
Siang hari mulai menegakan cahaya matahari, Rahma dan Mba Ira turun menginjakan kakinya dihalaman garasi rumah dari mobil yang dibawa oleh supir pribadi untuk Rahma. Mba Ira dan Mas Anto menurunkan barang belanjaan yang tadi pagi dibeli oleh mereka di supermarket.
"Mba... tolong tuntun saya ke kamar Mba..", ucap Rahma lemas memegang kening kepalanya karena merasa pusing dan pandangannya menjadi kuning hingga tubuhnya mengeluarkan keringat dingin saat turun dari mobil.
" Lho Bu.. Ayo Bu aku tuntun.. ", ucap Mba Ira memapah Rahma, dan Mas Anto tidak berani menyentuh nyonya mudanya jadi ia hanya siap siap dibelakang tubuh Rahma sambil berjalan pelan memastikan nyonya mudanya selamat sampai ditempat kasurnya, lalu Mas Anto keluar dari kamar tuan dan nyonya itu.
" Mas Anto tolong buatkan teh manis yang hangat ya Mas buat ibu", pinta Mba Ira yang panik melihat nyonya mudanya sudah pucat dan mba Ira sudah dengan sigap memijat kepala Rahma.
Mas Anto membawakan teh manis hangat untuk Rahma dan Mba Ira meminumkannya untuk Rahma.
"Sudah Mba ..terimakasih... aku ga apa apa, aku cuma mau tidur.. ", pinta Rahma dengan suara yang masih lemas meminta Mba Ira untuk melepaskan pijatannya, dan meminta untuk ditinggal sendiri karena ingin istirahat.
*chat mba Ira (I) dengan Zia(Z)*
I : Pak, tadi ibu sama saya habis dari supermarket di depan sana, diantar Mas Anto, tapi pas sampai rumah turun dari mobil tiba tiba ibu kepalanya pusing dan pucat. Minta dituntun ke kamar. Langsung dibuatkan teh manis hangat sama Mas Anto, terus ibu minta ditinggal mau istirahat katanya.
Z : Ibu kecapekan aja itu Mba, tolong ditengok tengok ya Mba ke kamar. Saya pulang siang ini.
I : Iya Pak pasti. O iya Pak, tadi di supermarket ibu ketemu teman bapak kayanya, namanya Wiliam, tapi ibu ga ladeni Pak, malah dikerjain sama ibu, Wiliam minta no ibu, tapi sama ibu dikasih nomor bapak. Wiliam itu juga takut pas tau ibu istri bapak. Cuma gitu aja kok Pak.
Z : Iya Terimakasih Mba, tolong jagain istri saya ya Mba.. saya cuma ga rela laki laki lain menatap wajah istri saya.
I : iya baik Pak.
" Kenapa ga suruh pakai cadar aja si Ibu, biar ga ada yang liat mukanya kecuali si Bapak, beres kan !! Lagian emang enak punya istri cakep, malah ribet sendiri !!", gerutu Mba Ira di dapur dan didengar oleh Mas Anto.
"Ngedumel aja sih Mba... bagus aku punya istri ga cakep cakep amat ya Mba.. hahahaha", saut Mas Anto dengan tertawa pelan khawatir mengganggu nyonya mudanya terganggu istirahatnya.
" Awas entar aku aduin ke istrimu, dibilang istrimu ga cakep", ledek Mba Ira pada Mas Anto.
" Owalah tukang ngadu", gerutu Mas Anto dan Mba Ira pun tertawa lepas karena berhasil membuat Mas Anto menutup mulutnya.
__ADS_1
***
Sudah hampir sejam Rahma tidur dengan pulas. Mba Ira sedari tadi hanya bolak balik masuk ke kamar nyonya mudanya, untuk memastikan keadaan nyonya mudanya baik baik saja.
Mba Ira merasa lega karena tuannya sudah tiba dirumah, sebab Mba Ira sedang khawatir dengan keadaan istri tuannya. Mba Ira yang sedang di dapur melihat tuannya langsung masuk ke kamar menengok istrinya.
Zia melihat istrinya sedang tidur menutup pintu kamar pelan pelan karena khawatir suara pintu membangunkan tidur istrinya. Zia melepaskan atributnya dan mengganti pakaian rumah. Dan Zia langsung mengukur suhu tubuh istrinya dengan menyentuh kening istrinya, berbaring diranjangnya disamping sang istri. Zia yang merasa lelah hari ini pun tertidur pulas di samping istrinya.
Saat siang hari menjelang sore, Rahma terbangun dari tidurnya, ia merasa sudah baikan. Ketika membuka matanya Rahma melihat suaminya sudah ada disampingnya. Ia mendekati suaminya dan membelai berewok tipis suaminya yang sudah mulai tumbuh walaupun sering dicukurnya.
Zia yang merasa terusik tidurnya karena belaian lembut sang istri tepat diwajahnya, ia pun berhasil mengagetkan istrinya, dengan menangkap basah tangan istrinya membelainya.
"Haap !!, dapat tangan nakal !!", seru Zia menangkap basah tangan istrinya tepat dipipinya. Tapi tangan itu malah kena hukuman dicium lembut oleh Zia. Dan Rahma hanya tersenyum menahan tawanya karena ulah suaminya.
" Kak... aku sayang kamu.. ", ucap Rahma lirih.
" Apalagi aku, lebih sayang sama kamu", balas Zia dengan mendekap tubuh istrinya.
" Ga tau aku juga, tau tau pas turun dari mobil kepalaku pusing dan pandanganku kuning gitu", jelas Rahma yang mengeluhkan keadaannya untuk konsultasi gratis pada dokter dihadapannya.
"Oh.. kamu darah rendah itu Yang.., aku ambil alat alat aku dulu buat pastikan diagnosanya, tunggu disini, aku ke mobil dulu", ucap Zia beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar menuju mobilnya untuk mengambil alat alat perkakas kedokterannya.
Saat Zia kembali ke kamarnya membawa alat alat perkakas kedokterannya, Rahma masih merebahkan badannya ditempat tidur, sebab karena perintah suaminya untuk tetap diam ditempat.
" Coba Yang tarik nafasnya dalam dalam", ucap Zia dengan meletakan stetoskop dibagian dada dan perut istrinya.
" Enak ya Yang punya dokter pribadi", ucap Rahma ketika suaminya sedang memeriksanya.
" Ya enak lha, jadi ga ada alasan yang bisa sentuh kamu cukup aku, apalagi periksa sampai raba raba seperti ini ", ucap Zia dengan mengeluarkan alat tensi darah dan memasangkan alat tensi itu dilengan istrinya.
" Iya, terus kalau kamu dapat pasien cewek masih single, enak dong bisa raba raba", ucap Rahma dengan cemberut.
__ADS_1
"Semua dokter punya sumpah kode etik sayangku, jadi kamu jangan cemburu kalau aku dapat pasien cewek masih muda, dan yang perlu kamu ketahui secantik apapun perempuan diluar, seseksi apapun perempuan diluar, aku cuma bisa nafsu sama kamu", penjelasan Zia yang membuat istrinya berbunga bunga.
Dan Rahma tersenyum sambil memandang wajah suaminya.
" Rendah sekali Yang tensinya, kamu harus istirahat dan makan yang teratur, kamu kurang tidur pastinya", ucap Zia sambil menulis sesuatu dikertas, dan ternyata ia menulis nama obat untuk istrinya.
"Ya gimana ga kurang tidur, diajak olah raga malam terus, biasanya dulu aku tidur jam 9 malam, sekarang semenjak menikah tidur bisa jam 12 malam", keluh Rahma pada suaminya, namun Zia hanya tersenyum.
" Kan diajak olah raga diajak sehat Yang", ledek Zia membalas keluhan istrinya.
" Sebentar ya Yang, aku mau minta tolong Galih belikan obat untuk kamu", ucap Zia keluar kamar. Dan tidak lama Zia kembali ke kamar.
"Besok peresmian Rumah Sakit, kamu mau ikut apa istirahat aja dirumah Yang?", ucap Zia mendekap tubuh istrinya dan sambil memijat pelan kepala istrinya.
" Ikut lha Yang", ucap Rahma memelas.
"Ya udh hari ini kamu full istirahat biar besok kamu fit", perintah Zia.
" Tapi olah raga malamnya libur dulu kan dok?", ledek Rahma pada suaminya.
" Itu kegiatan wajib !!, ga boleh libur kalau mau sehat !!, tapi durasinya dipercepat !!", Zia membalas ledekan istrinya dan mereka berdua tertawa, karena gemas ia mengeratkan pelukan pada istrinya.
" Tadi kamu ketemu Wiliam ? dia chat aku, dipikirnya ini nomor kamu", tanya Zia dengan santai.
"Iya, aneh banget bisa ketemu dia di supermarket tadi, dia ngenalin aku tapi aku sudah lupa wajah dan namanya karena hampir 10 tahun ga ketemu, dia minta nomor aku, ya aku kasih aja nomor kamu, tapi katanya kamu pernah janjian sama Wiliam waktu di NY ?", ucap Rahma menikmati pijatan lembut suaminya.
" Iya waktu aku ke NY aku janjian ketemu sama dia, karena aku tahu dia kuliah disana, dia ga berubah dari dulu, masih tetap playboy", cerita Zia mengenang pertemanan dengan Wiliam.
"Bagus tadi kamu sama Mba Ira, jadi dia ga mencuri kesempatan dalam kesempitan sama kamu", ucap Zia sudah mulai jurus posesifnya.
" Oh iya malam ini katanya Wiliam mau mampir kesini, nanti kamu ga usah keluar ya Yang, kamu dikamar aja, biar aku yang temui dia", perintah Zia yang tidak mau dibantahkan.
__ADS_1
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. JANGAN LUPA JUGA VOTE AUTHOR YA. TERIMA KASIH.