah bisa mencintai Zia, dan pastinya akan melukai Zia luar dalam, sebab saat ini Rahma sedang mulai jatuh cinta dengan sang atasan yaitu Yoga, begitupun Yoga sebaliknya. Maka dari itu bukan hanya sibuk Rahma sering kali susah dihubungi, tapi karena Rahma ingin menghindar dari Zia serta sahabatnya Fajri dan Marisya yang berusaha menyatukan Zia dengan Rahma.
Dikantor, Yoga meminta Rahma untuk menghendle akun pribadi medsosnya untuk mensharing info kegiatan pekerjaan ataupun kegiatan pribadi. Rahma pun tidak keberatan karena sikap profesional sebagai sekretaris pribadi Yoga.
Hari ini Yoga melihat ada yang tidak biasa ketika melihat Rahma, Rahma seperti tidak ceria seperti biasanya, raut wajahnya yang sedih, membuat seisi ruangan menjadi terdiam. Yoga pun karena merasa khawatir menyapanya.
"Rahma, kamu kenapa? tumben hari ini mentari pagi sejak tadi tidak bersinar", gombal Yoga yang membuat riuh tawa seisi ruangan termasuk OB yang sedang beres-beres ruangan.
"Aku baik-baik aja Kak, eh Mas.. cuma aku kaya harus minum vitamin", jawab Rahma dengan menutupi masalahnya.
Tapi disitu, Alam merasakan ada yang berbeda dengan Rahma, dan Alam yakin Rahma sedang ada masalah. Alam sudah menganggap Rahma seperti Adiknya, apalagi perbedaan usia Alam dengan Rahma terpaut sangat jauh.
Untuk makan siang ini Yoga meminta Rahma menyiapkan untuk makan siang Yoga diruangan saja, karena sedang banyak pekerjaan dikhawatirkan jika makan siang diluar terlalu banyak makan waktu. Rahma pun menyiapkan makan siang untuk Yoga di ruangan. Dan anak buah Yoga yang lainnya meminta izin untuk makan siang di kantin, karena sambil ingin menghirup udara diluar.
" Lho makan siang kamu mana?", tanya Yoga heran.
"Aku izin makan siang dikantin ya Mas.. ", pinta Rahma kepada Yoga. Yang sebetulnya Yoga ingin Rahma menemaninya makan.
" Ya sudah kamu makan dulu dikantin, nanti kalau sudah selesai kamu segera kembali temani aku makan disini", jawab Yoga dengan nada agak sedikit kecewa.
"Baik Mas, kalau gitu aku take way saja makanan dikantin supaya bisa makan bersama dengan Mas Yoga", ucap Rahma yang mengambil jalan tengah.
" Oke Mas tunggu", jawab Yoga dengan tersenyum puas.
__ADS_1
Akhirnya Rahma menuju ke kantin dengan Alam dan Hesti, sepanjang perjalanan menuju kantin Rahma sudah tidak nyaman karena selalu digoda oleh para pejabat iseng yang lewat papasan dengan Rahma. Sampai dikantin pun para pejabat yang iseng berebut mau membayarkan makanan yang dipesan Rahma. Rahma pun cuek dengan tingkah mereka, dan Rahma merasa tidak peduli siapa yang membayar makanan pesanannnya.
"Tolong sampaikan terimakasih ya Mas sama yang bayarin aku", ucap Rahma kepada penjual gado-gado yang dipesannya.
Sambil menunggu gado-gado Rahma dibuat, Rahma curhat dengan Alam dan Hesti, karena Rahma merasa kedua orang ini sudah seperti kakaknya sendiri.
" Bang, gw gimana nih sama si dokter(julukan Zia), doi nyuruh gw belajar mencintainya, tapi gw kan ga pernah cinta sama dia, dan akan pernah bisa karena dia udah gw anggap kaya abang gw sendiri kaya elu gini bang", curhat Rahma kepada Alam.
Alam pun tau dilema yang dirasakan Rahma, salah satunya tidak bisa menyakiti Zia yang membuat Rahma merasa berhutang budi.
"Ya mau ga mau lu harus cepat-cepat jujur sama doi, daripada doi nunggu lu sia-sia, malah lebih menyakitkan", jawab Alam yang memberi solusi untuk Rahma.
" kayanya filling gw si Yoga naksir berat juga sama elu neng (sebutan Rahma dari Alam)", tambah Alam yang membuat Rahma langsung berubah tersenyum tersipu malu.
"ah masa bang, darimana lagi lu tau, jangan sok tau deh bang", jawab Rahma dengan senyum-senyum malu. Alam pun bisa memahami kalau Rahma pun menaruh hati pada Yoga.
" lha orang doi nanya ke gw, tanya-tanya tentang lu, lu udah punya gandengan apa belum, soalnya doi ga percaya kalau lu belum punya calon, masa iya cewej secakep lu ga punya cowok", jelas Alam kepada Rahma sambil mengunyah makanan.
"Haah, serius lu bang Mas Yoga ngomong begitu, terus lu jawab apa bang, awas lu bang bilang gw sama si dokter", ucap Rahma tanpa titik dan koma dan mengoyang-goyangkan pundak Alam. Alam yang sedang makan pun kualahan dengan ekspresi kegirangan Rahma.
" buset dah, gw lagi makan neng, bisa kesendek gw nih lu goyang-goyangin gw", gerutu Alam dan Rahma langsung meminta maaf karena ulahnya tidak sadar kalau Alam sedang makan dan sambil tertawa, "iya maaf bang ak khilaf".
"seneng sih seneng tapi ga begitu juga sampai buat gw hampir keselek", jawab Alam sambil tertawa karena berhasil membuat Rahma berbungan-bunga lupa akan kesedihannya dengan masalah Zia.
" Bang, tapi lu ga bilang kan gw lagi sm si dokter?", tanya Rahma penasaran dengan jawaban Alam.
"Ya enggak lah, gw bilang lu jomblo sejati, lagian hubungan lu sm si dokter aja ga jelas masa gw bilang lu ada hubungan, terus doi sampai bingung nanya lu normal apa enggak neng hahaha", jawab cepat Alam agar Rahma segera pergi meninggalkannya supaya Alam bisa makan gado-gadonya dengan nikmat dan tenang.
__ADS_1
" Ed dah lu bang, bilang gw jomblo sejati, ga sopan juga tuh Mas Yoga bilang gw ga normal, dia belum tau gw bang hahaha", sahut Rahma yang sambil berdiri dari tempat duduknya karena makanan yang dipesannya sudah jadi dan Rahma pun pamitan dengan Alam sambil mengucapkan terimakasih atas infonya.
JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR YA