
Beduk berbunyi melepaskan alam sunyi dikeheningan malam, Adzan Subuh berkumandang meninggalkan hari yang gelap gulita.
Zia terbangun mendengar suara Adzan Subuh berkumandang. Ia langsung menyiapkan air hangat di kamar mandi, agar ia dan istrinya bisa mandi wajib sebelum menunaikan sholat Subuh.
" Yang.. bangun yuk.. kita mandi dulu.. terus kita Subuhan.. ", ucap Zia membangunkan istrinya yang terlihat sangat pulas tidurnya.
" Iya... ", jawab Rahma dengan berusaha membuka kedua matanya karena masih mengantuk.
" Ayo Yang, langsung ke toilet, kita mandi dulu jangan ditunda tunda ", ucap Zia membantu istrinya bangun dari tempat tidur dan menuntunnya ke kamar mandi.
Setelah Zia dan Rahma selesai mandi dan berwudhu mereka melaksanakan sholat Subuh berjamaah berdua. Setelah melaksanakan sholat Zia membaca dan melantunkan ayat suci Al Quran rutin setiap melaksanakan sholat Subuh, sembari membaca ia juga menghapalkannya.
Rahma mendengarkan suaminya mengaji dengan kondisi masih lemas efek dari mimpi semalam yang membuatnya benar benar ketakutan, ia merebahkan kepalanya dipangkuan suaminya, dan Zia sambil membaca Al Quran ia juga mengusap kepala istrinya yang meletakan kepalanya dipangkuan pahanya. Rahma merasakan tenang berada disisi suaminya, apalagi mendengarkan suara merdu suaminya ketika melantunkan ayat suci Al Quran.
Setelah selesai melantunkan ayat suci Al Quran, Zia melihat istrinya yang kembali terlelap dalam pangkuannya. Zia meraih bantal dan meletakan pelan pelan kepala istrinya diatas bantalnya. Dan Zia menemani istrinya, karena tidak tega meninggalkannya dengan kondisi istrinya seperti itu. Dan tak lama Rahma membuka matanya.
" Yang.... ", suara Rahma memanggil suaminya dengan manja dan meraih memeluk suaminya.
" Iya istriku tercinta.. istriku tersayang.. ", jawab Zia dengan lembut dan tersenyum membuka pelukan untuk istrinya yang sangat ia cintai.
" Semalam kamu mimpi buruk apa sampai kamu seperti itu ?", tanya Zia dengan lembut seraya memeluk dan mencium kening istrinya.
" Buruk sekali Kak, aku melihat Wiliam berhasil masuk ke kamar ini dan melihatku dengan kamu sedang tertidur, lalu dia membiusku dan berusaha memperkosaku Kak, aku jijik sekali ", cerita Rahma dengan sedih karena tidak ingin mengingatnya lagi.
" Apaaaaa !!! Sial !! beraninya dia masuk ke mimpi kamu dan menyentuh kamu !!! ", teriak Zia dengan amarah yang tidak bisa ia terima walaupun hanya mimpi, sorot matanya menajam dengan semburan api yang menyalah.
" Lalu manusia bejat itu sampai benar benar menodai kamu ga ? ", sambung Zia yang benar marah tidak terima walaupun hanya sekedar mimpi.
" Ya ampun Kak, Alhamdulillah kamu segera bangunkan aku jadi di dalam mimpiku iblis itu tidak berhasil menodai aku ", ucap Rahma dengan sedih karena tidak sanggup mengingatnya lagi.
" Alhamdulillah ", ucap Zia merasa lega mendengarnya seraya mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Kak aku mau ke dapur dulu, mau buat sarapan buat kamu ", ucap Rahma beranjak dari tempat tidurnya.
" Ga usah Yang, kan ada Mba Ira, kamu istirahat dulu sama aku disini ", bujuk Zia agar istrinya tidak kelelahan.
" Katanya dulu sebelum nikah kamu senang kalau makan masakan aku ? ", ucapan Rahma menggoda suaminya.
" Iya tapi aku pengen supaya kamu ga kelelahan wahai istriku ", rayu Zia seraya mencubit hidung mancung istrinya.
" Iya tapi aku tidak mau mengalahkan tugasku sebagai istri Kak, rasanya kan beda kalau aku masaknya pakai cinta ", goda Rahma meluluhkan suaminya.
" Ya sudah kamu masak yang enak buat aku seorang ya.. tapi kalau kamu sudah merasa lelah istirahat ya ", ujar Zia mengizinkan istrinya masak di dapur.
Melihat istrinya keluar kamar, Zia pun mengikutinya keluar kamar, tetapi Zia menunggu istrinya memasak seraya menonton informasi berita dari televisi di ruang tengah.
Setelah masakan selesai, Rahma merapikan dan menata sarapan yang dimasaknya untuk suaminya. Rahma dibantu mba Ira merapikan dapur setelah ia memasak.
" Suamiku sayang.. ayo kita sarapan dulu ", ucap Rahma duduk di kursi meja makan seraya menuangkan nasi goreng favorite suaminya di piring untuk Zia.
" Waaah.. Yang.. bisa gemuk aku kalau begini Yang.. ", puji Zia pada Rahma dan Rahma pun tersenyum dan pipinya menjadi memerah karena malu.
" Kamu kenapa Galih, pegang piring aja kok bisa jatuh ke lantai ", gerutu Mba Ira dengan nada terheran dengan Galih seraya membersihkan puing pecahan beling pada piring yang dijatuhkan anak semata wayangnya yaitu Galih.
" Kenapa Galih ?, kok pegang piring kaya mau pegang cewek aja gerogi gitu ", saut Zia meledek Galih dari meja makan karena mendengar Mba Ira ngomel kepada anaknya sebab telah menjatuhkan piring ke lantai.
" Maaf Pak, tangan Galih licin ", jawab Galih dari dapur dengan sopan meminta maaf pada Zia karena telah membuat kegaduhan pagi pagi.
" Makanya jangan pegang pegang cewek dulu ya Lih jadi pegang piring bisa gerogi ", ledek Zia lagi pada Galih dan disambung ledekan di dapur oleh Mba Ira.
" Kaya kamu ga pegang pegang cewek aja dulu ", bisik Rahma menggoda suaminya yang sedang menikmati sarapan.
" Emang iya kok, kamu ingat ga ? aku pegang pegang kamu aja pas aku sudah selesai KOAS saat pertama kali bilang mau lamar kamu.. masih sekolah mana berani aku pegang pegang kamu Yang ", jawab Zia berusaha membuktikan omongannya.
__ADS_1
" Memangnya teman kamu cewek aku aja ?!", ucap Rahma dengan jutek.
" Adalah, kamu ini gimana, ya teman aku cewek cuma dua dari dulu, kamu sama Marisya ", ucap Zia dengan polos, semakin membuat istrinya gemas dengannya.
" Assalamualaikum.. Pagi Pak Bu.. ", sapa Mas Anto ketika masuk keruang makan menyapa langsung Tuan dan Nyonya mudanya karena baru saja tiba dari rumahnya.
" Waalaikumsalam Mas.. sarapan dulu yuk Mas ", Zia dan Rahma menjawab salam Mas Anto dan menawarinya sarapan dan Zia merasa terselamatkan dari kedatangan atas pertanyaan istrinya yang aneh aneh.
" iya terimakasih Pak Bu, kita hari ini ngantor ga Pak ?", tanya Mas Anto yang masih berdiri tegak dihadapan Tuan dan Nyonya mudanya.
"Sepertinya agak siangan dikit Mas ", jawab Zia sambil mengunyah makanan.
" Ok baik Pak ", saut Mas Anto.
" Sarapan dulu aja sini Mas kita sambil ngobrol ngobrol ", ujar Rahma menawari Mas Anto sarapan satu meja dengan mereka.
" Iya Bu terima kasih, saya sarapan dibelakang aja Bu, enak anginnya sepoy sepoy hehehe ", jawab Mas Anto dengan malu malu.
" Saya permisi dulu Pak Bu ", ucap Mas Anto dengan sopan dan melangkahkan kaki menuju dapur dan dipersilahkan oleh Rahma dan Zia.
****
" Wah pagi pagi udah ngajakin perang nih Mba.. ?", tegur Mas Anto saat masuk ke dapur melihat Mba Ira sedang membersihkan pecahan beling di dapur.
" Tuh Galih cari kerjaan aja pagi pagi ", gerutu Mba Ira seraya membuang pecahan beling yang dikumpulkan ketempat sampah.
" Aneh tadi Mas, aku kaget pas liat Bu Rahma kaya bukan beliau, wajahnya pucat kaya mayat, makanya aku kaget piring ditangan lepas, tapi pas aku liat lagi Ibu wajahnya biasa lagi", cerita Galih berbisik dengan Mas Anto ketika Mas Anto duduk dimeja belakang karena akan sarapan bersama dengan para asisten rumah.
" Iya saya juga lihat keadaan Bu Rahma seperti itu pas naik mobil saat mau pulang dari rumah Tuan Law, ada yang tidak beres dengan Bu Rahma saat ini ", cerita Mas Anto berbisik dengan Mba Ira dan Galih di dapur sedang sambil menikmati sarapan karena teringat kejadian semalam.
" Semalam juga Mas, tumben Galih lihat ada bayangan hitam besar lewat pas Galih habis sholat Tahajud ", sambung Galih terheran karena merasa ada yang aneh sekarang ini.
__ADS_1
" Dikasih tau ke Bapak nanti Mas.. Takutnya Ibu ada yang ngerjain ", ucap Mba Ira memberi masukan Mas Anto.
HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH