Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
Masa SMA bab 3


__ADS_3

Keluarga mereka saling mengenal dan tahu akan persahabatan mereka berempat. Persahabatan mereka didukung oleh keluarga masing-masing karena mereka yang kompak dan saling membantu serta menyayangi.


"Alhamdulillah sampai My Queen di istana kamu", ucap Zia yang sudah mengantar Rahma sampai depan gerbang rumah Rahma.


" Terimakasih ya kak, kakak ga mampir dulu istirahat?", tanya Rahma yang menawarkan Zia istirahat dulu dirumahnya karena melihat keadaan Zia yang seperti kurang sehat.


"Nanti aja next time Dek, kakak rasanya mau cepat sampai rumah", jawaban Zia yang menolak halus tawaran Rahma.


" oke, tapi kakak hati-hati ya, kalau sudah sampai rumah kabari aku", ucap Rahma yang begitu khawatir dengan Zia karena sedang tidak sehat.


"pasti sayangku", jawab Zia dengan senyum lemas tapi sempat-sempatnya masih meledek Rahma.


Esok harinya, karena hari libur Zia mengabarkan ke para sahabatnya kalau Zia sedang demam tinggi, sehingga tidak bisa ikut serta acara pelantikan peserta Paskibra yang baru. Dan para sahabatnya pun langsung datang kerumah Zia dan ikut tidak hadir dalam acara sekolah tersebut. Mereka lebih memilih melihat dan menjenguk sahabat kesayangannya yang sedang sakit, dan tidak lupa Rahma membuatkan bubur ayam untuk Zia dengan memakai wadah rantang khusus untuk Zia.


" Zia,, ada anak-anak Bunda ini datang", panggil Bunda Zia dan sambil mengetuk kamar Zia karena para sahabatnya datang dan sedang didepan pintu kamar Zia.


"Kak bukain kak, aku bawa bubur ayam nih, kata Bunda kakak belum makan", ucap Rahma menunjukan kedatangannya sambil melirik Bundanya Zia.


" Nak, kamu ga lagi tidurkan? menantu Bunda bawa bubur ayam nih buat kamu suaminya", timpalan Bunda lagi yang senang juga bercanda dengan mereka, dan yang lainnya pun hanya tertawa dengan celotehan ledekan Bunda. Tapi dibalik itu semua, Bunda memang bermimpi dan menginginkan kalau suatu saat Rahma menjadi menantunya nanti, sebab Bunda tau akan sifat dan prilaku baik Rahma yang memang katagori menantu ideal jika dijadikan menantu.


"Haah Bunda jangan aku yang jadi menantu Bunda,, nanti Bunda kewalahan,,hehehe !!", sahut Rahma yang tidak pede disebut Bundanya dengan sebutan menantu.

__ADS_1


" berisik aja nih, ga liat apa ada orang sakit di disini", gerutu Zia yang sambil membukakan pintu kamarnya, Bunda pun tertawa sambil meninggalkan mereka.


Suasana kamar yang luas dan nyaman, yang betul-betul menunjukan bahwa Zia anak dari keluarga tajir. Di dalam kamar Zia, banyak foto-foto mereka digantung, termasuk foto Rahma yang paling banyak.


"Makin banyak aja nih foto Rahma digantung", celetuk Fajri saat melihat-lihat kamar Zia.


" Lu kesini mau lihat foto-foto apa liat gw.. ?", gerutu Zia terhadap Fajri.


"Dua-duanya boleh", jawab Fajri meledek dan tertawa keras.


" Udah ini berdua ga dimana-mana senangnya ribut", protes Marisya.


"Kak Zia gimana sekarang, masih demam?", ucap lembut Rahma sambil menyentuh kening Zia memastikan suhu Zia.


"Ceeh.. memang sebelumnya lu udah minum obat penurun demam kali lu Kak, gombal aja lu ke Rahma", celetuk gemas Marisya pada Zia.


" Bisa sakit juga ya lu Boy calon dokter?", ledek Fajri lagi yang ingin suasana menghibur.


"*****, yang udah dokter beneran aja masih bisa sakit Boy, lu kata dokter bukan manusia", jawaban Zia tak kalah sengit.


" Kan dokter katanya malaikat Boy", ledek Fajri lagi.

__ADS_1


"sudah-sudah kalian ini masih aja kaya Tom And Jarry", celetuk Marisya yang pusing dengar kakak kelasnya ini yang saling sahut bahan ledekan dan melirik ke Fajri memberi kode untuk tidak bercanda dulu karena Zia sedang sakit.


" Kak, aku buat bubur ayam, kata Bunda dari kemarin kakak belum makan apa-apa", ucap Rahma yang perhatian.


"Ayo kak buka mulutnya ya", tambah Rahma lagi yang berniat menyuapi Zia.


" Wuih langsung sehat ini kalau disuapin yayang", ledek Fajri yang membuat wajah Rahma memerah, dan Zia pun melirik ekspresi wajah Rahma yang memerah.


"Apa sih Kak Fajri, bilang aja Kak Fajri iri pengen aku suapin juga", jawaban Rahma yang membuat Fajri senyum-senyum malu.


Setelah mereka memastikan bahwa keadaan Zia baik-baik saja walaupun masih terlihat pucat, mereka berpamitan untuk pulang. Tapi Zia malah bersiap-siap juga.


" Lho..lho.. lu mau kemana Boy?", tanya Fajri pada Zia yang terheran melihat Zia malah ikut bersiap-siap.


"Mau antar Rahma pulang lha", jawab Zia santai dan merasa khwatir jika Rahma pulang sendiri nanti diganggu lelaki brengsek dijalan.


" Ya Ampun kak, aku bisa pulang sendiri kok, kakak lagi sakit, lebih baik istirahat, jangan buat aku semakin merasa bersalah nantinya", ucap Rahma yang tidak habis pikir karena rasa peduli dan perhatiannya Zia terhadapnya, tapi Rahma belum paham dan sadar sebesar apa sayang Zia terhadapnya melebihi sayangnya dari sekedar sahabat.


" Ya udah Boy, nanti gw antar Marisya dulu, baru nanti gw antar Rahma biar lu ga khawatir bini lu diganggu orang dijalan", ucap Fajri yang tidak ingin membuat temannya cemas dan sadar Fajri hanya membawa kendaraan motor yang hanya bisa memboncengi satu orang saja.


Sebab dimana pun Rahma berada pasti menjadi pusat perhatian para lelaki. Walau sedang berduaan dengan Zia, para lelaki pun tak segan-segan dan berani melihat dan menatap wajah Rahma yang cantik seperti wajah wanita dari Timur Tengah.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE AND VOTING AUTHOR YA, AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TERIMAKASIH.


__ADS_2