
Pagi yang cerah secerah hati dua insan yang saling mencintai Zia dan Rahma. Mereka menghabiskan sarapan dan lalu keluar rumah berjalan kaki sambil berolah raga mengelilingi komplek perumahan tempat tinggalnya.
Zia dan Rahma bertegur sapa dengan para tetangga dengan ramah. Mereka berjalan penuh rasa bahagia sambil berpegangan tangan dengan udara pagi yang sejuk mendinginkan kalbu yang cemas.
" Yang, anak pertama kamu mau jenis kelamin laki laki atau perempuan, biar nanti kita program, tapi ya kembali lagi hanya Allah yang menentukan kita hanya berencana sedikit " , tanya Zia diselingi nasehat untuk istrinya.
" Aku pengennya anak pertama itu laki laki Kak ", jawab Rahma penuh harap.
" Ya sudah mulai sekarang kita atur pola makan kita supaya jenis kelamin anak kita laki laki ", ujar Zia lembut seraya mengayunkan gandengan tangannya mengikuti alunan angin.
*****
" Menunggu beberapa hari lagi aku akan dapatkan dirimu Sayang.. Jangan khawatir Sayang aku pun sudah tidak sabar.. pelukanku lebih hangat daripada dia.. Kau akan menikmatinya nanti malam Sayang... ", ucap Wiliam dengan percaya diri seraya memandangi foto wajah Rahma yang ia letakan di meja kerja singgasananya.
*****
Zia dan Rahma sudah ada di kursi belakang dalam mobil mewahnya yang dikendarai Mas Anto. Sepanjang perjalanan Zia tidak melepaskan genggaman tangannya dijemari istrinya.
__ADS_1
Ketika Rahma sedang bersenda gurau dengan suaminya, Rahma merasakan sakit dikepalanya dan telinganya berdengung dengan suara yang menyakitkan gendang telinganya. Ia menahan sakitnya menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya.
Zia dan Mas Anto panik seketika karena mendengar Rahma teriak dalam kesakitan di kepalanya dengan menutup kedua telingannya dengan kedua telapak tangannya.
" Yang.. Istighfar Yang.. !!", Zia membantu istrinya mengucapkan kalam Allah, dan Zia melantunkan Ayat ayat Allah.
Ketika Zia melantunkan beberapa ayat ayat Allah, Rahma terlihat lebih baik dan tenang. Zia tidak melepaskan pelukannya pada istrinya.
" Yang, apa yang kamu rasakan ? kamu kenapa ?", tanya Zia berusaha tenang.
" Sakit kepalaku Kak, telingaku berdengung sakit ", Rahma mengadukan pada suaminya dengan meringis.
" Mas.. kita ke kantor dulu, saya mau scan kepala istriku, habis itu kita pulang kerumah ya ", perintah Zia kepada Mas Anto tanpa panjang lebar ia akan segera menindak secara medis istri tersayangnya.
Setelah sampai Rumah Sakit Astra, Zia menindak dengan tangannya sendiri segala metode pemeriksaan pada istrinya dengan dibantu oleh para staff, saat hasil pemeriksaan keluar, Zia menganalisa dan mendiagnosa berdasarkan hasil dari berbagai pemeriksaan dan scan pada kepala Rahma.
" Yang.. berdasarkan hasil scan Alhamdulillah tidak ada masalah di kepala kamu kok, kamu hanya perlu istirahat", ucap Zia duduk di pinggir tempat tidur tepat disamping dimana istrinya sedang merebahkan tubuhnya seraya membaca dan menganalisa print out hasil scan.
__ADS_1
" Terus kenapa dengan aku ?", tanya Rahma pada suaminya.
" Nanti aku akan diskusi dengan dokter ahli syaraf nanti sore aku minta beliau datang kerumah, kamu jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik buat kamu, aku ga mau istriku kenapa kenapa ", ujar Zia dengan menatap serius wajah dan kedua mata indah istrinya dengan menangkupkan telapak tangannya diwajah istrinya.
Zia dan Rahma kembali pulang menuju rumah. Zia menyandarkan kepala istrinya dipangkuannya. Ia sangat mencintai Rahma, mantan sahabatnya yang kini telah ia nikahi dan saat ini menjadi kekasih halalnya yang merupakan tanggung jawabnya seutuhnya.
Siang hari dengan sinar matahari yang tidak malu malu memancarkan sinarnya. Zia dan Rahma sudah berada di kamar pribadi mereka berdua. Zia melepaskan kemeja dan celana levis yang ia kenakan tadi saat ke Rumah Sakit Astra, ia mengganti dengan pakaian rumah, begitu juga Rahma mengganti pakaian formalnya dengan pakaian rumah.
Zia melihat istrinya melepaskan pakaiannya dihadapannya membuatnya Zia menelan ludahnya. Zia mengampiri istrinya diatas tempat tidur saat Rahma sudah merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
" Yang.. sebentar ya Yang.. ", bisik Zia lembut ditelinga Rahma seraya mencumbunya.
" Aaaaaaaa sakit Kak..... !!! Kepalaku sakiiiiiiit !!! Telingaku Kak .. !!!", teriak Rahma karena merasakan sakit dikepalanya yang luar biasa.
Zia melantunkan adzan tepat ditelinga istrinya sebelah kanan secara bergantian dengan telinga sebelah kiri. Dengan sekejab sakit kepala yang menyerang Rahma hilang seketika setelah Zia melantunkan adzan tepat ditelinga istrinya. Dengan tidak berpikir panjang, Zia mengambil kesimpulan dibenaknya jika sakit kepala yang dialami istrinya adalah non medis, ia menatap sendu wajah istrinya, seraya menangkupkan telapak tangannya di wajah istrinya.
Tetapi Zia lebih dulu akan konsultasi dengan salah satu dokter ahli syaraf nanti sore sebagai penentuan hasil diagnosa untuk Rahma. Apakah harus terapi secara medis atau nonmedis.
__ADS_1
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH